Santri di Lampung Olah Limbah Laundry, Pakai Teknologi Alami

- Santri PPTQ Assahil di Lampung Timur belajar mengolah limbah laundry melalui teknologi constructed wetland dalam pendampingan dosen dan mahasiswa Itera.
- Constructed wetland meniru proses lahan basah dengan media filter, mikroorganisme, dan tanaman untuk menurunkan pencemar; sistemnya memakai tipe subsurface flow serta free-water floating.
- Santri memantau pertumbuhan tanaman dan kualitas air setelah praktik pembuatan sistem, sementara Itera menyerahkan buku panduan agar pesantren dapat mengembangkan pengolahan limbah mandiri.
Lampung Timur, IDN Times - Air limbah dari aktivitas laundry menjadi salah satu persoalan yang perlu dikelola di lingkungan pesantren. Di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Assahil, Desa Tanjung Wangi, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, para santri kini belajar mengolah air limbah tersebut dengan pendekatan yang meniru proses alami.
Pembelajaran tersebut dikenalkan oleh Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Dosen Program Studi Teknik Lingkungan dan Rekayasa Tata Kelola Air Itera bersama mahasiswa KKN Rekognisi 2026 mendampingi santri mempraktikkan teknologi constructed wetland untuk pengelolaan air limbah.
1. Santri kenalan dengan teknologi yang meniru cara alam

Tim Dosen dan Mahasiswa Itera kenalkan cara mengolah air limbah pada Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Assahil Lampung Timur (dok.humas/itera) Ketua Tim PkM, Indah Yusliga Sari Purba menjelaskan, constructed wetland merupakan salah satu pendekatan Nature-based Solutions yang meniru proses alami lahan basah untuk mengolah air limbah. Teknologi ini memanfaatkan media filter, mikroorganisme, dan tanaman tertentu untuk membantu menurunkan kadar pencemar dalam air limbah.
“Constructed wetland mengajak kita mempelajari cara alam bekerja dalam mengolah air. Teknologi ini dapat menjadi alternatif pengolahan air limbah yang sederhana dan sesuai untuk diterapkan di lingkungan pesantren,” ujar Indah.
2. Santri diajak praktik langsung

Illustrasi Siswa Sekolah (Pexel/Chu Chup Hinh) Dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Itera, Erlina Kurnianingtyas, kemudian memperkenalkan prinsip kerja dan komponen constructed wetland kepada para santri. Materi tersebut dilanjutkan dengan praktik pembuatan sistem pengolahan air limbah.
Menariknya, para santri tak hanya mendapat materi dari tim PkM dan mahasiswa, tetapi juga mempraktikkan penyusunan media dan penanaman vegetasi adaptif, seperti bunga tasbih dan eceng gondok.
"Sistem yang digunakan terdiri atas tipe subsurface flow dan free-water floating untuk mengolah air limbah dari aktivitas laundry pesantren," jelasnya.
Erlina berharap, kegiatan tersebut menjadi langkah awal penerapan pengelolaan air limbah yang lebih berkelanjutan di lingkungan pesantren.
3. Santri belajar pantau kualitas air dan sistemnya

Ilustrasi air (Pexel/Hussain Naushad) Lebih lanjut, Erlina mengatakan pembelajaran tidak berhenti setelah sistem dibuat. Santri juga belajar memantau kinerja constructed wetland melalui pengamatan pertumbuhan tanaman dan pengukuran kualitas air limbah. Menurutnya, praktik tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi sederhana dalam pengelolaan lingkungan.
"Untuk mendukung keberlanjutan program, tim PkM menyerahkan buku panduan constructed wetland kepada PPTQ Assahil. Panduan tersebut dapat digunakan santri dan pengelola pesantren untuk memahami serta mengembangkan sistem pengolahan air limbah secara mandiri," katanya.
Kegiatan bertema Pemberdayaan Santri melalui Implementasi Teknologi Constructed Wetland dalam Pengelolaan Air Limbah Menuju Pesantren Berkelanjutan ini merupakan bagian dari PkM Skema Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran Tahun 2026 dan didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera.





















