Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Usia Sudah Dewasa, tapi Masih Sering Dibandingkan dengan Orang Lain?

Bandar Lampung
5 min read
Usia Sudah Dewasa, tapi Masih Sering Dibandingkan dengan Orang Lain?
ilustrasi membandingkan dengan orang lain (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Perjalanan dewasa setiap orang berbeda karena dipengaruhi latar belakang, kesempatan, kondisi keluarga, pendidikan, dan tanggung jawab; pencapaian orang lain bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
  • Perbandingan berulang dapat memicu minder, meragukan kemampuan, dan mengejar target demi pengakuan; penting membedakan keinginan pribadi dari tuntutan lingkungan.
  • Hadapi komentar dengan komunikasi dan batasan yang tenang, lalu fokus pada tujuan realistis, perkembangan kecil, serta prioritas hidup sendiri daripada standar sosial atau media sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semakin bertambah usia, semakin banyak hal diharapkan dari diri sendiri. Mulai dari memiliki pekerjaan mapan, penghasilan yang cukup, hingga kehidupan terlihat berhasil di mata orang lain. Namun, di tengah usaha memenuhi berbagai tuntutan tersebut, ada satu hal terkadang sulit dihindari: dibandingkan dengan orang lain.

"Temanmu sudah jadi manajer, kamu kapan?" atau "Lihat anak tetangga, sekarang sudah punya rumah sendiri." Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana bagi orang yang mengucapkannya. Namun, bagi orang yang menerimanya, perbandingan tersebut bisa menimbulkan rasa kecewa, minder, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Padahal, menjadi dewasa bukan berarti seseorang harus memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain. Setiap orang punya latar belakang, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda. Jika kamu masih sering merasa tidak cukup baik setelah dibandingkan dengan orang lain, ada beberapa hal yang perlu kamu pahami.

  1. 1. Kamu tidak harus berada di tahap kehidupan yang sama

    ilustrasi tidak membandingkan diri (pexels.com/William Fortunato)
    ilustrasi tidak membandingkan diri (pexels.com/William Fortunato)

    Salah satu alasan seseorang merasa tertinggal adalah kebiasaan mengukur pencapaiannya menggunakan standar kehidupan orang lain. Ketika teman sebaya sudah memiliki pekerjaan dengan gaji besar, menikah, atau membeli rumah, kamu mungkin merasa belum melakukan sesuatu yang berarti.

    Padahal, perjalanan hidup setiap orang tidak bisa disamakan begitu saja. Ada orang yang lebih cepat menemukan pekerjaan sesuai impiannya, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan arah karier.

    Kondisi keluarga, kesempatan pendidikan, lingkungan, hingga tanggung jawab finansial juga memengaruhi perjalanan seseorang. Artinya, pencapaian orang lain tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilanmu.

    Daripada terus merasa tertinggal, cobalah melihat perkembangan diri sendiri. Apakah kamu sudah lebih mandiri dibandingkan beberapa tahun lalu? Apakah kamu mulai memahami kebutuhan dan batasan diri? Hal-hal tersebut juga merupakan bentuk kemajuan yang layak dihargai.

  2. 2. Kebiasaan dibandingkan bisa membuatmu meragukan diri sendiri

    ilustrasi overthinking membandingkan diri dengan melihat media sosial orang lain (pexels.com/Kampus Production)
    ilustrasi overthinking membandingkan diri dengan melihat media sosial orang lain (pexels.com/Kampus Production)

    Ketika perbandingan terjadi berulang kali, seseorang bisa mulai memandang dirinya melalui penilaian orang lain. Kamu mungkin merasa pekerjaanmu tidak cukup bagus, penghasilanmu terlalu kecil, atau kehidupanmu tidak semenarik kehidupan teman-temanmu.

    Lama-kelamaan, kamu bisa kesulitan mengenali apa yang sebenarnya kamu inginkan. Kamu mengejar sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena ingin membuktikan bahwa dirimu juga mampu.

    Kondisi ini dapat membuat proses mencapai tujuan terasa melelahkan. Bahkan ketika berhasil mendapatkan sesuatu, kamu mungkin tetap merasa kurang karena selalu ada orang lain yang terlihat lebih unggul.

    Cobalah membedakan antara keinginan pribadi dan tuntutan lingkungan. Tidak semua hal yang dianggap sebagai pencapaian oleh orang lain harus menjadi target hidupmu. Kamu berhak menentukan keberhasilan berdasarkan nilai, kebutuhan, dan prioritasmu sendiri.

