Sawah Mengering Imbas El Nino, Petani Pesawaran Terancam Gagal Panen

- Kemarau berkepanjangan akibat El Nino membuat sawah di Desa Sungai Langka, Pesawaran, kekurangan air dan mengancam tanaman padi mengering hingga gagal panen.
- Kekeringan terasa selama satu hingga dua bulan terakhir; petani telah mengeluarkan biaya bibit, pupuk, pengolahan lahan, dan tenaga kerja, tetapi kini hanya berharap modal kembali.
- Kerusakan bendungan memperparah krisis irigasi. Petani mengaku belum menerima bantuan pemerintah sejak 2012 dan tidak mampu memperbaiki saluran air secara swadaya.
Pesawaran, IDN Times - Musim kemarau berkepanjangan dipicu fenomena El Nino mulai menghantam sektor pertanian di wilayah Provinsi Lampung. Petani padi di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran kini dihantui ancaman gagal panen atau puso akibat sawah mulai mengering karena kekurangan pasokan air.
Salah seorang petani, Kusnun mengatakan, kondisi tersebut membuat harapan memperoleh hasil panen yang layak semakin menipis. Padahal, seluruh biaya produksi mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk hingga ongkos tanam telah dikeluarkan.
"Kita ini hidup dari bertani padi. Kalau cuaca seperti sekarang, pulang modal saja belum tentu, apalagi untung. Harapan panen sekarang tipis," ujarnya dimintai keterangan, Jumat (31/7/2026).
1. Kekeringan mulai terasa sejak dua bulan terakhir

Kusnun menyampaikan, kemarau di wilayah tempat tinggalnya mulai terasa sekitar satu hingga dua bulan terakhir. Dampaknya, pertumbuhan tanaman padi miliknya dan petani sekitar tidak optimal lantaran lahan sawah kekurangan air.
Menurutnya, tanaman telah ditanam berisiko mengering apabila tidak segera mendapatkan pasokan air. Sementara petani sudah telanjur mengeluarkan modal tidak sedikit untuk memulai musim tanam.
"Kalau tidak dimasukkan air ya kering. Padahal modal pupuk, bibit, tenaga kerja sampai olah lahan sudah keluar semua. Peluang hasil panen normal kecil, malah kemungkinan puso ada," keluhnya.
2. Produksi anjlok hanya berharap balik modal

Kusnun mengaku, kini mengelola lahan sawah seluas sekitar 7.000 meter persegi. Dalam kondisi normal, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 4 hingga 5 ton gabah bersih setelah dikurangi berbagai biaya produksi.
Namun di tengah musim kemarau kali ini, ia mengaku tak berharap memperoleh keuntungan maksimal, sabab, targetnya kini hanya berupaya mengembalikan modal produksi telah dikeluarkan.
"Kalau harga gabah sekarang lagi cukup tinggi, tapi ya kita gak bisa apa-apa karena produksi terancam akibat kekeringan begini," ucap dia
3. Bendungan rusak dan belum pernah dapat bantuan pemerintah

Selain cuaca ekstrem, Kusnun menyebut kerusakan bendungan turut memperparah kondisi pertanian di wilayah sekitar. Menurutnya, keterbatasan biaya membuat para petani tidak mampu memperbaiki saluran irigasi secara swadaya.
Ia juga mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah sejak mulai menggarap lahan pada 2012. "Selama saya di sini dari 2012 sampai sekarang belum pernah tersentuh bantuan. Bendungan rusak, kami juga tidak sanggup memperbaikinya sendiri," katanya.
Minimnya kekompakan antarpetani diduga menjadi salah satu penyebab kelompok tani di wilayahnya belum mendapatkan perhatian maupun program bantuan dari pemerintah. "Kalau bisa pemerintah bisa kasih solusi untuk mengatasi krisis air, dan memperbaiki infrastruktur irigasi yang rusak," imbuhnya.


















