Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi harimau
ilustrasi harimau (pexels.com/Supriyo Ghoshal)

Intinya sih...

  • Bekas jejak menunjukkan karakteristik harimau Sumatra

  • Titik temuan berada dekat Taman Nasional Way Kambas

  • Konflik manusia dan satwa masih rendah, tetapi warga diminta waspada

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Timur, IDN Times – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung memastikan temuan jejak kaki satwa di area perkebunan nanas milik PT Great Giant Pineapple (GGP), Kabupaten Lampung Timur merupakan tapak Harimau Sumatra.

Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo mengatakan, kepastian tersebut diperoleh setelah dilakukan rapid analysis terhadap laporan temuan petugas keamanan perusahaan. Analisis berdasarkan dokumentasi foto jejak dengan pembanding ukuran bungkus rokok sebagai standar skala.

“Dari hasil analisis morfologi jejak, dapat disimpulkan bahwa jejak tersebut paling konsisten mengarah pada Harimau Sumatra,” ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).

1. Bekas jejak perlihatkan karakter umum harimau

Tangkap layar petugas melakukan pengecekan temuan diduga jejak kaki harimau di Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

Berdasarkan hasil kajian, Itno menjelaskan, jejak menunjukkan empat jari telapak kaki tegas tanpa bekas kuku, ciri khas kucing besar (Felidae). Bantalan tengah telapak kaki tampak besar dengan tiga lekukan posterior merupakan karakter umum jejak harimau.

“Lebar jejak diperkirakan sekitar 13 hingga 16 sentimeter, dengan panjang 14 hingga 18 sentimeter," rincinya.

Ukuran tersebut dikatakan jauh lebih besar, bila dibandingkan dengan jejak satwa lain seperti macan dahan. "Hasil analisis juga tidak menunjukkan bekas kuku, sebagaimana pada anjing atau kelompok kanidae,” lanjutnya.

2. Titik temuan sekitar sekitar 350 meter dari kawasan TNWK

Tangkap layar petugas melakukan pengecekan temuan diduga jejak kaki harimau di Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

Itno menyebutkan, temuan jejak tersebut diperkuat oleh kondisi lokasi. Dari data koordinat, titik penemuan jejak berada sekitar 350 meter dari kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Kawasan itu diketahui sebagai habitat penting berbagai satwa dilindungi, termasuk harimau Sumatra, dan berfungsi sebagai koridor jelajah satwa. Menurutnya, kemunculan jejak di area perkebunan yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional ini merupakan pola yang masih tergolong wajar.

“Jadi pergerakan harimau dewasa bisa saja terjadi untuk mencari mangsa, memperluas teritori, atau sekadar melintas. Ini merupakan perilaku alami satwa liar,” katanya.

3. Tingkat konflik tergolong rendah, warga diminta tetap waspada

Tangkap layar petugas melakukan pengecekan temuan diduga jejak kaki harimau di Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

Merujuk analisis risiko konflik mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor P.48 Tahun 2008, BKSDA menilai tingkat konflik manusia dan satwa dalam kasus ini masih berada pada kategori rendah.

Pasalnya, kemunculan satwa hanya terdeteksi melalui jejak dan belum menimbulkan kerugian ekonomi maupun korban. Namun, BKSDA tetap menekankan kewaspadaan serta langkah mitigasi lebih lanjut.

“Hasil analisis ini bersifat sementara. Diperlukan identifikasi lanjutan di lapangan, serta koordinasi dengan para pihak untuk mencegah potensi konflik di kemudian hari,” imbuh Itno.

Editorial Team