Pendekatan Hilirisasi dan Integrasi Pertanian Lampung Penting

- Perekonomian Lampung tumbuh solid pada 2025 dengan sektor pertanian sebagai tulang punggung utama, meski menghadapi tantangan mempertahankan kinerja di tengah ketidakpastian global 2026.
- Penguatan sektor pertanian diarahkan pada hilirisasi dan integrasi hulu-hilir untuk meningkatkan nilai tambah, didukung kolaborasi lintas pihak serta inovasi melalui program Desaku Maju.
- Forum menghasilkan rekomendasi strategis seperti penguatan kelembagaan petani, sistem informasi komoditas terintegrasi, percepatan hilirisasi, dan sinergi antar pemangku kepentingan guna memperkuat rantai pasok pangan Lampung.
Bandar Lampung, IDN Times - Pendekatan hilirisasi dan integrasi hulu hingga hilir sektor unggulan Provinsi Lampung yakni pertanian dinilai penting. Tujuannya, mendorong transformasi ekonomi Lampung.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Semester I 2026 pada Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Model Bisnis Komoditas Strategis dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung.
1. Pertanian tulang punggung perekonomian Lampung

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan, perekonomian Provinsi Lampung tetap menunjukkan kinerja yang solid. Tercatat, pertumbuhan Triwulan IV 2025 sebesar 5,54 persen (yoy) dan secara keseluruhan sepanjang 2025 mencapai 5,28 persen (ctc).
"Terutama ditopang oleh kinerja sektor pertanian yang tetap kuat sebagai tulang punggung perekonomian Lampung," paparnya.
Bimo menambahkan, tingginya kinerja sektor pertanian pada periode sebelumnya menjadi tantangan ke depan. Mengingat basis pertumbuhan yang sudah tinggi, sehingga diperlukan upaya ekstra untuk mempertahankan, terutama di tengah risiko 2026 yang masih dipengaruhi ketidakpastian global.
2. Penguatan sektor pertanian perlu diarahkan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas

Ke depan, perekonomian Lampung pada Triwulan I 2026 diprakirakan tetap kuat, ditopang oleh kinerja sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan, serta penguatan permintaan domestik pada periode long festive season (Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri 2026).
Secara keseluruhan tahun 2026, ekonomi Lampung diprakirakan tumbuh solid dengan inflasi yang tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional. Oleh karena itu, penguatan sektor pertanian perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas yang didukung oleh penguatan ekosistem hulu–hilir, mulai dari perbaikan budidaya hingga pemasaran melalui kolaborasi berbagai pihak.
Sejalan dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung mendorong program strategis. Caranya, antara lain melalui program unggulan Desaku Maju yang mengembangkan ekosistem ekonomi desa secara terintegrasi, dengan inovasi sebagai kunci di tengah keterbatasan fiskal guna dorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan nasional, Kementerian Pertanian menekankan pentingnya penguatan produksi dan hilirisasi komoditas hortikultura melalui peningkatan produktivitas, modernisasi pertanian, penguatan kelembagaan petani, serta integrasi rantai pasok hulu hilir guna meningkatkan daya saing dan nilai tambah.
3. Pentingnya penguatan rantai pasok pangan terintegrasi

Sejalan dengan itu, PT Food Station Tjipinang Jaya menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok pangan yang terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi komoditas seperti food hub untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan menjaga keseimbangan pasokan, serta dukungan di sisi hulu untuk mendorong produktivitas.
Disisi lain, EPTILU sebagai agregator menekankan pengembangan model bisnis pertanian terintegrasi (closed loop) yang menghubungkan produksi hingga pemasaran melalui pendampingan dan monitoring guna menjaga kualitas, kepastian pasar, dan stabilitas harga, sekaligus perkuat peran strategis Lampung sebagai simpul perdagangan antara Sumatera dan Jawa.
4. Hasilkan sejumlah rekomendasi strategis

Diskusi juga mengangkat berbagai isu strategis, antara lain masih tingginya aliran keluar komoditas dalam bentuk bahan mentah seperti gabah, keterbatasan kualitas lahan, serta belum optimalnya nilai tambah sektor pertanian. Selain itu, pembiayaan dinilai belum cukup untuk mendorong pengembangan usaha secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan pemberdayaan yang lebih komprehensif melalui penguatan akses pasar dan kapasitas usaha.
Perbankan menyatakan kesiapan untuk mendukung melalui peningkatan konektivitas antara petani dan pelaku pasar dengan tetap menekankan pentingnya penguatan kelembagaan dan model bisnis. Sebagai tindak lanjut, forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kelembagaan petani, pengembangan sistem informasi komoditas yang terintegrasi, percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, serta penguatan sinergi antar pemangku kepentingan.
















