Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Masuk Permukiman Pulau Sebesi

Kab. Lampung Selatan
2 min read
Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Masuk Permukiman Pulau Sebesi
Penampakan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan warga Pulau Sebesi, Selasa (27/10/2026). (Dok. Riko Iswanto).
  • Abu vulkanik Anak Krakatau terbawa angin selatan hingga permukiman Pulau Sebesi sejak 26 Oktober 2026, menempel tebal pada kendaraan dan teras rumah warga.

  • Meski abu masih terasa hingga 27 Oktober dengan intensitas menurun, warga tidak mendengar letusan; kondisi perairan dan ketinggian laut di sekitar Pulau Sebesi dilaporkan normal.

  • Warga mulai memakai masker saat beraktivitas di luar rumah dan membutuhkan tambahan masker serta kacamata transparan untuk mendukung kegiatan harian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali dirasakan warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan. Debu vulkanik disebut mulai masuk permukiman setempat.

Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto mengatakan, abu vulkanik terbawa angin hingga masuk ke lingkungan permukiman mulai terasa sejak Senin (26/10/2026) siang. Debu bahkan terlihat menempel cukup tebal pada kendaraan milik warga.

"Yang terasa benar sekitar jam 01.30 siang sampai sore. Itu yang lebih terasa. Motor-motor sama teras depan rumah kita sudah mulai berdebu," ujarnya dimintai keterangan, Rabu (28/10/2026).

  1. 1. Dipicu arah angin

    Penampakan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan warga Pulau Sebesi, Selasa (27/10/2026)
    Penampakan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan warga Pulau Sebesi, Selasa (27/10/2026). (Dok. Riko Iswanto).

    Riko mengatakan, keberadaan abu vulkanik mulai masuk permukiman warga Pulau Sebesi diduga setelah arah angin dari selatan intens berhembus membawa abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

    Menurutnya, kondisi tersebut masih terjadi hingga Selasa (27/10/2026) sore, meski demikian intensitasnya mulai menurun dibandingkan sehari sebelumnya.

    "Kalau sekarang masih ada (debu vulkanik), tapi tidak seperti kemarin-kemarin yang masih lumayan tebal, karena di motor menempelnya cukup tebal benar," kata Riko.

  2. 2. Tak ada suara letusan, kondisi perairan normal

    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan
    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung).

    Meski abu vulkanik sampai ke permukiman, Riko melanjutkan, warga Pulau Sebesi tidak mendengar suara gemuruh maupun letusan dari aktivitas erupsi gunung berapi berada di perairan Selat Sunda tersebut.

    Selain itu, kondisi perairan laut di sekitar Pulau Sebesi juga masih terbilang normal, serta tidak ada perubahan signifikan pada ketinggian air laut di wilayah setempat.

    "Alhamdulillah untuk ombak normal, masih biasa-biasa saja. Tapi memang tangkap ikan sekarang lagi berkurang, hasilnya sudah tidak seberapa. Jadi nelayan sini bisa dibilang jarang juga melaut," ucap dia.

  3. 3. Warga mulai aktivitas pakai masker

    Ilustrasi masker N95
    Ilustrasi masker N95 (pexels.com/Anna Shvets)

    Menindaklanjuti dampak erupsi tersebut, Riko menyampaikan, pemerintah desa belum melaporkan kondisi abu vulkanik tersebut secara khusus kepada pihak kecamatan.

    Pasalnya, warga sudah cukup terbiasa menghadapi abu vulkanik sehingga kondisi semacam itu belum dianggap sebagai situasi genting bagi masyarakat, khusus di sekitar Pulau Sebesi.

    "Kalau laporan belum, tapi tetap sebagian besar warga sudah mulai menggunakan masker saat bepergian ke luar rumah," ucap dia.

  4. 4. Warga butuh tambahan masker dan kacamata

    IMG_20260819_112041.jpg
    Warga Pulau Sabesi menerima bantuan masker dari petugas Puskesmas. (IDN Times/Istimewa).

    Di tengah kondisi tersebut, Riko menambahkan, warga sekitar Pulau Sebesi berharap adanya tambahan perlengkapan pelindung, terutama masker dan kacamata transparan.

    "Pastinya kalau masker memang kita butuh. Kacamata juga, kacamata transparan yang memang sering dipakai," ujarnya.

    Ia menyebutkan, perlengkapan tersebut dibutuhkan untuk mendukung aktivitas warga, mulai dari mengantar anak sekolah hingga keperluan lainnya di luar rumah. "Mudah-mudahan bisa segera ada batuan semacamnya, karena mendukung aktivitas warga," imbuh Riko.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More