IPM Lampung 2026 Capai 74,74, Masuk Kategori Pembangunan Tinggi

IPM Lampung 2026 mencapai 74,74, naik 0,76 poin dari 2025 dan dikategorikan sebagai pembangunan manusia tinggi.
Kenaikan IPM ditopang umur harapan hidup 74,93 tahun, harapan sekolah 12,80 tahun, rata-rata sekolah 8,70 tahun, serta pengeluaran riil per kapita Rp12,327 juta.
TPAK Agustus 2026 naik menjadi 70,76 persen dan pengangguran terbuka turun 0,20 poin; produksi padi diproyeksikan 3,09 juta ton GKG, turun 4,89 persen.
Bandar Lampung, IDN Times - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung tahun 2026 dilaporkan mencapai 74,74. Angka tersebut meningkat 0,76 poin, bila dibandingkan dengan capaian 2025 kemarin.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, mengatakan bahwa peningkatan IPM tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah dimensi pembangunan manusia di Lampung.
"Capaian IPM Lampung 2026 mencapai 74,74 atau meningkat 0,76 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, pembangunan manusia di Lampung masuk kategori tinggi," ujarnya saat menyampaikan laporan kinerja ekonomi pada Triwulan III 2026.
1. Umur harapan hidup Lampung capai 74,93 tahun

Konferensi pers laporan kinerja ekonomi Provinsi Lampung pada Triwulan III. (Dok. Pemprov Lampung). Ahmadriswan menyampaikan, peningkatan IPM Lampung ditopang sejumlah indikator utama, salah satunya dimensi kesehatan. Umur harapan hidup saat lahir di Lampung pada 2026 tercatat mencapai 74,93 tahun.
Selain kesehatan, indikator pendidikan juga menunjukkan capaian positif. Harapan lama sekolah tercatat 12,80 tahun, sedangkan rata-rata lama sekolah mencapai 8,70 tahun.
"Perkembangan indikator tersebut menjadi bagian penting dalam melihat kualitas pembangunan manusia, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga kesehatan dan pendidikan," katanya.
2. Pengeluaran riil per kapita naik Rp644 Ribu

Ilustrasi pengeluaran dan pengelolaan keuangan. (Pexels/Ahsanjaya) Dari sisi standar hidup layak, Ahmadriswan melanjutkan, pengeluaran riil per kapita masyarakat Lampung pada 2026 tercatat sebesar Rp12,327 juta. Angka ini meningkat sekitar Rp644 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi salah satu faktor turut mendukung peningkatan IPM Lampung.
Menurutnya, indikator pembangunan manusia perlu dilihat secara menyeluruh karena masing-masing dimensi saling berkaitan dalam menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Perkembangan positif juga terlihat dari indikator ketenagakerjaan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Lampung pada Agustus 2026 tercatat 70,76 persen.
"Angka ini meningkat 0,32 poin persentase dibandingkan Agustus 2025. Sementara tingkat pengangguran terbuka turun 4,01 persen atau berkurang 0,20 poin persentase dibanding periode sama tahun sebelumnya. Data ketenagakerjaan ini memberikan gambaran mengenai kondisi pasar kerja dan keterlibatan penduduk dalam aktivitas ekonomi di Lampung," jelasnya.
3. Produksi padi Lampung diproyeksi 3,09 juta ton

Ilustrasi Padi sebagai Harapan dan Tanda Cinta Seorang Tuan Selain indikator pembangunan manusia, BPS juga mencatat perkembangan sektor pertanian Lampung. Produksi padi 2026, berdasarkan angka sementara diperkirakan mencapai 3.093,57 ribu ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut turun 4,89 persen dibandingkan produksi tahun 2025.
"Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras Lampung diperkirakan mencapai 1,78 juta ton," ucapnya.
Sementara produksi jagung pipilan kering 2026 diperkirakan mencapai 1.254,58 ribu ton. "Jumlah ini sedikit turun 0,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya," sambung Ahmadriswan.
4. Dorong data jadi dasar kebijakan

ilustrasi padi (pexels.com/Quang Nguyen Vinh) Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo menyambut baik informasi dan laporan tersebut. Menurutnya, data statistik penting untuk menjadi dasar dalam melihat capaian, sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan pembangunan daerah.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh pihak tetap optimistis terhadap berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan pemerintah daerah.
"Data statistik ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam memahami kondisi sosial ekonomi Lampung. Berbagai data dapat mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran," imbuhnya.




















