Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dosen Itera Sulap Kunyit hingga Sambiloto jadi Plester Herbal

Kab. Pringsewu
Dosen Itera Sulap Kunyit hingga Sambiloto jadi Plester Herbal
Ilustrasi bahan obat herbal (pexels.com/ArtHouse Studio)
  • Dosen Teknik Biomedis Itera mengajak Kelompok Wanita Tani Desa Lugusari, Pringsewu, mengolah kunyit, umbi dewa, dan sambiloto menjadi plester herbal.
  • Pelatihan mencakup edukasi perawatan luka dan biomaterial, lalu praktik pengolahan bahan, formulasi, pencetakan, pengemasan, serta menjaga kebersihan produk.
  • Itera menghibahkan alat dan bahan pelatihan kepada Desa Lugusari agar warga dapat melanjutkan pembuatan plester herbal secara mandiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pringsewu, IDN Times - Selama ini, kunyit, umbi dewa, dan sambiloto lebih dikenal sebagai tanaman yang tumbuh di sekitar rumah warga. Di Desa Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung, tanaman lokal tersebut mulai dikenalkan dengan pemanfaatan berbeda, yakni sebagai bahan dalam pengembangan plester herbal.

Inovasi itu diperkenalkan dosen Program Studi Teknik Biomedis Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Bukan sekadar memperkenalkan produknya, masyarakat juga diajak langsung belajar membuat plester herbal dari tahap pengolahan bahan hingga pengemasan.

  1. 1. Warga diajak melihat potensi tanaman di sekitar

    Dosen Teknik Biomedis Itera sedang membuat plester herbal dalam kegiatan pengembangan produk kesehatan
    Dosen Program Studi Teknik Biomedis Institut Teknologi Sumatera (Itera) membuat plester herbal (dok.humas/itera)

    Kegiatan bertajuk Pemberdayaan Kelompok Tani Desa Lugusari melalui Pelatihan Pembuatan Plester Herbal sebagai Alternatif Perawatan Luka Mandiri ini melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Lugusari.

    Tim PkM bersama mahasiswa KKN-17 Rekognisi Teknik Biomedis Itera 2026 terlebih dahulu memberikan edukasi mengenai dasar perawatan luka dan pengenalan biomaterial. Ketua tim PkM, Endah, mengatakan pengembangan wound dressing menjadi salah satu penerapan ilmu Teknik Biomedis yang cukup dekat dengan kebutuhan masyarakat.

    “Kami memanfaatkan biomaterial berbasis pati singkong dan potensi tanaman herbal lokal, yaitu kunyit, umbi dewa, dan sambiloto,” ujar Endah.

    Menurutnya, pemanfaatan bahan tersebut sekaligus mengenalkan peluang pengembangan produk berbasis sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

  2. 2. Bukan cuma melihat, warga langsung praktik bikin plester

    ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Annie Spratt)
    ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Annie Spratt)

    Setelah mendapatkan materi, peserta tidak hanya menjadi penonton. Mereka ikut mempraktikkan pembuatan plester herbal dengan pendampingan dosen dan mahasiswa KKN Teknik Biomedis Itera.

    Prosesnya dimulai dari pengolahan bahan, formulasi, pencetakan, hingga pengemasan. Peserta juga diperkenalkan pentingnya menjaga kebersihan selama proses pembuatan dan penyimpanan produk.

    "Dengan begitu, pelatihan tidak berhenti pada pemanfaatan tanaman herbal saja. Warga juga mendapatkan gambaran mengenai bagaimana bahan alam dapat dikembangkan menjadi produk berbasis biomaterial dengan memperhatikan proses pengolahannya," kata Endah.

  3. 3. Alat dan bahan ditinggalkan agar warga bisa lanjut berkreasi

    ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Katherine Hanlon)
    ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Katherine Hanlon)

    Menurut Endah, Program tersebut juga tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, alat dan bahan yang digunakan selama pelatihan dihibahkan kepada Desa Lugusari.

    Ia berharap, peralatan itu dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri sekaligus mengembangkan keterampilan yang sudah diperoleh selama pelatihan.

    Kepala Desa Lugusari Adi Sutrisno menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, program PkM Itera tidak hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga meninggalkan sarana yang bisa dimanfaatkan masyarakat setelah kegiatan berakhir.

    “Kami mengapresiasi kegiatan ini karena tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga meninggalkan alat dan bahan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk keberlanjutan kegiatan,” ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More