Hujan Lebat Picu Banjir di Bandar Lampung, BMKG Ungkap Penyebabnya

- Hujan lebat disertai angin kencang mengguyur Bandar Lampung menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, dengan genangan mencapai permukiman dan mengganggu arus lalu lintas kota.
- BMKG menjelaskan hujan ekstrem dipicu aktivitas MJO, konvergensi angin, serta suhu laut hangat yang memperkuat pembentukan awan konvektif dan meningkatkan intensitas curah hujan.
- BMKG mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti banjir dan longsor, serta rutin memantau informasi peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Bandar Lampung, IDN Times - Hujan intensitas lebat disertai angin kencang mengguyur Kota Bandar Lampung, Jumat (6/3/2026) siang hingga sore. Kondisi itu memicu banjir dan genangan air di sejumlah wilayah kota setempat.
Berdasarkan laporan di lapangan, Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II mencatat genangan terjadi akibat tingginya curah hujan dalam durasi relatif singkat. Imbasnya, kapasitas drainase di beberapa wilayah tidak mampu menampung aliran air secara optimal.
Kondisi tersebut menyebabkan limpasan air ke permukaan hingga menggenangi jalan dan permukiman warga. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan bervariasi, mulai dari selutut orang dewasa hingga setinggi knalpot sepeda motor.
Bahkan di sejumlah kawasan permukiman, air dilaporkan telah masuk ke dalam rumah warga. Selain itu, banjir juga berdampak pada aktivitas transportasi.
Beberapa ruas jalan di Kota Bandar Lampung sempat mengalami gangguan lalu lintas hingga dilakukan pengalihan arus akibat genangan air yang cukup tinggi.
1. Dipicu aktivitas atmosfer dan suhu laut

Terkait peristiwa tersebut, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung Selatan, Nanang Buchori mengatakan, hujan lebat terjadi di wilayah Kota Tapis Berseri dipengaruhi sejumlah faktor dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan secara intens.
Menurutnya, salah satu faktor utama adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif di wilayah Lampung sehingga meningkatkan suplai uap air di atmosfer.
“Fenomena ini memperkuat aktivitas konveksi di wilayah Lampung, sehingga memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan,” kata Nanang.
Selain itu, kondisi tersebut juga diperkuat adanya pola konvergensi angin yang berada tepat di wilayah Lampung, sehingga menyebabkan akumulasi massa udara dan memicu pertumbuhan awan konvektif.
Ia menambahkan, kondisi suhu muka laut di perairan sekitar Lampung lebih hangat dari normal turut meningkatkan proses penguapan yang kemudian memperkaya kandungan uap air di atmosfer.
“Profil kelembapan udara dari lapisan 850 hingga 500 milibar juga cukup basah sehingga sangat mendukung terbentuknya awan hujan yang tebal dan berkembang secara vertikal,” lanjut Nanang.
2. Radar cuaca deteksi awan hujan sangat kuat

Berdasarkan pengamatan radar cuaca, intensitas hujan di wilayah Bandar Lampung memang tergolong tinggi. Nanang menjelaskan, radar cuaca mencatat nilai reflektivitas maksimum mencapai sekitar 55 dBZ pada pukul 14.05 WIB yang menunjukkan keberadaan awan konvektif dengan intensitas hujan lebat.
Selain itu, suhu puncak awan juga tercatat mencapai minus 68,3 derajat Celcius yang mengindikasikan pertumbuhan awan konvektif sangat tinggi dan tebal. Aktivitas konvektif kuat tersebut juga ditandai dengan terdeteksinya sekitar 60 kejadian petir pada periode pukul 14.20 hingga 15.55 WIB.
“Kondisi tersebut menunjukkan adanya badai guntur aktif yang berkontribusi terhadap terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dalam durasi tertentu,” jelasnya.
3. BMKG imbau masyarakat waspada cuaca ekstrem

Merujuk kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, hingga kemungkinan hujan es.
Menurut Nanang, potensi cuaca ekstrem tersebut dapat memicu berbagai dampak seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
“Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG melalui berbagai kanal resmi,” serunya.
Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui laman resmi BMKG maupun aplikasi Info BMKG yang tersedia di perangkat telepon seluler. "BMKG juga telah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait seperti BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) guna memantau perkembangan kondisi di lapangan," jelas Nanang.

















