Ekspor-Impor Lampung Melemah, tapi Neraca Surplus 263,20 Juta Dolar

- Ekspor Lampung Maret 2026 turun menjadi US$388,42 juta, didominasi lemak dan minyak nabati, dengan Amerika Serikat sebagai tujuan utama.
- Impor Lampung juga menurun ke US$125,21 juta, terutama dari alat transportasi dan bahan pangan, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok terbesar.
- Neraca perdagangan Lampung tetap surplus US$263,20 juta pada Maret 2026 karena ekspor jauh lebih tinggi dibanding impor.
Bandar Lampung, IDN Times -Aktivitas ekspor dan impor menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kinerja perekonomian suatu daerah, termasuk Provinsi Lampung. Pergerakan barang keluar dan masuk wilayah ini tidak hanya mencerminkan daya saing komoditas unggulan, tetapi juga menunjukkan dinamika permintaan pasar global serta kebutuhan domestik.
Dalam beberapa waktu terakhir, perdagangan luar negeri Lampung menunjukkan adanya perubahan tren. Meski menghadapi tekanan pada aktivitas ekspor dan impor, kinerja neraca perdagangan daerah ini masih mampu bertahan dan mencatatkan kondisi yang relatif positif.
Berikut ini IDN Times memberikan informasi seputar Ekspor dan Impor Provinsi Lampung periode Maret 2026 menurut data dari BPS Lampung terbaru.
1. Ekspor Lampung turun, didominasi lemak dan minyak nabati

Nilai ekspor Lampung Maret 2026 tercatat sebesar US$388,42 juta, turun dari US$578,05 juta pada Maret 2025. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari–Maret 2026 juga menurun 12,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Komoditas ekspor Lampung masih didominasi oleh lemak dan minyak hewan atau nabati dengan nilai mencapai US$658,69 juta atau sekitar 47,70 persen dari total ekspor. Selain itu, komoditas utama lainnya meliputi bahan bakar mineral serta kopi, teh, dan rempah-rempah.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan nilai ekspor mencapai US$209,37 juta, disusul Tiongkok sebesar US$194,72 juta dan Pakistan sebesar US$154,65 juta. Sebagian besar ekspor, yakni 83,38 persen, dikirim melalui pelabuhan di Provinsi Lampung.
2. Impor ikut menurun, didominasi alat transportasi dan pangan

Nilai impor Lampung Maret 2026 tercatat hanya sebesar US$125,21 juta, turun dibandingkan Maret 2025 yang mencapai US$165,95 juta. Secara kumulatif, impor Januari–Maret 2026 bahkan turun cukup dalam hingga 54 persen.
Komoditas impor terbesar berasal dari kelompok kereta api, trem, dan bagiannya dengan nilai sekitar US$66,03 juta atau 20,84 persen. Selain itu, impor juga didominasi oleh ampas dan sisa industri makanan serta pupuk.
Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$94,02 juta atau sekitar 29,67 persen. Disusul Tiongkok dan Australia yang masing-masing menyumbang impor dalam jumlah signifikan, terutama untuk mesin serta komoditas hewan hidup.
3. Neraca Perdagangan surplus US$263,20 Juta

Neraca perdagangan Provinsi Lampung pada Maret 2026 tercatat surplus sebesar US$263,20 juta. Surplus ini diperoleh dari selisih nilai ekspor sebesar US$388,42 juta dan impor sebesar US$125,21 juta pada periode yang sama.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, neraca perdagangan Lampung juga masih mencatatkan surplus cukup besar, seiring total nilai ekspor tetap lebih tinggi dibandingkan impor. Penurunan nilai impor mencapai 54 persen secara kumulatif turut menjadi faktor utama memperlebar selisih neraca perdagangan.
Jika dilihat dari struktur perdagangan, kontribusi terbesar terhadap surplus masih berasal dari kelompok komoditas utama ekspor seperti lemak dan minyak hewan atau nabati, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, impor relatif lebih kecil didominasi oleh komoditas tertentu seperti alat transportasi dan bahan baku industri, sehingga tidak mampu mengejar nilai ekspor secara keseluruhan.


















