Penuh Haru, Tembakan Salvo Iringi Pemakaman Kedinasan Praka Kori

- Samrah, ibu almarhum Praka Mar Muhammad Kori, mengaku sangat terpukul dan sedih atas kepergian putranya.
- Almarhum Muhammad Kori dikenal sebagai sosok penyayang dan bertanggung jawab terhadap keluarga serta selalu berpamitan sebelum berangkat tugas.
- Kepergian Praka Muhammad Kori meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar dan ibunya hanya bisa ikhlas menerima kenyataan.
Lampung Timur, IDN Times - Jenazah Prajurit Kepala (Praka) Mar Muhammad Kori, salah satu personel Korps Marinir TNI AL menjadi korban bencana tanah longsor di Desa Cisarua, Jawa Barat, dimakamkan secara kedinasan di TPU Desa Kibang, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.
Prosesi pemakaman anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 9/Marinir ini berlangsung khidmat dan diiringi tembakan salvo sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Deretan personel TNI AL berseragam lengkap berdiri tegap, mengiringi prosesi pelepasan terakhir tersebut. Momen paling mengharukan terjadi saat penurunan jenazah ke liang lahat, diiringi tembakan salvo dan penghormatan pasukan yang dipimpin langsung oleh Komandan Upacara.
Isak tangis haru keluarga dan kerabat tak terbendung, menyatu dengan suasana khidmat penuh penghormatan institusi kepada almarhum Praka Muhammad Kori.
1. Ibu almarhum mengaku terpukul

Samrah, ibu almarhum Praka Mar Muhammad Kori, mengungkapkan kesedihan mendalam atas kepergian putranya. Ia mengaku sangat terpukul saat pertama kali menerima kabar duka tersebut.
“Sedih sekali. Semalaman enggak bisa tidur, sekeluarga,” ujarnya dimintai keterangan pascaprosesi pemakaman di TPU setempat.
2. Sosok penyayang dan bertanggung jawab

Samrah melanjutkan, almarhum Muhammad Kori merupakan anak kedua di keluarganya. Ia dikenal sebagai sosok yang penyayang dan bertanggung jawab terhadap keluarga.
“Orangnya baik, sayang sama adik-adiknya, sama orang tuanya juga selalu rajin menanyakan kabar,” katanya dengan mata berlian.
Lebih lanjut ia turut mengenang kebiasaan almarhum yang selalu berpamitan setiap kali hendak berangkat tugas. Komunikasi terakhir dengan putranya terjadi saat Praka Muhammad Kori berpamitan sebelum berangkat menjalani latihan pra-tugas ke Bandung. “Waktu mau berangkat ke Bandung, dia nelpon. Kalau mau ke mana-mana selalu pamit,” lanjut dia.
3. Tinggalkan duka mendalam bagi keluarga

Di mata keluarga, Samrah menambahkan, almarhum Praka Muhammad Kori juga dikenal sebagai tulang punggung keluarga. Oleh karena itu, kepergiannya amat meninggalkan duka mendalam di kalangan keluarga besar.
"Ya, saya sebagai orang tua hanya bisa ikhlas dan berdoa kepada anak saya ini. Mohon doa untuk keluarga besar kami," imbuhnya.


















