Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

April 2026 Lampung Inflasi 0,53 Persen, BPS Beber Data Lengkap

April 2026 Lampung Inflasi 0,53 Persen, BPS Beber Data Lengkap
ilustrasi kuliner (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • BPS Lampung mencatat inflasi April 2026 sebesar 0,53 persen yoy, dipicu kenaikan harga pada kelompok makanan, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
  • Beberapa komoditas seperti emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi; sementara sektor pendidikan dan rekreasi alami deflasi signifikan.
  • Seluruh empat kabupaten/kota di Lampung alami inflasi yoy, dengan Mesuji tertinggi 1,35 persen dan Bandar Lampung terendah 0,33 persen berdasarkan Indeks Harga Konsumen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - Perkembangan harga berbagai komoditas April 2026 di Provinsi Lampung secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Itu berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Lampung di empat kabupaten/kota.

Imbas kondisi tersebut, memicu inflasi periode terlapor 0,53 persen year on year (yoy). Inflasi yoy tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks beberapa kelompok pengeluaran.

1. Ini kelompok pemicu inflasi

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution menjelaskan kelompok pengeluaran harga naik memicu inflasi April 2026 yakni, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,66 persen; kelompok pakaian dan alas kaki (0,63 persen); kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,38 persen).

Inflasi juga dipicu dari kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,55 persen; kelompok kesehatan (0,33 persen); kelompok transportasi (1,82 persen); kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan (0,67 persen); kelompok penyediaan makanan dan minuman/ restoran 1,82 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (8,07 persen).

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada April 2026, antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin (skm). Selain itu dari minyak goreng, mobil, telur ayam ras, nasi dengan lauk, sigaret kretek tangan (skt).

"Bimbingan belajar, angkutan udara, ikan layang atau ikan benggol, shampo, bayam, ikan nila, bahan bakar rumah tangga, ikan kembung, kontrak rumah, baju kaus tanpa kerah atau t-shirt pria, dan sewa rumah juga beri andil," jelas Ahmad, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi merujuk month to montoh (m-to-m) pada April 2026, antara lain, minyak goreng, ikan nila, sigaret kretek mesin (skm), beras, cabai merah, angkutan udara. Selain itu dari bahan bakar rumah tangga, mie, kangkung, parfum, bayam, air kemasan, ayam hidup, telepon seluler, nasi dengan lauk, shampo, kasur, pepaya, tempe, dan deodorant.

2. Ada kelompok pengeluaran alami deflasi

ilustrasi rekreasi di alam terbuka (pexels.com/Cliford Mervil)
ilustrasi rekreasi di alam terbuka (pexels.com/Cliford Mervil)

Di sisi lain, ada kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks (deflasi), yaitu kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,07 persen; dan kelompok pendidikan 17,97 persen. Komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y, antara lain sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, bawang putih, bawang merah, cabai merah, tomat, makanan hewan peliharaan, vitamin.

Deflasi juga terjadi pada sekolah dasar, kelapa, susu bubuk untuk balita, pembersih lantai, celana panjang jeans pria, bensin, bedak, santan jadi, obat gosok, kentang, sabun detergen bubuk, dan celana panjang katun pria.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m, antara lain, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan antar kota, cumi-cumi. Ada juga dari tarif kendaraan travel, makanan hewan peliharaan, ketimun, makanan ringan/snack, sabun cair/cuci piring, tarif kendaraan roda 2 online, pembersih lantai, tomat, jeruk, celana panjang jeans pria, nugget, telur puyuh dan sosis.

3. Empat kabupaten/kota Lampung inflasi

Ilustrasi Inflasi (Foto: IDN Times)
Ilustrasi Inflasi (Foto: IDN Times)

Ahmad menyatakan, BPS mencatat terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,35 pada April 2025 menjadi 110,93 pada April 2026. Apabila merujuk perbandingan tingkat inflasi m-to-m tercatat inflasi sebesar 0,55 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,04 persen

Pada April 2026, seluruh kota IHK di Provinsi Lampung empat kabupaten/kota mengalami inflasi secara year on year (y-on-y). Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji sebesar 1,35 persen, dengan IHK sebesar 115,71.

"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi year on year yaitu emas perhiasan sebesar 0,81 persen; daging ayam ras; beras; terong; dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,14 persen," paparnya.

4. Bandar Lampung inflasi terendah

Tugu Adipura Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Tugu Adipura Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Ahmad mengatakan, inflasi yoy terendah terjadi di Kota Bandar Lampung yaitu sebesar 0,33 persen dengan IHK sebesar 109,27. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi yoy, yaitu emas perhiasan sebesar 0,48 persen; daging ayam ras sebesar 0,19 persen; minyak goreng sebesar 0,14 persen; mobil sebesar 0,13 persen; dan sigaret kretek mesin (skm) sebesar 0,10 persen.

Sedangkan secara m-to-m inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji yaitu sebesar 0,77 persen, dengan IHK sebesar 115,71. Komoditas yang dominan memberikan andi inflasi m-to-m, yaitu bawang putih sebesar 0,18 persen; minyak goreng sebesar 0,16 persen; tomat sebesar 0,09 persen; sigaret kretek mesin (skm) dan ikan lele masing-masing sebesar 0,08 persen.

Sementara itu, inflasi m-to-m terendah terjadi di Kota Metro yaitu sebesar 0,17 persen. Komoditas yang dominan dalam memberikan andil inflasi m-to-m yaitu minyak goreng sebesar 0,07 persen; cabai merah; kangkung; kopi siap saji; dan bawang merah masing-masing sebesar 0,04 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More