Aki Alat Pantau Krakatau Dicuri, Bukan Pertama Kali Ada Jejak Kaki di Lokasi

Jejak kaki ditemukan di Stasiun Lava 93, sisi utara Gunung Anak Krakatau, setelah delapan aki alat pemantauan hilang; jejak mengarah ke pantai namun tak ditemukan pelaku atau barang.
Dua boks aki dibongkar dan delapan aki berbobot 20–30 kilogram per unit hilang. Badan Geologi menduga pengangkutan kemungkinan melibatkan lebih dari satu orang, tanpa kepastian jumlahnya.
Kehilangan alat pemantauan juga terjadi di Pulau Rakata pada Februari 2026. Kini hanya sensor seismik dan CCTV beroperasi dengan dua aki cadangan, sementara penggantian penuh ditunda.
Lampung Selatan, IDN Times — Jejak kaki ditemukan di sekitar Stasiun Lava 93, sisi utara Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, setelah delapan aki peralatan pemantauan hilang.
Temuan ini menguatkan dugaan adanya aktivitas orang di sekitar lokasi alat pemantauan.
Pencurian tersebut juga bukan kejadian pertama yang dialami Badan Geologi. Sebelumnya, peralatan pemantauan yang dipasang di Pulau Rakata juga dilaporkan hilang pada Februari 2026.
1. Awal mula kecurigaan

ilustrasi kaca pembesar dan pensil warna pada grafik tren keuangan yang menyoroti pertumbuhan penjualan (pexels.com/Proyek Saham RDNE) Pengamat Gunung Api Badan Geologi, Deny Mardiono, mengatakan jejak kaki ditemukan ketika tim melakukan pengecekan peralatan pada 27 September 2026.
Awalnya, tim menduga peralatan di Stasiun Lava 93 tidak berfungsi akibat erupsi GAK pada 16 September 2026. Namun, setelah tiba di lokasi, tim menemukan dua boks penyimpanan aki telah dibongkar.
"Ketika kita sudah sampai di peralatan di stasiun tersebut, ternyata beda. Yang kita temukan, yang kita pikirkan itu beda," katanya, Selasa (29/9/2026).
2. Jejak kaki ditemukan dan mengarah ke pantai

Pos pemantauan GAK di Lampung Selatan. (Dok. Pos Pantau GAK) Deny mengatakan, tim menemukan jejak kaki di sekitar lokasi peralatan. Jejak tersebut kemudian diikuti untuk mencari kemungkinan keberadaan orang yang diduga mengambil aki.
Namun, pencarian tidak menemukan orang maupun barang yang berkaitan dengan dugaan pencurian tersebut.
"Kalau kita menduga baru saja. Karena jejak-jejak kakinya pun baru kelihatan. Kemarin juga sempat kita ikutin jejak-jejak kakinya, barangkali mereka sembunyi di pinggir pantai atau di mana, ternyata gak ada," ujarnya.
Menurut Deny, jejak kaki tersebut mengarah ke sisi utara GAK atau menuju pantai. "Kalau utara kan di situ Anak Krakatau tidak ada semak belukar, jadi seumpama mereka sembunyi pun juga kelihatan. Jadi mengarahnya tetap ke pantai, ke sisi utaranya peralatan," jelasnya.
3. Delapan aki hilang dari dua boks

Alat pamantau GAK yang hilang. (Dok. Menara pengawas GAK) Di lokasi, tim menemukan dua boks penyimpanan aki dalam kondisi telah dibongkar. Satu boks sebelumnya berisi enam aki, sementara boks lainnya menyimpan dua aki.
Deny menjelaskan total delapan aki yang menjadi sumber daya peralatan pemantauan dinyatakan hilang.
Deny mengatakan, satu aki memiliki bobot sekitar 20 hingga 30 kilogram. Karena itu, ia menduga pengambilan delapan aki kemungkinan melibatkan lebih dari satu orang.
"Kalau mengangkat delapan aki, kemungkinan mungkin lebih dari satu orang," katanya.
Meski demikian, Deny belum dapat memastikan jumlah orang yang diduga mengambil aki tersebut.
4. Pencurian alat pemantauan GAK ternyata bukan pertama kali

Ilustrasi mencuri (IDN Times/Istimewa) Deny menegaskan, kehilangan peralatan pemantauan di kawasan GAK bukan kejadian pertama. Pada Februari 2026, peralatan yang dipasang Badan Geologi di Pulau Rakata juga dilaporkan hilang.
"Waktu bulan Februari itu juga ada pencurian di Pulau Rakata. Jadi di Pulau Rakata kita juga punya pasang peralatan, itu diambil juga," ujarnya.
Informasi pencurian di Pulau Rakata saat itu diperoleh dari seorang pemandu wisata. Badan Geologi kemudian melakukan pemeliharaan dan memasang kembali peralatan agar sistem pemantauan dapat berfungsi.
5. Alat pemantauan andalkan dua aki cadangan

Gambar aktifitas GAK. (Dok. Pemprov Lampung) Hilangnya aki membuat sebagian peralatan pemantauan GAK tidak dapat beroperasi. Aki menjadi sumber daya untuk menghidupkan sensor sekaligus membantu perangkat mengirimkan data ke pos pantau.
Untuk sementara, Badan Geologi hanya memasang dua aki cadangan untuk menghidupkan sensor seismik dan CCTV.
"Yang hanya hidup itu adalah seismiknya sama CCTV. Padahal di situ banyak peralatan kita yang terpasang," kata Deny.
Badan Geologi belum memasang seluruh aki pengganti karena khawatir kembali terjadi pencurian. "Kalau kita pasang lagi dengan baterai yang jumlah yang sama, pasti akan diambil lagi," ujarnya.
6. Sudah pasang CCTV

ilustrasi CCTV (freepik.com/wirestock) Deny mengataka, pihaknya sebelumnya telah memasang stiker yang menandai peralatan tersebut sebagai barang milik negara. CCTV juga telah dipasang, meski perangkat tersebut sempat mengalami kendala.
Ia mengimbau masyarakat dan nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda ikut menjaga peralatan pemantauan GAK.
"Jadi bagi masyarakat atau nelayan yang hidup di sekitar area Selat Sunda atau di Anak Krakatau, mohon bantuannya kita jaga bareng-bareng supaya peralatan ini tetap bisa nyala sehingga data pun juga kembali ke masyarakat," tuturnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