  3. 3. Memahami tidak semua perbandingan bertujuan menjatuhkan

    Ilustrasi jangan membandingkan (pexels.com/Timur Weber)
    Ilustrasi jangan membandingkan (pexels.com/Timur Weber)

    Tidak semua orang yang membandingkanmu dengan orang lain bermaksud merendahkan. Sebagian mungkin ingin memotivasi, menunjukkan contoh, atau mengungkapkan kekhawatiran dengan cara yang kurang tepat.

    Namun, niat baik tidak selalu membuat sebuah ucapan terasa menyenangkan. Kalimat yang dianggap sebagai motivasi oleh seseorang bisa terasa menyakitkan bagi orang yang mendengarnya, terutama jika disampaikan berulang kali tanpa memahami situasi yang sedang dihadapi.

    Kamu tidak harus langsung menganggap orang tersebut memiliki niat buruk. Akan tetapi, kamu juga tidak perlu mengabaikan perasaan sendiri hanya karena mereka mengaku sedang memberikan nasihat.

    Jika memungkinkan, sampaikan kamu lebih nyaman membicarakan perkembangan diri dan rencana ke depan daripada dibandingkan dengan orang lain. Dengan begitu, kamu memberikan kesempatan kepada mereka untuk memahami cara berkomunikasi yang lebih baik.

  4. 4. Belajar menetapkan batasan kepada orang sering membandingkan

    Membandingkan Diri (Pixabay.comArturGórecki)
    Membandingkan Diri (Pixabay.comArturGórecki)

    Menghadapi perbandingan yang terus berulang membutuhkan batasan yang jelas. Terlebih jika komentar tersebut datang dari orang terdekat, seperti orangtua, saudara, pasangan, atau teman.

    Kamu bisa menyampaikan respons dengan tenang tanpa harus membalas perkataan mereka dengan kemarahan. Misalnya, ketika seseorang membandingkan kariermu dengan teman sebaya, kamu dapat menjelaskan bahwa kamu sedang berusaha mencapai tujuan sesuai kemampuan dan kondisi saat ini.

    Jika pembicaraan mulai membuatmu tidak nyaman, kamu juga berhak mengalihkan topik atau mengakhiri percakapan untuk sementara waktu.

    Menetapkan batasan bukan berarti kamu tidak mau menerima kritik. Kamu tetap bisa mendengarkan saran yang masuk akal tanpa harus menerima cara penyampaian yang merendahkan.

    Ingat, menjadi dewasa juga berarti belajar melindungi kesehatan emosional dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

  5. 5. Fokus pada tujuan benar-benar penting untuk dirimu

    Ilustrasi hidup tidak membandingkan diri (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    Ilustrasi hidup tidak membandingkan diri (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Salah satu cara menghadapi kebiasaan dibandingkan adalah memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Tanpa tujuan pribadi, kamu akan lebih mudah terbawa standar yang ditetapkan orang lain.

    Cobalah menentukan beberapa hal ingin kamu capai dalam waktu dekat. Misalnya, memperbaiki kondisi keuangan, meningkatkan keterampilan kerja, menjaga kesehatan, atau membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga.

    Pecah tujuan tersebut menjadi langkah-langkah kecil yang realistis. Kamu tidak harus mengubah seluruh kehidupan dalam waktu singkat hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

    Kamu juga bisa mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan melalui media sosial. Ingatlah apa yang terlihat di layar sering kali hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Kamu tidak selalu mengetahui kesulitan, pengorbanan, atau masalah yang mereka hadapi di balik pencapaiannya.

    Ketika mulai merasa tertinggal, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah aku benar-benar menginginkan kehidupan seperti itu, atau hanya merasa harus memilikinya karena orang lain sudah lebih dahulu mendapatkannya?

    Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa membantumu kembali memahami prioritas dan menjalani kehidupan dengan lebih sadar.

    Masih sering dibandingkan dengan orang lain ketika sudah dewasa memang bisa melelahkan. Apalagi jika kamu sedang berusaha memperbaiki kehidupan, tetapi pencapaianmu seolah tidak pernah cukup di mata orang lain.

    Namun, kamu tidak harus menjalani hidup berdasarkan jadwal dan standar yang sama dengan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan, tantangan, dan kesempatan yang berbeda.

    Daripada terus berusaha membuktikan diri kepada orang lain, cobalah membangun ukuran keberhasilan yang sesuai dengan kebutuhanmu. Hargai perkembangan kecil, tetapkan batasan yang sehat, dan jangan ragu mengevaluasi tujuan hidupmu sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More