Alasan Bhayangkara FC U-20 Sebut Sanksi Fadly Alberto Tak Adil

- Bhayangkara FC U-20 menerima tujuh sanksi dari Komite Disiplin PSSI, termasuk larangan bermain tiga tahun untuk Fadly Alberto dan hukuman bagi beberapa pemain serta ofisial lainnya.
- Manajer Yongky Pamungkas menilai hukuman terhadap timnya tidak seimbang dibanding Dewa United U-20, karena pihak lawan dinilai mendapat sanksi lebih ringan meski menjadi pemicu insiden.
- Yongky menyebut para pemain kedua tim sudah saling memaafkan dan Bhayangkara FC U-20 akan mengajukan banding ke Komite Banding PSSI demi peninjauan yang lebih adil.
Bandar Lampung, IDN Times - Bhayangkara FC U-20 menilai sanksi yang dijatuhkan Komite Disiplin PSSI usai laga kontra Dewa United U-20 belum mencerminkan rasa keadilan.
Manajer tim, Yongky Pamungkas mengatakan klub memastikan akan mengajukan banding karena menganggap hukuman yang diberikan tidak berimbang.
Yongki secara lugas menyebut keputusan tersebut merugikan para pemainnya.
“Tanggapan saya, ini tidak adil bagi pemain kami. Seolah-olah semua kesalahan ada di Bhayangkara,” katanya, Sabtu (2/5/2026).
1. Bhayangkara kena sanksi berat

Dalam putusan tersebut, Bhayangkara FC U-20 menerima tujuh sanksi. Hukuman terberat dijatuhkan kepada Fadly Alberto dengan larangan bermain selama tiga tahun.
Tiga pemain lainnya, yakni Aqilah Lissunnah Aljundi, Afrizal Riqh, dan Ahmad Catur, mendapat sanksi dua tahun. Sementara M. Mufdi Iskandar dihukum satu tahun.
Selain itu, ofisial Muklis Hadi Ning juga dijatuhi larangan mendampingi tim selama empat pertandingan.
Diketahui Raka Nurkholis pemain Dewa United mendapatkan sanksi selama satu tahun larangan bermain.
2. Nilai ada ketimpangan dengan kubu lawan

Yongky menilai, hukuman yang diterima timnya tidak sebanding dengan sanksi yang dijatuhkan kepada kubu lawan.
Ia menyebut, pihak Dewa United U-20 memang juga mendapat sanksi, namun pemicu insiden justru dinilai lebih ringan. “Pemicu malah lebih ringan dari kami. Itu yang saya rasa aneh,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, pihak Dewa United disebut masih mempermasalahkan insiden tersebut, meski para pemain di lapangan sudah menyelesaikannya.
3. Pemain sudah saling memaafkan

Menurut Yongky, konflik yang terjadi sebenarnya tidak berlarut di level pemain. Ia menyatakan, pemain yang terlibat, termasuk yang melakukan kontak fisik, sudah saling memaafkan dan mengakui kesalahan.
“Pemain yang memukul pun sebenarnya sudah saling memaafkan,” katanya.
Hal ini, menurutnya, semakin memperkuat insiden tersebut hanyalah luapan emosi sesaat dalam pertandingan dengan tensi tinggi.
4. Ajukan banding demi keadilan

Atas dasar itu, Bhayangkara FC U-20 memutuskan membawa kasus ini ke Komite Banding PSSI. Klub berharap ada peninjauan ulang yang lebih objektif dan berimbang terhadap seluruh pihak yang terlibat.
Meski kecewa, Bhayangkara FC tetap menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi internal dan memperkuat pembinaan pemain muda.
“Kami menghormati keputusan, tapi kami juga ingin keadilan,” tutur Yongky.
















