Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Lempar Selendang, Tradisi Perkenalan Muli Mekhanai Lampung

Kota Bandar Lampung
2 min read
Mengenal Lempar Selendang, Tradisi Perkenalan Muli Mekhanai Lampung
Mahasiswa Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mempraktikkan tradisi Lempar Selendang (instagram/adabuinril)
  • Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung mempraktikkan tradisi Lempar Selendang dalam UTS mata kuliah Islam dan Kebudayaan Lampung.

  • Lempar Selendang atau Ningkok merupakan permainan adat Lampung Pesisir yang mempertemukan muli dan mekhanai melalui selendang, tari, nyanyian, serta berbalas pantun.

  • Kegiatan juga mengenalkan sastra lisan Wawancan dan Sagata, sebagai pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk mendekatkan mahasiswa pada warisan budaya Lampung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Ada cara menarik untuk mengenalkan budaya Lampung kepada generasi muda, salah satunya lewat permainan adat yang melibatkan muli mekhanai. Tradisi Lempar Selendang menjadi salah satu warisan budaya yang diperkenalkan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) melalui praktik langsung di kampus.

Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Adab mempraktikkan tradisi tersebut dalam Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Islam dan Kebudayaan Lampung. Ada beberapa kekayaan budaya Lampung yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.

  1. 1. Mengenal tradisi Lempar Selendang atau Ningkok

    Mahasiswa Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung mempraktikkan tradisi Lempar Selendang.
    Mahasiswa Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mempraktikkan tradi Lempar Selendang (instagram/adabuinril)

    Salah satu tradisi yang dipraktikkan mahasiswa adalah Lempar Selendang atau dikenal juga dengan Ningkok. Tradisi masyarakat Lampung Pesisir (Saibatin) ini berupa permainan adat yang melibatkan muli mekhanai atau pemuda dan pemudi.

    Dalam prosesi tersebut, seorang muli (pemudi) melemparkan atau mengalungkan selendang kepada mekhanai (pemuda) yang dipilihnya. Setelah selendang diberikan, keduanya dapat melanjutkan interaksi dengan menari, bernyanyi, hingga saling berbalas pantun atau bubalos pantun.

    Tradisi ini menjadi sarana perkenalan, mempererat silaturahmi, serta membangun interaksi sosial antargenerasi muda. Di dalamnya juga terdapat tata komunikasi yang santun dan pesan moral yang diwariskan melalui kebiasaan masyarakat.

  2. 2. Lempar Selendang biasanya digelar pada malam hari

    Sejumlah mahasiswa Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung mempraktikkan tradisi Lempar Selendang di kampus.
    Mahasiswa Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mempraktikkan tradi Lempar Selendang (instagram/adabuinril)

    Lempar Selendang umumnya berlangsung pada malam hari. Tradisi ini dapat menjadi bagian dari rangkaian maupun penutup acara adat, termasuk pesta pernikahan. Acara ini menjadi ruang bagi muli mekhanai untuk berkenalan dan menjalin hubungan sosial melalui interaksi yang dikemas dalam permainan adat.

    Gerakan menari, nyanyian, dan pantun membuat tradisi ini memiliki unsur seni sekaligus memperlihatkan cara masyarakat Lampung membangun keakraban.

  3. 3. Mengenal sastra lisan lewat Wawancan dan Sagata

    Mahasiswa Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung mempraktikkan tradisi Lempar Selendang dalam kegiatan kampus.
    Mahasiswa Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mempraktikkan tradi Lempar Selendang (instagram/adabuinril)

    Selain permainan adat, mahasiswa juga diperkenalkan dengan kekayaan sastra lisan Lampung melalui pelantunan wawancan dan sagata. Kedua seni sastra tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memperkenalkan tradisi tutur masyarakat Lampung. Khusus sagata, mahasiswa diajak mengenal nilai dan estetika yang terkandung dalam syairnya.

    Dosen pengampu mata kuliah, Ratna Dewi, menjelaskan, UTS praktik menjadi bentuk penerapan materi yang sebelumnya telah dipelajari mahasiswa di kelas. Melalui pengalaman langsung, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenal dan memahami kebudayaan Lampung lebih dekat.

    “Kegiatan ini merupakan bentuk kecintaan dan apresiasi kita terhadap kekayaan budaya Lampung. Nilai-nilai kecintaan terhadap kebudayaan inilah yang selalu ingin saya tularkan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran,” ujarnya, Jumat (6/11/2026).

    Sementara itu, Dekan Fakultas Adab, Muhammad Afif Amrullah, mengapresiasi praktik pembelajaran tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wujud pembelajaran yang berakar pada kearifan lokal sekaligus upaya menjaga warisan budaya Lampung agar tetap dikenal generasi muda.

Related Articles

See More