Kasus HIV di Lampung Meningkat, Didominasi Usia Produktif 25-49 Tahun

- Kasus HIV di Lampung terus meningkat hingga Maret 2026 mencapai 6.696 ODHIV, dengan sekitar 70 persen pasien menjalani terapi antiretroviral dan 58 persen telah menekan viral load.
- Kelompok usia produktif 25–49 tahun menjadi yang paling terdampak, dengan Kota Bandar Lampung mencatat jumlah kasus tertinggi dibandingkan wilayah lain di provinsi tersebut.
- Penularan HIV di Lampung didominasi hubungan seksual tidak aman, namun program pencegahan seperti deteksi dini, penggunaan kondom, dan layanan PrEP dinilai efektif menekan laju penularan.
Bandar Lampung, IDN Times - Tren kasus HIV/AIDS di Provinsi Lampung beberapa tahun terakhir meningkat. Kondisi ini dipengaruhi semakin masifnya upaya penemuan kasus secara aktif, baik melalui penjangkauan populasi kunci maupun pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Lampung, Edwin Rusli mengatakan, peningkatan ini justru menunjukkan upaya deteksi dini yang semakin optimal, meski capaian masih belum memenuhi target nasional.
“Estimasi penemuan kasus HIV yang ditetapkan Kementerian Kesehatan untuk Lampung sebesar 9.374 orang. Saat ini, kita baru mencapai sekitar 71 persen ODHIV yang ditemukan dan masih hidup,” ujarnya dikonfirmasi, Selasa (5/5/2026).
1. Kasus terus bertambah, capai 6.696 ODHIV

Berdasarkan data kumulatif Dinkes Provinsi Lampung, jumlah orang dengan HIV (ODHIV) di Lampung terus mengalami peningkatan. Pada 2024, tercatat sebanyak 5.495 ODHIV ditemukan dan masih hidup, kemudian meningkat menjadi 6.474 pada 2025.
Sementara hingga Maret 2026, jumlah tersebut kembali naik menjadi 6.696 ODHIV. Selain itu, capaian pengobatan dan pengendalian virus juga masih perlu ditingkatkan.
Saat ini tercatat sekitar 70 persen ODHIV sudah menjalani terapi antiretroviral (ART), dan 58 persen di antaranya telah mencapai kondisi viral load tersupresi.
“Ini menunjukkan masih perlu akselerasi program agar target pengendalian HIV bisa tercapai,” jelas Edwin.
2. Didominasi usia 25-49 tahun, Bandar Lampung tertinggi

Edwin menyebutkan, kelompok usia yang paling banyak terdampak HIV/AIDS di Lampung ialah usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun. Dari sisi wilayah, Kota Bandar Lampung menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya.
“Ini menjadi perhatian serius karena kelompok usia produktif merupakan tulang punggung ekonomi,” katanya.
3. Hubungan seksual tidak aman jadi faktor utama

Dinkes Provinsi Lampung menyimpulkan, faktor utama penyebab penularan HIV di wilayah setempat masih didominasi hubungan seksual tidak aman, terutama pada pasangan heteroseksual.
Selain itu, penularan juga terjadi akibat penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian. Khususnya pada pengguna narkoba suntik, hingga faktor lain seperti transfusi darah terkontaminasi dan penularan dari ibu ke bayi.
“Penularan dari ibu ke anak bisa terjadi selama kehamilan, persalinan, hingga menyusui jika tidak ditangani dengan baik,” beber Edwin.
4. Program pencegahan dinilai efektif tekan penularan

Meski tren kasus meningkat, Edwin menilai program pencegahan yang dijalankan pemerintah pusat dan daerah selama ini cukup efektif dalam menekan laju penularan. Salah satunya melalui deteksi dini dan pengobatan lebih cepat, itu mampu menurunkan jumlah virus dalam tubuh pasien hingga tidak dapat menularkan ke orang lain.
“Konsepnya sesuai dengan prinsip WHO, undetectable equals untransmittable. Jika viral load tidak terdeteksi, maka tidak menularkan,” jelasnya.
Selain itu, upaya pencegahan juga dilakukan melalui penggunaan kondom, pemeriksaan viral load secara berkala, serta program Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). Ia menambahkan, akses layanan pemeriksaan HIV saat ini sudah tersedia di seluruh puskesmas di Provinsi Lampung.
Sementara untuk pengobatan antiretroviral (ARV), layanan tersedia di fasilitas kesehatan yang telah memiliki layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) di 15 kabupaten/kota.
“Harapannya masyarakat tidak ragu untuk melakukan tes HIV dan segera memulai pengobatan jika terdiagnosis, karena layanan sudah semakin mudah diakses,” imbuh kadinkes.

















