Aksi kamisan yang ke-828 di depan Gedung Grahadi, Kamis (22/08/2024). (IDN Times/Ryzka Tiara)
Peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) merupakan salah satu titik balik dalam sejarah politik Indonesia. Persitiwa ini terjadi pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Gerakan ini melibatkan penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI Angkatan Darat oleh kelompok yang menamakan diri mereka "Dewan Revolusi,".
Gerakan ini diduga dipimpin oleh sejumlah perwira militer dengan dukungan dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka mengklaim bahwa tujuan gerakan tersebut adalah mencegah kudeta direncanakan oleh Dewan Jenderal, namun narasi ini kemudian terbantahkan oleh pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.
Setelah peristiwa tersebut, muncul tindakan balasan dari militer dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto, dengan cepat mengambil alih kendali dan melumpuhkan gerakan tersebut. Peristiwa ini memicu gelombang pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI di seluruh daerah di Indonesia.
Diperkirakan antara 500.000 hingga 1 juta orang tewas dalam aksi pembalasan tersebut, menjadikannya salah satu peristiwa pembunuhan massal terbesar dan pertama dalam sejarah Indonesia. Selain itu, PKI kemudian dinyatakan sebagai organisasi terlarang, dan Soeharto mulai membangun kekuasaannya bertahan hingga lebih dari 30 tahun.
Apa yang terjadi dalam G30S/PKI masih menjadi bahan perdebatan hingga kini. Ada banyak versi mengenai dalang utama di balik gerakan ini, dengan beberapa peneliti internasional meragukan narasi resmi menyalahkan PKI sepenuhnya.
Meski demikian, narasi Orde Baru menyebut PKI sebagai pengkhianat bangsa menjadi dominan selama pemerintahan Soeharto. Tragedi ini tidak hanya berdampak pada politik dan keamanan, tetapi juga menciptakan trauma mendalam dalam sejarah sosial Indonesia.