Melinting Fest 2026, Melestarikan Warisan Leluhur Budaya Lampung

- Tari Melinting, warisan budaya takbenda sejak 2014, menjadi fokus Melinting Fest 2026 di Lampung Timur dengan melibatkan sekitar 1.000 pelajar untuk pelestarian adat dan persatuan.
- Festival juga menandai sertifikasi Gulai Pengecangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia; kuliner adat Saibatin ini dimasak gotong royong untuk mereplikasi kehangatan pesta Nayuh.
- Pemprov dan Pemkab mendorong festival mengenalkan budaya Lampung secara nasional-internasional, menghidupkan nilai luhur, serta mengembangkan desa wisata dan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya.
Lampung Timur, IDN Times - Tari Melinting memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat adat Melinting di Lampung. Tari tersebut, secara tradisional ditampilkan dalam rangkaian adat perkawinan masyarakat Melinting dan juga digunakan oleh Ratu Melinting untuk menyambut tamu-tamu agung.
Ratu Melinting XVII Rizal Ismail bergelar Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV menjelaska, Tari Melinting dalam perkembangannya telah tampil dalam berbagai momentum penting, termasuk pada 1930 ketika dipertunjukkan di hadapan Residen Lampung dan Sunan Solo.
Tari Melinting juga pernah ditampilkan dalam momentum kenegaraan pada era Presiden Soekarno, pembukaan MTQ Nasional 1987 di hadapan Presiden Soeharto, hingga dibawa ke Jerman. Rizal mengatakan Tari Melinting kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014.
1. Gelar Melinting Fest 2026

Melinting Fest 2026 di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, Senin (24/8/2026). (Dok. Diskominfo Pemkab Lampung Timur). Guna melestarikan budaya Melinting, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berinisiatif menggelar Melinting Fest 2026. Melinting Fest 2026 juga turut melibatkan sekitar 1.000 penari Tari Melinting yang berasal dari kalangan pelajar SD, SMP dan SMA.
Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian penting dari upaya memastikan seni dan budaya Melinting tetap dikenal, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Kenapa kita melakukan acara ini? Yang pertama untuk pelestarian adat. Yang kedua, bagaimana caranya kita ini menjaga kekompakan, persatuan kita," ujar Rizal.
Rizal berharap Melinting Fest dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun dan tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi juga dapat digelar di wilayah lain dalam kawasan Keratuan Melinting.
2. Gulai Pengecangan Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Melinting Fest 2026 di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, Senin (24/8/2026). (Dok. Diskominfo Pemkab Lampung Timur). Melinting Fest 2026 juga bertepatan pemberian sertifikat dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia yang menandai resminya Gulai Pengecangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Gulai Pengecangan atau sering dikenal juga sebagai Ngulai Pengecangan adalah salah satu kuliner tradisi khas Lampung, khususnya dari masyarakat adat Saibatin. Hidangan ini memadukan cita rasa gurih, segar dan kaya rempah dengan tekstur kuah santan yang khas.
Secara tradisi, dalam pesta adat (Gawi) Keratuan Melinting selalu melibatkan penyajian makanan kehormatan ini untuk para tamu, pangeran, dan masyarakat adat. Dalam acara Melinting fest 2026 dihadirkan Gulai Pengecangan untuk mereplikasi nilai kehangatan tradisi "Nayuh" (pesta adat). Masakan santan kaya rempah ini dimasak bersama secara gotong royong (ngulai) untuk menyambut para pengunjung festival.
3. Kenalkan budaya Lampung lebih luas

Ma'ruf Amin dan Istri Pakai Baju Adat Lampung Melayu HUT ke-79 RI. (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Pemerintah Provinsi Lampung mendorong Melinting Fest 2026 tidak sekadar menjadi perhelatan seni dan budaya. Namun, berkembang sebagai ruang strategis untuk melestarikan warisan leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Lampung ke tingkat nasional dan internasional.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat menghadiri Melinting Fest 2026 di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, Senin (24/8/2026).
"Melinting Fest bukan hanya sebuah pertunjukan seni dan budaya. Melinting Fest adalah ruang untuk merawat warisan leluhur, menumbuhkan kebanggaan akan identitas, memperkuat silaturahmi, merawat kebersamaan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi daerah kepada masyarakat luas," ujarnya.
Jihan mengatakan, Lampung memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, termasuk aksara Lampung serta berbagai nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Kekayaan tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan masa lalu.
"Budaya ini tidak akan lestari, tidak akan terus bisa tumbuh, tidak akan bisa terus didengar jika kita tidak ceritakan, jika kita tidak visualkan, dan jika kita tidak praktikkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
4. Nilai luhur masyarakat Lampung penting diterapkan

potret Nagita Slavina diarak pakai baju adat Lampung (Instagram.com/raffinagita1717) Jihan juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat Lampung dalam kehidupan sehari-hari, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, serta Juluk Adok. Nilai-nilai tersebut mengajarkan masyarakat untuk menjaga kehormatan, membangun hubungan sosial, memperkuat kebersamaan, serta bergotong royong.
Karena itu imbuhnya, Pemerintah Provinsi Lampung akan terus mendukung upaya pelestarian budaya yang dilakukan bersama pemerintah kabupaten, masyarakat adat, komunitas, dan generasi muda.
Wagub berharap Melinting Fest ke depan dapat berkembang menjadi salah satu Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga budaya Melinting semakin dikenal secara luas.
5. Identitas dan kekuatan pembangunan daerah

Melinting Fest 2026 di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, Senin (24/8/2026). (Dok. Diskominfo Pemkab Lampung Timur). Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah mengatakan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur mendukung pengembangan budaya Melinting sebagai bagian dari identitas dan kekuatan pembangunan daerah. Ia menilai pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat desa.
Ela juga mengapresiasi keterlibatan putra daerah dalam mengembangkan Desa Nibung. Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjadi contoh bagaimana investasi dan kreativitas generasi muda diarahkan untuk mendorong kemajuan desa tanpa meninggalkan akar budaya.
"Ini menjadi kekuatan bersama, kolaborasi bagaimana peningkatan ekonomi desa berbanding lurus terhadap kesejahteraan masyarakat dan juga memiliki pondasi yang kuat terhadap budaya," ujarnya.
Ela berharap, Desa Nibung dan desa-desa lain di wilayah Keratuan Melinting dapat menjadi contoh pengembangan desa wisata, ekonomi desa, serta adat dan budaya di Lampung Timur.


















