Nihil Erupsi, Sisa Debu Vulkanik Masih Dirasa Warga Bandar Lampung

- Warga Bandar Lampung masih menemukan debu kasar cokelat kehitaman di rumah, kendaraan, dan lingkungan, terutama sore hingga malam, meski kondisinya lebih ringan dibanding akhir pekan sebelumnya.
- Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau menjelaskan debu tersebut kemungkinan merupakan endapan abu lama yang kembali beterbangan setelah mengering dan tertiup angin.
- Gunung Anak Krakatau tidak mengalami erupsi selama empat hari terakhir, tetapi aktivitas vulkanik berupa kegempaan masih tercatat terjadi.
Bandar Lampung, IDN Times - Debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih ditemukan di sejumlah permukiman warga Kota Bandar Lampung,. Padahal gunung api tersebut tidak mengalami erupsi selama empat hari terakhir.
Warga Tanjung Senang, Salsa mengatakan, debu bertekstur kasar menyerupai abu vulkanik masih acapkali ditemukan ketika membereskan atau membersihkan rumah.
"Iya, kalau pagi-pagi pas nyapu itu lantai teras rumah masih terasa berdebu, di kaca meja sama kendaraan juga masih nempel," ujarnya dimintai keterangan, Senin (14/9/2026).
1. Masih terasa tapi jauh lebih baik dari sebelumnya

Kaca kendaraan warga Bandar Lampung masih terdampak debu dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna). Debu vulkanik tersebut kian terasa saat menjelang waktu sore hingga malam hari. Namun, kondisi itu disebut masih jauh lebih baik dibanding saat erupsi kemarin.
"Debunya terasa iya, kasat mata malah masih terlihat, tapi memang gak separah akhir pekan kemarin," kata Salsa.
Kondisi serupa turut dirasakan warga lainnya Valen. Ia mengatakan, material ditemukan di lingkungan rumahnya berbeda dari debu biasa. "Masih, warnanya itu cokelat kehitaman, kalau dipegang atau diinjak rasanya kasar," ucap dia.
2. Disebut hasil endapan abu vulkanik sebelumnya

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Karakter, Jumat (11/9/2026). (Dok. Basarnas Lampung) Terkait kondisi tersebut, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno menjelaskan, debu masih ditemukan warga tidak otomatis berasal dari erupsi baru.
Menurutnya, abu sebelumnya jatuh dan mengendap di permukaan dapat kembali beterbangan ketika mengering dan tertiup angin.
"Material abu sebelumnya dapat menempel di seperti pohon, genteng, kendaraan dan lingkungan rumah. Jadi ketika kondisi kembali kering, abu dapat terangkat dan bertebaran lagi," sebutnya.
3. Nihil erupsi tapi kegempaan masih terjadi

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung). Suwarno melanjutkan, keberadaan debu di teras rumah atau kendaraan tidak dapat langsung dijadikan tanda, bahwa Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.
Pasalnya, arah angin juga turut menentukan hembusan material vulkanik telah mengendap tersebut bergerak.
"Sampai dengan saat ini, meski secara visual tidak terlihat adanya erupsi, tapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau seperti kegempaan tercatat masih terjadi," imbuhnya.



















