Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG: Awal Musim Hujan Lampung 2026/2027 Diprediksi Mundur

Bandar Lampung
3 min read
BMKG: Awal Musim Hujan Lampung 2026/2027 Diprediksi Mundur
ilustrasi musim hujan (pexels.com/Thgusstavo Santana)
  • BMKG memprediksi awal musim hujan Lampung 2026/2027 mundur akibat El Nino sangat kuat, dengan indeks Nino 3.4 September 2026 mencapai positif 2,63.

  • Musim hujan di 12 zona Lampung datang tidak serentak, dari Oktober hingga akhir Desember 2026; lima zona mundur sekitar dua dasarian dan tujuh lainnya lebih dari tiga dasarian.

  • Meski sifat hujan diprakirakan normal dengan puncak Januari–Maret 2027, BMKG mengingatkan risiko kekeringan dan karhutla serta meminta sektor terkait menyesuaikan mitigasi dan perencanaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Awal musim hujan 2026/2027 di sejumlah wilayah Lampung diprediksi mundur. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung, Indra Purna, mengatakan dinamika iklim menjadi tantangan bagi berbagai sektor di Lampung. Mulai dari pertanian, sumber daya air, hingga mitigasi bencana hidrometeorologi.

"Informasi prakiraan iklim bukan lagi sekadar data sektoral, melainkan sebuah instrumen navigasi dan sistem peringatan dini yang sangat krusial," ujar Indra saat konfrensi pers, Rabu (30/9/2026).

Berdasarkan analisis BMKG, indeks Nino 3.4 pada September 2026 berada di angka positif 2,63. Kondisi tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

BMKG memprakirakan fenomena El Nino masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini turut memengaruhi waktu datangnya musim hujan di Lampung.

  1. 1. Musim hujan tak serentak

    ilustrasi musim hujan (pexels.com/saide)
    ilustrasi musim hujan (pexels.com/saide)

    Indra menjelaskan, Provinsi Lampung terbagi menjadi 12 Zona Musim (ZOM). Pembagian tersebut tidak mengikuti batas administratif kabupaten/kota karena satu zona dapat melintasi beberapa wilayah.

    Wilayah yang diprakirakan paling cepat memasuki musim hujan adalah ZOM Lampung 10, meliputi Lampung Barat dan Pesisir Barat.

    Selanjutnya, ZOM Lampung 11 diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian III Oktober 2026. Wilayah ini mencakup Lampung Barat dan sebagian Pesisir Barat.

    "Sementara sejumlah wilayah lainnya baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026," ujarnya.

    BMKG juga memprakirakan sebagian wilayah Lampung baru memasuki awal musim hujan pada dasarian III Desember 2026 atau akhir Desember.

    Kondisi tersebut membuat awal musim hujan di Lampung tidak berlangsung secara bersamaan. Waktu peralihan musim bergantung pada karakteristik masing-masing zona musim.

  2. 2. Rata-rata mundur hingga tiga dasarian

    ilustrasi musim hujan (pexels.com/Roman Castillo)
    ilustrasi musim hujan (pexels.com/Roman Castillo)

    Indra mengatakan, pengaruh El Nino membuat awal musim hujan di Lampung diprakirakan mundur dibandingkan kondisi normal.

    "Sebanyak lima zona musim diprakirakan mengalami kemunduran sekitar dua dasarian. Sedangkan tujuh zona musim lainnya mengalami kemunduran lebih dari tiga dasarian," ucapnya.

    Meski awal musim hujan mengalami kemunduran, sifat musim hujan 2026/2027 di Lampung secara umum diprakirakan berada pada kategori normal.

    Indra menyatakan, adapun puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.

    "Sebanyak enam zona musim diprakirakan mengalami puncak hujan pada Januari, tiga zona pada Februari, dan tiga zona lainnya pada Maret," jelasnya.

  3. 3. Warga diminta waspadai kekeringan hingga karhutla

    ilustrasi karhutla
    ilustrasi karhutla (unsplash.com/Emma Renly)

    Indra menyebut, kemunduran awal musim hujan juga menjadi perhatian dalam mitigasi bencana. BMKG mengingatkan potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla), terutama pada September hingga Oktober.

    Di sektor pertanian, prakiraan tersebut dapat digunakan untuk menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tanaman dengan siklus lebih pendek, serta mengantisipasi organisme pengganggu tanaman.

    Sementara sektor sumber daya air perlu mengoptimalkan pemanfaatan air hujan, meningkatkan kapasitas tampungan air, mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta memperbaiki pengelolaan drainase.

    "Informasi yang baik hanya akan berdaya guna jika ditindaklanjuti dengan aksi nyata dan kolaborasi yang bersinergi," jelasnya.

    BMKG juga mendorong pemerintah daerah dan masyarakat menggunakan informasi prakiraan musim sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko, terutama menghadapi perubahan pola hujan sepanjang 2026 hingga awal 2027.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More