Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lampung Selatan Mulai Petakan Desa Rawan Bencana, Ini Fokusnya

Kab. Lampung Selatan
Lampung Selatan Mulai Petakan Desa Rawan Bencana, Ini Fokusnya
Ilustrasi Banjir (Pexel/Pok Rie)
  • Pemkab Lampung Selatan meminta camat memetakan desa yang kekurangan air bersih akibat kemarau hingga Desember, termasuk sumber air alternatif dan ketersediaan armada distribusi.
  • Mitigasi di wilayah pesisir diperkuat menyusul informasi potensi megathrust; setiap desa diminta memiliki titik kumpul dan lokasi evakuasi aman di area lebih tinggi.
  • Kesiapsiagaan didorong lewat sosialisasi jalur evakuasi kepada warga, agar masyarakat memahami lokasi aman dan pemerintah dapat mempercepat evakuasi serta bantuan darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Menghadapi ancaman bencana tak cukup dilakukan saat kondisi sudah darurat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan mulai mendorong kesiapsiagaan dari tingkat kecamatan hingga desa, termasuk memastikan warga tahu ke mana harus mencari air dan ke mana harus menyelamatkan diri.

Langkah ini dilakukan di tengah kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Desember. Sejumlah wilayah Lampung Selatan mulai mengalami kekurangan air bersih dan lahan pertanian mengering, sementara potensi bencana lain juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

  1. 1. Kekurangan air mulai terjadi di sejumlah wilayah

    Kebakaran hutan
    Ilustrasi Kebakaran Hutan (Pexel/Matthis Volquardsen)

    Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Muhammad Darmawan, meminta para camat mulai memetakan wilayah yang membutuhkan sumber air alternatif. Menurutnya, kemarau membuat kebutuhan air bersih mulai menjadi persoalan di sejumlah wilayah Lampung Selatan.

    Kondisi lahan pertanian yang mulai mengering juga menjadi perhatian Pemkab agar penanganan tidak dilakukan setelah dampaknya meluas. “Diharapkan dari sekarang para camat untuk sama-sama mencari solusi alternatif untuk mencarikan sumber-sumber air bagi daerah-daerah, desa-desa yang memang kekurangan udara,” kata Darmawan, Selasa (15/9/2026).

    Menurutnya, ketersediaan sumber air perlu diperhitungkan sejak awal. Pemerintah juga perlu memetakan armada pengangkut air, termasuk yang tersedia dari PDAM maupun pemadam kebakaran, sehingga distribusi air bisa dilakukan secara efektif ketika diperlukan.

  2. 2. Desa pesisir diminta punya titik kumpul yang jelas

    Ilustrasi Banjir
    Ilustrasi Banjir (Pexel/Pok Rie)

    Selain persoalan kemarau, Darmawan juga meminta kecamatan memperkuat mitigasi bencana lain, terutama di wilayah pesisir. Hal ini dilakukan menyusul kembali beredarnya informasi mengenai potensi megathrust di tengah masyarakat.

    Darmawan meminta informasi tersebut tidak justru memicu kekhawatiran, tetapi menjadi pengingat agar kesiapsiagaan mulai dibangun sejak sekarang. “Kita harus mulai sekarang memitigasinya, baik dari kantor, rumah, ya sosialisasi ke seluruh masyarakat,” ujarnya.

    Selain itu, camat di wilayah pesisir diminta memastikan setiap desa memiliki titik kumpul dan lokasi evakuasi yang aman. Lokasi tersebut perlu mempertimbangkan tempat yang lebih tinggi serta memiliki jalur yang mudah dikenali masyarakat.

    “Kepada camat-camat, terutama yang berada di wilayah-wilayah pesisir, memastikan bahwa setiap desa itu ada titik berkumpulnya,” tegas Darmawan.

  3. 3. Jalur evakuasi jangan cuma ada di atas kertas

    Potret evakuasi korban banjir di LampungSelatan (Dok/humas lampung selatan)
    Potret evakuasi korban banjir di LampungSelatan (Dok/humas lampung selatan)

    Darmawan juga mengimbau masyarakat perlu mengetahui lokasi tersebut dan memahami jalur yang harus dilalui jika kondisi darurat terjadi. Sebab itu, kesiapsiagaan didorong tidak hanya melalui pemetaan, tetapi juga sosialisasi hingga ke masyarakat.

    Dengan begitu, ketika bencana terjadi, warga tidak lagi mencari-cari lokasi aman dan pemerintah dapat bergerak lebih cepat.

    “Diharapkan ini adalah konsolidasi untuk memudahkan pemerintah masa depan untuk membantu, mengevakuasi kemudian memberikan bantuan yang dibutuhkan secara darurat,” kata Darmawan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More