Apa Penyebab Prevalensi Stunting Lamsel Terbaik se-Lampung?
Prevalensi stunting Lampung Selatan mencapai 10,4 persen menurut SSGI 2024, lebih rendah dari rata-rata Lampung 15,9 persen, didukung konvergensi intervensi sejak kehamilan hingga 8.000 HPK.
Semester I 2026 mencatat capaian layanan tinggi, termasuk ASI eksklusif 97,35 persen dan pemantauan anak bawah dua tahun 100 persen, dengan dukungan 1.067 posyandu serta 6.017 kader.
Pemkab akan memperbarui data keluarga berisiko, memperkuat layanan dan pendampingan gizi demi target 9 persen pada 2029; Lampung Selatan menerima penghargaan kinerja terbaik tingkat provinsi 2026.
Lampung Selatan, IDN Times - Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting Lampung Selatan tercatat sebesar 10,4 persen. Itu lebih rendah dibandingkan prevalensi Provinsi Lampung yang berada pada angka 15,9 persen.
Sementara berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), prevalensi stunting di Lampung Selatan juga menunjukkan tren penurunan, dari 2 persen pada 2022 menjadi 1,2 persen pada 2026.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan Devi Arminanto, konvergensi program menjadi bagian penting untuk memastikan intervensi penanganan stunting berjalan secara terintegrasi, berbasis data dan tepat sasaran.
Pendekatan tersebut tidak hanya menyasar balita yang mengalami stunting, tetapi dilakukan sejak masa kehamilan hingga periode 8.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Alhasil, pencegahan dapat dilakukan sejak awal dan pendampingan keluarga terus berlanjut pada setiap tahapan tumbuh kembang anak.
1. Indikator pelayanan

Ilustrasi stunting (pexel) Dari sisi pelaksanaan program, sejumlah indikator pelayanan pada Semester I 2026 juga menunjukkan capaian yang baik. Pemberian ASI eksklusif mencapai 97,35 persen, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) 99,23 persen, pemantauan pertumbuhan anak bawah dua tahun 100 persen.
Begitu juga, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri 98,65 persen, serta pendampingan keluarga oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebesar 96,6 persen. Meski demikian, Devi menyebut masih terdapat sejumlah indikator yang perlu terus diperkuat.
Penguatan dilakukan hingga tingkat keluarga dengan dukungan 1.067 posyandu dan 6.017 kader kesehatan. Kolaborasi juga melibatkan Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS), perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, TPK, TP PKK, serta berbagai unsur masyarakat.
2. Perkuat pemutakhiran data keluarga berisiko stunting

ilustrasi data penjualan dan grafik (pexels.com/ RDNE Stock project) Devi mengatakan, ke depan, Pemkab Lampung Selatan akan memperkuat pemutakhiran data keluarga berisiko stunting dan sasaran 8.000 HPK, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, memperkuat pendampingan keluarga dan edukasi pemenuhan gizi, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga tren penurunan stunting sekaligus mendukung pencapaian target prevalensi stunting Lampung Selatan sebesar 9 persen pada 2029.
3. Diganjar penghargaan

Lampung Selatan meraih penghargaan sebagai kabupaten/kota yang berkinerja baik dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Provinsi Lampung Tahun 2026. (Dok. Pemkab Lamsel). Upaya Kabupaten Lampung Selatan mencegah dan mempercepat penurunan stunting mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Lampung Selatan meraih penghargaan sebagai kabupaten/kota yang berkinerja baik dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Provinsi Lampung Tahun 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Lampung dan diterima oleh Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar.
"Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas kinerja pemerintah daerah dalam memperkuat pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui konvergensi program lintas sektor, mulai dari intervensi kesehatan hingga pendampingan keluarga," kata Devi.
Penyerahan piagam penghargaan berlangsung dalam rangkaian Rapat Koordinasi Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Lampung di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Rabu (30/9/2026).
Dalam rapat koordinasi tersebut, para wakil kepala daerah se-Provinsi Lampung juga membahas evaluasi pelaksanaan program, capaian indikator intervensi gizi spesifik dan sensitif, penguatan koordinasi lintas sektor, serta langkah strategis untuk mencapai target penurunan stunting di masing-masing daerah.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















