UBL Gandeng Pakar Belanda, Bangun Ekosistem Entrepreneurial University

- UBL berkolaborasi dengan PUM Netherlands melalui kunjungan Prof. Frans Stel selama dua pekan untuk memperkuat ekosistem inovasi, kewirausahaan, dan pendampingan bisnis mahasiswa.
- UBL menargetkan lulusan bermental kewirausahaan, adaptif, dan mampu memecahkan masalah, bukan hanya siap kerja atau menjadi pengusaha, melalui praktik serta pendampingan berkelanjutan.
- Frans Stel memperkenalkan Business Readiness Assessment dan coaching toolbox, sekaligus mendorong dosen berperan sebagai business coach dalam Talent and Career Ecosystem UBL.
Bandar Lampung, IDN Times - Universitas Bandar Lampung (UBL) terus memperkuat membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis inovasi dan kewirausahaan (Entrepreneurial University). Satu caranya melalui kolaborasi internasional bersama PUM Netherlands.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan menghadirkan Prof. Frans Stel, pakar pendampingan bisnis asal Belanda dalam program PUM Expert Visit 2026 berlangsung selama dua pekan di UBL.
Program ini berfokus pada penguatan ekosistem inovasi dan kewirausahaan, peningkatan kapasitas dosen sebagai business coach, serta pengembangan sistem pendampingan yang mendorong mahasiswa mengubah ide menjadi peluang bisnis nyata.
1. Tidak cukup hanya mencetak lulusan siap bekerja

ilustrasi wisuda (pexels.com/olia danilevich) Rektor UBL, M Yusuf S Barusman, menjelaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan yang siap bekerja. Tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang inovatif, mandiri, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
"Menjadi Entrepreneurial University bukan sekadar mengajarkan mahasiswa membuka usaha. Kami ingin membangun pola pikir kewirausahaan agar mahasiswa mampu melihat persoalan sebagai peluang, menghadirkan inovasi, dan menciptakan nilai bagi masyarakat," ujar Yusuf, Senin (2/11/2026).
2. Membentuk lulusan dengan entrepreneurial mindset

Ilustrasi pengusaha menemukan ide cemerlang https://www.google.com/search?q=https://www.magnific.com/free-photo/happy-creative-asian-colleagues-sitting-desk-office-doing-high-five_5839486.htm&authuser=1 Menurut Yusuf, penguatan kewirausahaan harus didukung oleh pembelajaran berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan. Melalui Pusat Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (PPIK), UBL terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus meningkatkan kapasitas dosen sebagai pendamping bisnis.
"Target UBL bukan semata-mata melahirkan pengusaha, tetapi membentuk lulusan dengan entrepreneurial mindset, kemampuan memecahkan masalah, dan daya adaptasi tinggi. Jiwa kewirausahaan harus dimiliki setiap lulusan, apa pun profesi yang mereka pilih," tegasnya.
Sedangkan Frans Stel menekankan, keberhasilan entrepreneurship tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis, tetapi juga oleh kemampuan mengeksekusi peluang serta motivasi yang kuat dari dalam diri individu.
3. Pendekatan coaching toolbox

Prof. Frans Stel, pakar pendampingan bisnis asal Belanda dalam program PUM Expert Visit 2026 berlangsung selama dua pekan di UBL. (Dok. UBL). Melalui pendekatan Business Readiness Assessment dan coaching toolbox, Frans memperkenalkan metode untuk mengidentifikasi kesiapan usaha, mengevaluasi hambatan, dan merancang langkah pengembangan bisnis.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan peran dosen dari sekadar pemberi materi menjadi business coach yang membantu mahasiswa menemukan solusi, mengembangkan kemandirian, serta meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan.
Kolaborasi ini sejalan dengan pengembangan Talent and Career Ecosystem UBL, yang mengintegrasikan pengenalan minat dan bakat, pembelajaran, pengalaman praktis, serta kesiapan karier mahasiswa.kat.






















