Puncak Kemarau 113 Hotspot Terdeteksi di Lampung, Mesuji Terbanyak

- Sebanyak 113 hotspot terdeteksi di Lampung pada 15 September 2026, dengan Mesuji mencatat 61 titik terbanyak; jumlah ini lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya.
- September menjadi puncak kemarau di sejumlah wilayah Lampung. Kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran, sehingga warga diimbau tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api.
- BMKG mengingatkan hotspot adalah anomali panas, bukan ukuran suhu langsung. Hujan lokal, petir, dan angin kencang masih mungkin terjadi; warga diminta memantau peringatan cuaca.
Lampung Selatan, IDN Times - Sebanyak 113 titik panas atau hotspot terdeteksi tersebar di sejumlah wilayah Provinsi Lampung, Selasa (15/9/2026). Kabupaten Mesuji menjadi wilayah dengan sebaran titik panas paling banyak dengan total 61 titik.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung, Anriko mengatakan, jumlah titik panas tersebut masih lebih rendah dibandingkan kondisi pada hari sebelumnya.
"Dari total 113 titik panas yang terpantau, sebanyak 61 titik berada di wilayah Mesuji. Kondisi ini menjadi perhatian, karena wilayah Lampung saat ini masih berada dalam periode musim kemarau," ujarnya dikonfirmasi.
1. Pantau anomali panas

Cuaca panas terik di Bandar Lampung, Senin (14/9/2026). (IDN Times/Tama Yuhda Wiguna). Anriko menjelaskan, September 2026 menjadi salah satu periode puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Lampung. Kondisi tersebut membuat lingkungan lebih kering, sehingga potensi terjadinya kebakaran lahan perlu diwaspadai.
"Betul, bulan September ini menjadi puncak musim kemarau di wilayah Lampung. Semoga masyarakat bisa menahan diri untuk tidak menyulut api," katanya.
Keberadaan titik panas terdeteksi satelit tidak secara langsung menunjukkan besaran suhu di suatu lokasi. Menurutnya, satelit mendeteksi suatu titik memiliki kondisi panas lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya. "Kerja ini dikenal sebagai anomali panas," lanjut dia.
2. Warga diminta tak membakar lahan

ilustrasi bakar sampah (ecology.wa.gov) Di tengah kondisi kemarau, Andiko melanjutkan, masyarakat diimbau menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.
Pasalnya, kondisi atmosfer relatif lebih kering dapat membuat potensi hujan berkurang dan periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah.
"Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak, terutama di daerah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air. Warga perlu mewaspadai penurunan kualitas udara dan paparan asap, apabila terjadi kebakaran lahan atau vegetasi di sekitar permukiman," ucapnya.
3. Kemarau bukan berarti tak ada hujan

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda) Meski September menjadi periode puncak kemarau di sejumlah wilayah, Anriko mengingatkan, musim kemarau bukan berarti hujan sama sekali tidak turun. Hujan lokal masih dapat terjadi di sejumlah wilayah, lantaran dalam kondisi tertentu juga berpotensi disertai petir maupun angin kencang.
Kemudian masyarakat diminta tetap memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, perjalanan, kegiatan pertanian, maupun aktivitas lain yang sensitif terhadap perubahan cuaca.
"Bagi masyarakat beraktivitas di luar ruangan, khususnya pada siang hari disarankan mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan pelindung dari paparan matahari, serta menjaga kondisi tubuh," imbuh Anriko.


















