Anak Krakatau Lima Kali Erupsi, Energi Gunung Masih Belum Stabil

Gunung Anak Krakatau mengalami lima erupsi pada 17 Oktober 2026 dini hari, berlangsung pukul 01.31-02.15 WIB; beberapa letusan tidak teramati visual.
Pemantauan menunjukkan energi dan kegempaan Gunung Anak Krakatau masih belum stabil, sehingga aktivitas erupsi dapat kembali meningkat setelah jeda.
Aktivitas Anak Krakatau tidak terkait gunung lain; masyarakat dilarang mendekat atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Lampung Selatan, IDN Times - Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi, Sabtu (17/10/2026) dini hari. Lima kali erupsi tercatat terjadi dalam rentang pukul 01.31 hingga 02.15 WIB.
Berdasarkan data pemantauan, erupsi pertama terjadi pukul 01.31 WIB, disusul erupsi pukul 01.35 WIB. Kedua erupsi tersebut tidak teramati secara visual dan saat laporan dibuat masih berlangsung.
Erupsi kembali tercatat pada pukul 01.40 WIB dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 22 detik. Selanjutnya, erupsi pukul 01.47 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter dengan durasi 29 detik.
Sementara erupsi kelima terjadi pukul 02.15 WIB. Aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 53 milimeter dan durasi 28 detik. Visual letusan juga tidak teramati.
1. Ada pola peningkatan aktivitas pasca jeda

Aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan pada 12 Oktober 2026 pukul 06.00-12.00 WIB. (Dok. PVMBG Magma). Terkait peristiwa tersebut, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno membenarkan adanya lima kali erupsi tersebut. Menurutnya, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih belum stabil meski sebelumnya aktivitas kegempaan sempat menurun.
Selain itu, ia menyebut kondisi di dalam tubuh gunung masih menyimpan energi. Sehingga saat energi tersebut kembali terakumulasi, aktivitas erupsi masih dapat terjadi.
"Di dalamnya itu masih belum stabil. Kegempaannya juga masih ada, sehingga ketika ada energi bisa juga keluar," ujarnya dikonfirmasi.
Pola aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dapat kembali meningkat setelah sempat mengalami jeda. Oleh karena itu, pihaknya masih terus memantau perkembangan kegempaan untuk mengetahui kecenderungan aktivitas gunung. "Ini masih terus dipantau, tinggal kita lihat kegempaannya," lanjut dia.
2. Energi Gunung Anak Krakatau belum stabil

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung). Suwarno menyampaikan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu berlangsung dengan intensitas sama. Setelah terjadi letusan besar, aktivitas dapat berhenti sementara sebelum kembali muncul dengan skala berbeda.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya energi di dalam tubuh gunung berapi tersebut yang belum sepenuhnya stabil.
"Memang habis letusan besar, kemudian berhenti, ada lagi. Terus kemudian berhenti lagi, ada lagi walaupun tidak besar-besaran. Itu masih ada energi," katanya.
3. Aktivitas gunung lain tidak berkaitan dengan GAK

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Jumat, 09 Oktober 2026, pukul 16:30 WIB. (Magma ESDM). Suwarno juga menegaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak berkaitan langsung dengan aktivitas kegempaan atau erupsi gunung api lain di Indonesia, sebab, setiap gunung api memiliki sistem dan dapur magma masing-masing.
Ia mencontohkan, dua gunung api bisa saja mengalami erupsi dalam periode berdekatan meskipun siklus aktivitas keduanya berbeda. Kondisi tersebut bukan berarti aktivitas salah satu gunung memicu gunung lainnya.
"Kebetulan waktunya sama. Memang tidak ada kaitannya karena mempunyai dapur magma masing-masing," ucap dia.
4. Masyarakat diminta tetap mengikuti imbauan

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung). Sejalan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih belum stabil, Suwarno kembali meminta masyarakat tetap mengikuti rekomendasi dan imbauan dari pihak berwenang.
"Himbauannya tetap sama, dilarang mendeka atau beraktivitas dalam radius 5 Km dari pusat erupsi," imbuhnya.




















