Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ragam Reaksi Siswa di Lampung jika Penjurusan SMA Diadakan Kembali

Ragam Reaksi Siswa di Lampung jika Penjurusan SMA Diadakan Kembali
Ilustrasi ruang kelas (pixabay.com/Sanjiang)
Intinya Sih
  • Pengembalian sistem penjurusan di SMA disambut baik oleh pelajar Anggun (17) karena dapat membantu fokus belajar siswa.
  • Anggun sudah mempersiapkan diri untuk memilih jurusan IPA, karena sesuai dengan minatnya dan rencana melanjutkan kuliah jurusan Farmasi.
  • Hida Diana (16) merasa cemas dengan pengembalian kurikulum penjurusan, karena lebih menyukai kebebasan dalam Kurikulum Merdeka untuk menentukan pilihan belajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Wacana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti bakal mengembalikan sistem kurikulum penjurusan di tingkat sekolah menengah atas disikapi beragama oleh kalangan pelajar di Provinsi Lampung.

Penggantian sistem pembelajaran SMA lebih umum tanpa penjurusan, sejak diterapkannya Kurikulum Merdeka di jenjang sekolah dasar hingga akhir dinilai membatasi kebebasan peserta didik. Namun juga ada yang menganggap kebijakan ini justru membantu dalam menentukan arah kegiatan belajar para siswa.

Lantas, bagaimana tanggapan pelajar di Lampung merespons rencana diberlakukannya kembali sistem penjurusan di tingkat SMA?

1. Penjurusan disebut bantu siswa lebih fokus

Ilustrasi kelompok siswa di kelas (dok. pribadi/Khairatun Amalia)
Ilustrasi kelompok siswa di kelas (dok. pribadi/Khairatun Amalia)

Anggun (17), pelajar kelas 11 di salah satu SMAN Kota Bandar Lampung ini menyambut baik wacana kembali diberlakukannya penjurusan. Menurutnya, sistem kurikulum tersebut bisa lebih fokus membantu kegiatan belajar para siswa.

Selain itu, ketiadaan penjurusan seperti saat ini disebut sedikit membuat siswa mempelajari cakupan materi pelajar yang terlalu luas, sehingga dirasa kurang efisien.

"Kalau selama dua tahun ini, kita semacam diminta aktif mencari dan mengulik pelajar di luar jam sekolah. Jadi kita dituntut untuk lebih eksplore dan mandiri," katanya dimintai keterangan, Jumat (18/4/2025).

2. Pilih jurusan IPA demi lanjut jurusan Farmasi

Biaya Kuliah di IUP Farmasi UGM 2025/2026 (https://programsarjana.farmasi.ugm.ac.id/)
Biaya Kuliah di IUP Farmasi UGM 2025/2026 (https://programsarjana.farmasi.ugm.ac.id/)

Menyongsong rencana kurikulum penjurusan ini, Anggun mengaku sudah mempersiapkan diri bakal memilih jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA), dibandingkan ilmu pengetahuan sosial (IPS) maupun bahasa.

Sebab, mata pelajar Kimia dan Biologi diakui merupakan beberapa pelajar yang digemari olehnya. Selain itu, rencana tersebut juga sejalan dengan niat Anggun saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi nanti.

"Iya, rencana nanti aku mau lanjut kuliah jurusan Farmasi, jadi penjurusan ini cukup membantu saya," imbuhnya.

Lebih lanjut Anggun menyebut sudah cukup siap menyambut kurikulum penjurusan ini nantinya. Terlebih, beberapa waktu terakhir dikatakan pihak sekolah melalui guru kelas mulai mengenalkan sistem ini kepada para siswa. "Sudah, guru sekolah kasih bimbingan gitu, jadi sedikit-sedikit udah ada gambaran soal perubahan kurikulum ini," tambah dia.

