Tanah Lado Film Festival DKV Itera Hadirkan Karya Tiga Negara

- TLIFF 2026 digelar oleh DKV Itera sebagai ajang kolaborasi sineas, akademisi, dan komunitas film dari Indonesia serta tiga negara: Spanyol, Singapura, dan Jepang.
- Festival ini menghadirkan berbagai program seperti pemutaran film, workshop, hingga penghargaan yang menjadi ruang interaksi kreatif bagi peserta lintas bidang.
- Mahasiswa DKV Itera terlibat langsung dalam pengelolaan festival internasional ini untuk memperkuat kompetensi praktis dan jejaring industri kreatif.
Lampung Selatan, IDN Times - Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sumatera (Itera) kembali menggelar Tanah Lado International Film Festival (TLIFF) 2026. Memasuki penyelenggaraan tahun keenam, festival ini menjadi ruang kolaborasi bagi sineas, akademisi, komunitas film, dan pelaku budaya untuk mengeksplorasi keberagaman melalui medium film.
Mengusung tema "Daur Baur: Kebudayaan", festival ini diikuti peserta dan komunitas film dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menghadirkan karya dari Spanyol, Singapura, dan Jepang.
1. Hadirkan beragam program perfilman dan budaya

Dosen DKV Itera sekaligus Festival Director TLIFF 2026, PG Wisnu Wijaya mengatakan, TLIFF 2026 menghadirkan sejumlah rangkaian kegiatan, seperti Lado Cinema Camp, Layar Sumatera, Special Screening, Workshop Editing, Lado Archive, hingga Awarding. Berbagai program tersebut menjadi wadah bagi sineas, komunitas, akademisi, dan masyarakat untuk bertemu, berdiskusi, serta menikmati karya film dari berbagai daerah dan negara.
"Tanah Lado bukan sekadar festival film, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pembuat film, akademisi, dan masyarakat dalam satu ekosistem kreatif," kata Wisnu, Rabu (15/7/2026).
2. Mahasiswa DKV Itera dapat pengalaman mengelola festival internasional

Menurut Wisnu, penyelenggaraan TLIFF menjadi bagian dari komitmen DKV Itera menghadirkan pembelajaran yang terhubung langsung dengan industri kreatif. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata mengelola festival film bertaraf internasional sekaligus membangun jejaring dengan para pelaku industri.
Disampaikan Wisnu, kehadiran karya dari Spanyol, Singapura, dan Jepang menjadi langkah untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan cerita-cerita dari Sumatra kepada publik global.
3. Hadirkan praktisi perfilman dan perkuat kolaborasi industri kreatif

Selain pemutaran film, festival juga menghadirkan praktisi dan akademisi perfilman, yakni Daniel Rudi Hariyanto, Sito Fossy Biosa, dan Irwan Wahyudi. Mereka berbagi pengalaman melalui sesi diskusi dan lokakarya yang menjadi ruang belajar bagi peserta.
Wisnu menambahkan, TLIFF merupakan implementasi pembelajaran berbasis praktik yang memperkuat kompetensi mahasiswa sekaligus memperluas kolaborasi DKV Itera dengan industri kreatif.
"Melalui festival ini, DKV Itera berharap terus mendorong lahirnya karya-karya kreatif sekaligus memperkuat posisi Sumatra dalam peta perfilman nasional dan internasional," harapnya.





















