Mengapa Cuaca di Lampung Lebih Panas dan Gerah? Ini Penjelasan BMKG

- BMKG Lampung menjelaskan cuaca panas dan gerah disebabkan masa peralihan dari musim hujan ke kemarau yang ditandai perubahan arah angin, berkurangnya curah hujan, dan sedikitnya tutupan awan.
- Minimnya awan membuat sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi, menaikkan suhu rata-rata hingga 33 derajat Celcius dengan kelembapan tinggi yang bikin udara terasa makin gerah.
- BMKG mengimbau warga menjaga kondisi tubuh, membatasi aktivitas luar ruangan saat siang, serta waspada terhadap potensi hujan lokal dan angin kencang selama masa pancaroba.
Bandar Lampung, IDN Times - Cuaca di sejumlah wilayah Provinsi Lampung beberapa hari terakhir terasa lebih panas dan gerah dibanding biasanya. Kondisi tersebut dipengaruhi masa peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau.
Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Radin Inten II BMKG Lampung, Rudi Harianto mengatakan, wilayah Lampung saat ini mulai memasuki fase transisi musim yang ditandai perubahan pola cuaca.
“Lampung saat ini sedang mengalami masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan arah angin yang berubah-ubah dan cenderung lemah, curah hujan mulai berkurang, serta tutupan awan yang semakin sedikit,” ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (2/5/2026).
1. Paparan sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi

Rudi melanjutkan, minimnya tutupan awan membuat paparan sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa banyak penghalang. Dampaknya, suhu udara meningkat lebih cepat terutama pada pagi hingga siang hari.
“Dengan berkurangnya tutupan awan, sinar matahari dapat langsung menyinari permukaan bumi. Hal ini menyebabkan suhu udara terasa lebih terik dari biasanya, terutama pada siang hari,” ucapnya.
2. Rata-rata suhu cuaca 33 derajat Celcius

BMKG mencatat suhu harian rata-rata di Lampung saat ini mencapai sekitar 33 derajat Celcius. Meski belum tergolong ekstrem, kondisi tersebut tetap memicu rasa panas berlebih di masyarakat.
Selain suhu udara, tingkat kelembapan yang masih cukup tinggi juga menjadi faktor penyebab cuaca terasa gerah. Kelembapan tinggi membuat keringat sulit menguap, sehingga proses pendinginan alami tubuh tidak berlangsung optimal.
“Udara yang lembap menyebabkan tubuh terasa lebih gerah karena keringat tidak mudah menguap. Ditambah lagi angin yang relatif lemah membuat sirkulasi udara kurang lancar, sehingga panas terasa terperangkap,” jelas Rudi.
3. Imbau warga tetap waspada perubahan cuaca mendadak

Berdasarkan analisis BMKG Lampung, memasuki Mei 2026 sebagian besar wilayah Lampung mulai berada pada awal musim kemarau. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi secara lokal pada masa pancaroba.
Oleh karenanya, Rudi mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari ketika suhu udara sedang tinggi.
Selain itu, warga juga diminta tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak selama masa peralihan musim, termasuk hujan singkat disertai angin kencang yang dapat terjadi pada sore hingga malam hari.
“Masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung saat beraktivitas di bawah sinar matahari langsung, serta menghindari aktivitas berat pada siang hari untuk mencegah dehidrasi dan gangguan kesehatan,” imbuhnya.


















