Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Prediksi Musim Kemarau 2025, Ini Jadwal Awal dan Puncaknya di Lampung

Prediksi Musim Kemarau 2025, Ini Jadwal Awal dan Puncaknya di Lampung
ilustrasi kemarau (unsplash.com/Fiona Smallwood)
Intinya Sih
  • Musim kemarau 2025 diprediksi lebih singkat, puncaknya Juli-Agustus. BMKG mewanti-wanti risiko kekeringan dan karhutla.
  • ENSO dan IOD dalam fase netral, suhu laut lebih hangat dari normal hingga September 2025. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
  • BMKG Lampung keluarkan rekomendasi untuk petani, sektor pertanian, kebencanaan, kesehatan, dan lingkungan terkait musim kemarau. Perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap Karhutla.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II memprediksi musim kemarau di tahun ini lebih singkat dan puncaknya baru akan terjadi pada Juli-Agustus 2025.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Meteorologi Lampung, Rudi Harianto mengatakan, musim kemarau 2025 mulai berlangsung sejak April dan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung.

"Sama, untuk Lampung diprediksi awal musim kemarau akhir April ini. Kemarau kali ini lebih singkat dan BMKG memprediksi puncaknya berlangsung pada Juni-Agustus 2025," ujarnya, Jumat (18/4/2025).

1. Kekeringan hingga karhutla masih mengintai

Karhutla seluas 350 hektare di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. (Dok. Polda Lampung).
Karhutla seluas 350 hektare di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. (Dok. Polda Lampung).

Meski kemarau tahun ini diprediksi lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah, Rudi mewanti-wanti semua pihak dan masyarakat tidak lengah dalam menyikapi risiko yang masih bisa mengintai terjadi di masa musim kemarau seperti kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebab, kondisi iklim global ENSO dan IOD saat ini dalam fase netral atau tidak ada gangguan besar dari Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia. Kemudian suhu muka laut di wilayah Indonesia lebih hangat dari normal hingga berpotensi mempengaruhi cuaca lokal hingga September 2025.

"Wilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku, termasuk Lampung diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus," katanya.

2. Minta sektor pertanian mitigasi dampak kemarau

Ilustrasi kekeringan. (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)
Ilustrasi kekeringan. (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)

Lebih lanjut musim kemarau tahun ini juga diperkirakan bakal mengganggu sektor pertanian. Oleh karenanya, BMKG Lampung mengeluarkan sejumlah rekomendasi dan mitigasi terhadap para petani.

Mulai dari penyesuaian jadwal tanam sesuai prediksi awal musim kemarau di tiap wilayah, pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, dan optimalisasi pengelolaan air di musim kemarau.

"Wilayah dengan musim kemarau lebih basah, bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, disertai pengendalian potensi hama," ucap Rudi.

3. Potensi pengaruhi sektor kebencanaan dan kesehatan

Ilustrasi kemarau kekeringan (pixabay.com/ThorstenF)
Ilustrasi kemarau kekeringan (pixabay.com/ThorstenF)

Rudi menambahkan, BMKG Lampung juga mengingatkan sektor kebencanaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sehingga perlu dilakukan upaya pembasahan lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air saat masih hujan.

Kemudian pada sektor kesehatan dan lingkungan, masyarakat diminta mewaspadai potensi penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan dan daerah rawan karhutla, serta dampak suhu panas dan kelembapan tinggi bisa mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.

"Kelola pasokan air secara bijak dan efisien demi menjamin keberlanjutan operasional PLTA, sistem irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air bagi kebutuhan masyarakat," imbaunya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
Tama Wiguna
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Lampung

See More