Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Seruit Battle Tak Sekadar Lomba Masak, tapi Lestarikan Kuliner Lampung

Bandar Lampung
Seruit Battle Tak Sekadar Lomba Masak, tapi Lestarikan Kuliner Lampung
Seruit Battle dalam rangka memeriahkan Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, Jumat (28/8/2026). (Dok. Diskominfotik Pemprov Lampung).
  • Seruit, hidangan ikan air tawar dengan sambal dan pelengkap seperti tempoyak atau mangga, memiliki nilai sosial sebagai tradisi nyeruit untuk mempererat kebersamaan masyarakat Lampung.
  • Seruit Battle pada Festival Krakatau XXXV 2026 di Bandar Lampung diikuti 31 tim dari instansi, BUMN, BUMD, dan organisasi wanita untuk memperkenalkan serta melestarikan kuliner Lampung.
  • Festival Krakatau 2026 berlangsung 25–30 Agustus sebagai wadah promosi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Lampung, dengan kolaborasi berbagai pihak untuk mengenalkan seruit lebih luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Seruit salah satu makanan khas Lampung berbahan utama ikan sungai atau ikan air tawar seperti ikan patin, baung, belida, gurame, atau ikan mas. Ikan tersebut umumnya dibakar atau digoreng, kemudian disantap bersama campuran sambal dan bahan pelengkap.

Hal membuat seruit khas adalah cara menyantap dan mencampurnya. Ikan biasanya dicampur atau disantap bersama sambal, kemudian bisa ditambahkan tempoyak (fermentasi durian), mangga, atau bahan lain sesuai kebiasaan keluarga dan daerah.

Ragam campuran bahan tersebut menciptakan cita rasa seruit pedas, gurih, asam dan segar. Menariknya, seruit bukan sekadar hidangan, tetapi juga punya nilai sosial dan budaya yang kuat bagi masyarakat Lampung.

  1. 1. Ternyata ada makna kebersamaan

    Ilustrasi Silaturahmi (Pexels.com/RDNE Stock Project)
    Ilustrasi Silaturahmi (Pexels.com/RDNE Stock Project)

    Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza mengatakan, dalam budaya Lampung, nyeruit atau kegiatan menyantap seruit bersama memiliki makna kebersamaan dan silaturahmi. Seruit secara tradisional kerap dihidangkan ketika keluarga atau masyarakat berkumpul.

    Karena itu, ada ungkapan yang cukup dikenal "Nyeruit" berarti makan bersama. Dalam praktiknya, orang berkumpul, menikmati ikan dan sambal secara bersama-sama, sambil berbincang.

    Jadi, seruit memiliki fungsi sosial sebagai media mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Hal itu juga yang mendasari digelarnya Seruit Battle dalam rangka memeriahkan Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, Jumat (28/8/2026).

  2. 2. Seruit Battle diikuti 31 tim

    Seruit Battle di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, Jumat (28/8/2026). (Dok. Diskominfotik Pemprov Lampung).
    Seruit Battle dalam rangka memeriahkan Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, Jumat (28/8/2026). (Dok. Diskominfotik Pemprov Lampung).

    Wulan menjelaskan, Seruit Battle diikuti 31 tim yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah, BUMN, BUMD, hingga organisasi wanita. Menurutnya, Seruit Battle tidak sekadar menjadi ajang perlombaan memasak atau meracik sambal seruit, tapi menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan kuliner khas Lampung.

    "Melalui kegiatan ini kita tidak hanya mengadakan perlombaan, tetapi menghadirkan kembali tradisi dan budaya Lampung dalam bentuk yang lebih kreatif, menarik, dan relevan dengan perkembangan pariwisata serta ekonomi kreatif saat ini," katanya.

    Wulan berharap, Seruit Battlet digelar bukan sekadar mencari atau memilih juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat mengangkat seruit Lampung sebagai bagian dari kebanggaan dan identitas masyarakat Lampung.

  3. 3. Jadi rangkaian acara Festival Krakatau 2026

    Pembukaan Festival Krakatau di Anjungan Dermaga Eksekutif Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan, Sabtu (27/8/2022). (IDN Times/Rohmah Mustaurida).
    Pembukaan Festival Krakatau di Anjungan Dermaga Eksekutif Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan, Sabtu (27/8/2022). (IDN Times/Rohmah Mustaurida).

    Wulan menambahkan, Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting untuk mempromosikan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, serta berbagai potensi yang dimiliki Provinsi Lampung. Ajang digelar 25-30 Agustus 2026 ini digelar sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Provinsi Lampung.

    Menurutnya, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kolaborasi seluruh pihak diperlukan agar potensi budaya dan kuliner Lampung semakin dikenal luas.

    "Kita ingin seruit tidak hanya dikenal di Lampung, tetapi juga semakin dikenal secara nasional, bahkan hingga mancanegara. Salah satu caranya melalui Festival Krakatau," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More