Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Erupsi Mulai Mereda, Gunung Anak Krakatau Disebut Bangun Tubuh Baru
Pengamatan aktivitas Gunung Anak Karakter, Jumat (11/9/2026). (Dok. Basarnas Lampung)
  • Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menurun pada 11 September 2026, ditandai berkurangnya energi dorongan material vulkanik dan belum adanya erupsi hari itu.
  • Meski mereda, aktivitas magma belum habis; material vulkanik sejak Juli 2026 menumpuk untuk membangun kembali tubuh gunung setelah kubahnya longsor pada 2018.
  • Masyarakat diminta mematuhi larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif, tetap waspada, serta memakai masker dan pelindung mata bila terdampak abu vulkanik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menurun dan pada Jumat belum tercatat erupsi. Material vulkanik yang dikeluarkan sejak Juli 2026 disebut membentuk kembali tubuh gunung.
  • Who?
    Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, menyampaikan kondisi tersebut serta mengimbau nelayan, wisatawan, pendaki, dan warga pesisir mematuhi rekomendasi keselamatan.
  • Where?
    Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Larangan aktivitas berlaku dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif.
  • When?
    Penurunan aktivitas diamati pada Jumat, 11 September 2026. Proses penumpukan material untuk membentuk tubuh gunung kembali berlangsung sejak Juli 2026 hingga saat ini.
  • Why?
    Energi yang mendorong material vulkanik dari dalam gunung ke permukaan berkurang. Aktivitas magma disebut belum habis, sementara material yang keluar menumpuk setelah kubah gunung longsor pada 2018.
  • How?
    Masyarakat diminta tidak memasuki radius tiga kilometer, tetap waspada, dan mengikuti rekomendasi Badan Geologi serta PVMBG. Warga terdampak abu dianjurkan memakai masker, pelindung mata, atau helm berkaca saat berkendara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda mulai menunjukkan penurunan, Jumat (11/9/2026). Gunung berapi yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu bahkan belum kembali mengalami erupsi.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan penurunan aktivitas tersebut terlihat dari berkurangnya energi yang mendorong material vulkanik dari dalam gunung menuju permukaan.

"Sudah mulai menurun erupsinya. Bahkan sementara hari ini pun belum ada aktivitas erupsi," ujarnya dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).

1. Anak Krakatau disebut sedang bangun tubuh baru

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Karakter, Jumat (11/9/2026). (Dok. Basarnas Lampung)

Meski aktivitas erupsi mereda, Suwarno menegaskan kondisi tersebut bukan berarti aktivitas magma Gunung Anak Krakatau telah habis. Menurutnya, energi yang mendorong material dari dalam gunung ke permukaan saat ini hanya mulai berkurang.

Dari hasil pengamatan terbaru, perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau yang terlihat semakin melebar akibat aktivitas erupsi dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari proses alami gunung api.

"Sebetulnya Gunung Anak Krakatau ini lagi membangun tubuhnya kembali, karena kubah yang tahun 2018 sudah longsor. Makanya sekarang lagi membangun tubuhnya kembali," katanya.

2. Siklus erupsi setiap gunung api berbeda

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).

Lebih lanjut, material vulkanik yang terus dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau secara bertahap akan menumpuk dan membentuk kembali tubuh gunung. Proses itu disebut telah berlangsung sejak Juli 2026 hingga saat ini.

"Masalah pengaruh melebar itu nantinya akan tertutup kembali oleh material yang mereka keluarkan. Contohnya mulai dari bulan Juli sampai saat ini," katanya.

Terkait potensi terjadinya erupsi besar, ia menambahkan, setiap gunung api memiliki siklus aktivitas masing-masing. Karena itu, pola erupsi satu gunung tidak dapat dijadikan patokan untuk gunung api lainnya.

"Siklusnya berbeda-beda, ada yang lima tahun, ada yang satu tahun, ada yang 10 tahun, ada pula delapan tahun," lanjut dia.

3. Warga diminta tak panik dan patuhi radius bahaya

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

Suwarno kembali mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, wisatawan, dan pendaki, untuk tetap mematuhi rekomendasi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Hingga saat ini, masyarakat dilarang mendekati maupun melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

"Terkhusus masyarakat pesisir diharapkan tetap tenang beraktivitas seperti biasa, yang penting tetap waspada dan jangan terpancing isu-isu yang tidak jelas kebenarannya," imbaunya.

4. Warga terdampak abu diminta pakai masker

Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Bagi masyarakat terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Suwarno tetap menyarankan penggunaan masker untuk mengurangi risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menggunakan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan, guna mencegah iritasi akibat paparan abu vulkanik.

"Gunakan masker dan pelindung mata seperti kacamata. Kalau bepergian menggunakan kendaraan roda dua, gunakan helm yang ada kacanya agar tidak teriritasi abu vulkanik," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article