Alumni Itera Sabet Juara Dunia Ajang Riset di Inggris

- Alumni Itera, Natasya Salsabila, juara pertama YPWLC 2025
- Melalui seleksi dari tingkat universitas hingga internasional
- Riset optimisasi aluminium nitrida untuk transistor berperforma tinggi
Lampung Selatan, IDN Times - Alumni Institut Teknologi Sumatera (Itera), Natasya Salsabila, berhasil meraih juara pertama Young Persons’ World Lecture Competition (YPWLC) 2025. Kompetisi riset internasional ini diselenggarakan oleh Institute of Materials, Minerals & Mining (IOM3) berbasis di Inggris dan mempertemukan peneliti muda dari berbagai negara.
Pada babak final, Natasya mengungguli peserta asal Inggris, Tiongkok, dan Hong Kong. Prestasi ini diraih melalui rangkaian seleksi berjenjang dari tingkat universitas hingga internasional.
Table of Content
1. Menyisihkan peserta dari berbagai negara di ajang YPWLC 2025

Alumni Program Studi Teknik Elektro Itera angkatan 2019 dan lulus Januari 2023 itu, kini tengah menempuh pendidikan doktor berbasis riset di Universitas Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). Keikutsertaannya dalam YPWLC berawal dari seleksi internal dibuka Fakultas Teknik Mesin dan Manufaktur UTHM pada Agustus 2025.
Dari tahapan tersebut, ia terpilih mewakili universitasnya di tingkat nasional Malaysia. Seleksi nasional diselenggarakan oleh Institute of Materials Malaysia (IMM) bekerja sama dengan Curtin University pada September 2025.
Ajang ini diikuti 13 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Natasya kembali terpilih sebagai perwakilan untuk melaju ke tingkat internasional. Babak final YPWLC digelar secara daring oleh IOM3 pada 27 November 2025 dengan empat finalis dari Malaysia, Inggris, Tiongkok, dan Hong Kong.
2. Riset optimisasi aluminium nitrida untuk transistor berperforma tinggi

Menurut Natasya, dalam kompetisi tersebut ia mempresentasikan riset doktoralnya mengenai optimisasi material aluminium nitrida untuk aplikasi transistor berperforma tinggi. Penelitian ini berfokus pada peningkatan kualitas lapisan aluminium nitrida agar dapat berfungsi optimal sebagai lapisan penyangga pada transistor berbasis galium nitrida, yang banyak digunakan pada perangkat elektronik berdaya dan frekuensi tinggi.
Natasya menjelaskan, keunggulan risetnya terletak pada pendekatan skala industri. Selama ini, sebagian besar penelitian sejenis masih dilakukan pada skala laboratorium dengan wafer berukuran 2 hingga 4 inci.
Dalam penelitiannya, Ia menggunakan wafer berukuran 8 inci dengan mesin sputtering berbasis industri, sehingga memungkinkan peningkatan produksi aluminium nitrida dalam satu kali proses. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan industri semikonduktor karena berpotensi meningkatkan efisiensi produksi.
3. Pernyataan Natasya tentang latar belakang riset dan pesan untuk mahasiswa

Natasya menjelaskan, penelitiannya dilatarbelakangi oleh pesatnya pengembangan transistor berbasis galium nitrida yang memiliki efisiensi tinggi dan mampu bekerja pada kondisi ekstrem. Namun, material tersebut tidak dapat langsung ditumbuhkan di atas wafer silikon yang umum digunakan di industri sehingga memerlukan lapisan penyangga. Aluminium nitrida dipilih karena sifatnya yang stabil dan relatif mudah diproduksi.
“Dalam penelitian ini, saya menggunakan wafer 8 inci dengan mesin sputtering berbasis industri. Dengan pendekatan tersebut, produksi aluminium nitrida dapat meningkat sekitar 25–40 persen dalam satu kali proses,” ujar Natasya.
Saat ini, Ia menjalani tahun pertama pendidikan doktoralnya di UTHM setelah menyelesaikan studi magister di universitas yang sama. Ia merupakan penerima beasiswa Malaysian Technical Cooperation Programme (MTCP) disponsori Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Luar Negeri Malaysia.
“Tidak semua orang harus unggul di semua bidang. Yang terpenting adalah fokus mengembangkan potensi yang dimiliki, baik di bidang akademik maupun non-akademik," pesannya untuk mahasiswa Itera.


