3. Harap-harap cemas menanti kurikulum penjurusan

Ilustrasi anak SMA belajar (unsplash.com/@isengrapher)
Ilustrasi anak SMA belajar (unsplash.com/@isengrapher)

Lain cerita datang dari Hida Diana (16), siswa kelas 11 SMA di Kabupaten Pringsewu ini mengaku harap-harap cemas ihwal rencana pergantian kurikulum yang bakal kembali mengadopsi sistem penjurusan tersebut.

Secara pribadi, ia terlanjur nyaman dan lebih setuju sistem pembelajaran Kurikulum Merdeka, dikarenakan masing-masing individu siswa diberikan kebebasan lebih menentukan pilihan dalam kegiatan belajar mengajar.

"Istilahnya kita bebas pilih mana yang mau jadi tujuan dan pelajar mana yang disukai. Jadi kita maunya apa, ingin ke mana itu sudah tersusun mata pelajar primernya," kata dia.

Oleh karenanya, pengembalian kurikulum penjurusan yang sebelumnya telah digantikan Kurikulum Merdeka ini cukup menimbulkan kekhawatiran tersendiri. "Apa gak bikin pusing, siswa-siswi sekarang Gen Z lebih gak mau ribet istilahnya. Ya buat apa bolak-balik (kurikulum) kalau buat percobaan doang," sambung Hida.

4. P5 salah satu keunggulan Kurikulum Merdeka

Ilustrasi menari bersama (feepik.com/freepik)
Ilustrasi menari bersama (feepik.com/freepik)

Di tengah kegalauan itu, Hida tak menampik Kurikulum Merdeka yang diadopsi saat ini memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk gambaran sistem kurikulum penjurusan nantinya. Namun, dikatakan Kurikulum Merdeka punya keunggulan tersendiri, karena dapat menuntun siswa lebih mengeksplorasi diri.

Misalnya, metode Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Kurikulum Merdeka, meski terkadang tak jarang kegiatan di dalamnya membuat siswa lelah tapi bisa memberikan ruang memperkaya pengetahuan dan mengeksplor individu.

"Kalau di penjurusan, aku sendiri memang belum mengalami tapi kalau yang aku lihat dari kakak-kakak kelar dulu memang lebih simple gak banyak projek, tapi siswa seperti kurang bisa eksplor minat dan bakatnya," kata dia.

Terlepas dari gonjang-ganjing rencana pergantian kurikulum ini, ia menyebut telah merencanakan dan mempersiapkan diri bakal memiliki jurusan IPA. "Ini masih sesuai dengan mata pelajaran pilihanku di SMA ini ambilnya kimia, biologi, matematika. Jadi kemungkinan besar ambil IPA biar sejalan," lanjutnya.

5. Pergantian kurikulum diminta kedepankan minat dan bakat siswa

Guru dan murid sedang berdiskusi dengan hangat mengenai sebuah topik. Suasana kelas yang interaktif menciptakan lingkungan belajar yang positif. (pixabay.com)
Guru dan murid sedang berdiskusi dengan hangat mengenai sebuah topik. Suasana kelas yang interaktif menciptakan lingkungan belajar yang positif. (pixabay.com)

Bila pada tahun ajaran baru mendatang Kurikulum Merdeka bakal kembali digantikan kurikulum penjurusan, Hida mengharapkan, sistem pembelajaran bisa meningkatkan minat dan bakat para siswa. Termasuk mendongkrak kualitas pendidikan hingga menunjang kreativitas maupun keterampilan pelajar.

Selain itu, sistem kurikulum yang akan datang juga diminta tetap memudahkan para siswa tatkala melanjutkan pendidikan perguruan tinggi atau memasuki dunia kerja.

"Semoga kebijakan kurikulum yang akan dapat bisa lebih baik lagi sistem dan metodenya dari kurikulum sebelum-sebelumnya," harap Hida kini menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya tersebut.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Tama Wiguna
Martin Tobing
Tama Wiguna
EditorTama Wiguna

Latest News Lampung

See More