Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspor Lampung 4,97 Miliar Dolar AS, tapi Kopi hingga Rempah Anjlok

Bandar Lampung
4 min read
Ekspor Lampung 4,97 Miliar Dolar AS, tapi Kopi hingga Rempah Anjlok
ilustrasi ekspor impor (Pexels.com)
  • Ekspor Lampung Januari-September 2026 mencapai US$4,97 miliar, naik 3,05 persen, ditopang nonmigas. Namun ekspor kopi, teh, dan rempah turun 36,95 persen.

  • Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar Lampung senilai US$759,27 juta, diikuti Tiongkok dan Belanda. Ekspor ke Tiongkok serta Bangladesh tumbuh, sementara India dan Pakistan menurun.

  • Impor Lampung turun 25,86 persen menjadi US$1,20 miliar akibat anjloknya migas. Sebaliknya, impor nonmigas naik 36,48 persen dan barang konsumsi melonjak 711,2 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Nilai perdagangan luar negeri Provinsi Lampung menunjukkan pergerakan berbeda sepanjang Januari hingga September 2026. Nilai ekspor masih tumbuh, tetapi sejumlah komoditas unggulan justru menurun. Salah satunya kopi, teh, dan rempah-rempah, nilai ekspornya merosot 36,95 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, nilai impor juga menurun. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya menunjukkan melemahnya aktivitas impor karena sejumlah kelompok barang nonmigas justru meningkat.

  1. 1. Ekspor Lampung tumbuh, kopi dan rempah turun 36,95 persen

    ilustrasi pohon kopi (pexels.com/Daniel Reche)
    ilustrasi pohon kopi (pexels.com/Daniel Reche)

    Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution menjelaskan, nilai ekspor Januari-September 2026 mencapai US$4.971,15 juta. Capaian tersebut meningkat 3,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$4.823,88 juta. Peningkatan juga terlihat pada perdagangan September 2026.

    Nilai ekspor mencapai US$672,57 juta atau naik 23,79 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar US$543,32 juta. Kenaikan ekspor bulanan tersebut berasal dari ekspor nonmigas karena tidak terdapat aktivitas ekspor migas.

    Menurutnya, meski secara keseluruhan tumbuh, perkembangan setiap komoditas ternyata berbeda. Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas, bahan kimia organik mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 111,52 persen.

    Sementara itu, kopi, teh, dan rempah-rempah justru mengalami penurunan 36,95 persen. Padahal, golongan komoditas tersebut masih menjadi penyumbang terbesar kedua ekspor nonmigas Lampung dengan kontribusi 15,76 persen.

    "Posisi pertama ditempati lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar 44,50 persen, disusul bahan bakar mineral sebesar 14,84 persen," jelasnya, Senin (2/11/12026).

    Ahmadriswan menjelaskan, pertumbuhan ekspor Lampung secara kumulatif tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor nonmigas. Sementara itu, penurunan pada sejumlah komoditas menunjukkan bahwa perkembangan ekspor tidak terjadi secara merata di seluruh golongan barang.

  2. 2. Amerika serikat jadi tujuan ekspor terbesar Lampung

    ilustrasi kapal ekspor barang (pexels.com/Martin Damboldt)
    ilustrasi kapal ekspor barang (pexels.com/Martin Damboldt)

    Disampaikan Ahmadriswan, pasar Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar Lampung selama Januari-September 2026 dengan nilai US$759,27 juta. Berikutnya ada Tiongkok sebesar US$577,59 juta dan Belanda sebesar US$405,83 juta.

    Selain ketiga negara tersebut, pasar ekspor Lampung juga menjangkau Pakistan, India, Bangladesh, Italia, Vietnam, Jerman, hingga Malaysia.

    Secara keseluruhan, ekspor ke sepuluh negara tujuan utama mencapai US$4.362,11 juta atau meningkat 5,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    "Pertumbuhan cukup tinggi terlihat pada ekspor ke Tiongkok yang naik 43,95 persen dan Bangladesh sebesar 39,82 persen. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tumbuh lebih terbatas, yakni 0,29 persen," jelasnya.

    Di sisi lain, lanjutnya, sejumlah negara justru mengalami penurunan permintaan terhadap produk asal Lampung. Ekspor ke India turun 27,65 persen, sedangkan ke Pakistan berkurang 19,07 persen.

    Berdasarkan kelompok negara, tujuan ekspor Lampung didominasi sepuluh negara utama lainnya dengan nilai US$2.687,04 juta. Selanjutnya, Uni Eropa mencapai US$1.079,31 juta dan ASEAN sebesar US$595,76 juta.

  3. 3. Impor Lampung turun 25,86 persen, barang konsumsi melonjak

    ilustrasi impor barang (pexels.com/Chanaka)
    ilustrasi impor barang (pexels.com/Chanaka)

    Berbeda dengan ekspor, Ahmadriswan menyebut nilai impor Lampung selama Januari-September 2026 justru menurun. BPS mencatat nilainya mencapai US$1.204,12 juta atau turun 25,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1.624,04 juta.

    Penurunan tersebut terutama dipengaruhi impor migas yang merosot 93,06 persen atau berkurang US$727,28 juta. Namun, perkembangan impor nonmigas justru menunjukkan arah berbeda. Nilainya mencapai US$1.149,90 juta atau meningkat 36,48 persen dibandingkan Januari-September 2025.

    Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, impor barang konsumsi mengalami lonjakan paling tinggi sebesar 711,2 persen. Impor barang modal juga meningkat 5,01 persen, sedangkan impor bahan baku atau penolong turun 39,39 persen.

    Dari sisi komoditas, golongan ikan, krustasea, dan moluska mencatatkan peningkatan impor tertinggi sebesar 196,96 persen. Selain itu, impor mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya naik 102,27 persen.

    Sementara berdasarkan negara asal, Amerika Serikat menjadi pemasok barang impor terbesar Lampung dengan nilai US$198,44 juta. Berikutnya Jerman sebesar US$159,92 juta dan Australia sebesar US$159,80 juta.

    Adapun pada September 2026, nilai impor Lampung mencapai US$128,99 juta atau meningkat 9,99 persen dibandingkan September 2025. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan impor migas dan nonmigas.

    Ahmadriswan mengatakan, penurunan impor secara kumulatif terutama terjadi karena berkurangnya impor migas. Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan impor nonmigas yang justru mengalami peningkatan selama periode yang sama.

Related Articles

See More