Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Update Erupsi GAK: OMC 2 Sorti, Bisa Diperpanjang hingga 12 September

Bandar Lampung
Update Erupsi GAK: OMC 2 Sorti, Bisa Diperpanjang hingga 12 September
Persiapan dan briefing teknis di Bandara Raden Inten II, Lampung, sebelum pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di langit Lampung Timur, Kamis (27/8). (Dok. BNPB)
  • Gunung Anak Krakatau erupsi 17 detik pada Kamis pagi, beramplitudo maksimum 47 mm. Statusnya tetap Level III Siaga, sementara debu vulkanik tidak terdeteksi satelit.
  • Pemantauan pemerintah mencatat aktivitas vulkanik cenderung menurun, ditandai pelepasan magma berkurang dan jeda erupsi renggang. OMC telah dua sorti dan berpotensi diperpanjang hingga 12 September.
  • Pemerintah membagikan masker, melakukan penyiraman, menyiagakan layanan kesehatan, serta memantau abu. Warga dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif dan diminta mengikuti informasi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times – Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau Pemerintah Provinsi Lampung. Pasalnya, gunung yang berada di Selat Sunda tersebut kembali erupsi, Kamis (10/9/2026) pagi.

Pemantauan dilakukan melalui Pusdalops BPBD Provinsi Lampung bersama PVMBG dan instansi terkait. Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga).

  1. 1. Gunung Anak Krakatau erupsi 17 detik

    IMG-20260909-WA0012.jpg
    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

    Kepala BPBD Lampung, Aswarodi menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan, Gunung Anak Krakatau mengalami satu kali erupsi pagi tadi pukul 09.10 WIB dengan durasi 17 detik. Status erupsi dinyatakan selesai.

    Aktivitas erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 47 mm. Saat erupsi terjadi, kondisi cuaca cerah hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

    Sementara itu, berdasarkan citra satelit Himawari 9 pada pukul 07.00 WIB dari terminal BMKG, sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi.

    Aswarodi mengatakan, meski kembali mengalami erupsi, hasil pemantauan pemerintah menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau cenderung menurun. Sebagai perbandingan, Rabu (9/9/2026) pukul 10.00 WIB, Pemprov Lampung bersama Kesbangpol, DLH, BPBD, Basarnas, Lanal Lampung, dan ITERA melakukan pemantauan dari KRI Lepu-861 TNI AL.

  2. 2. OMC sudah dua sorti, bisa diperpanjang hingga 12 September

    BNPB, Gunung Anak Krakatau
    Metode Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berupa cloud seeding untuk meluruhkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dokumentasi BNPB)

    Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik cenderung menurun. Kondisi tersebut ditandai dengan berkurangnya pelepasan magma, jeda erupsi yang semakin renggang, serta dominasi awan putih. Hari ini, BPBD bersama Basarnas kembali melakukan pemantauan langsung untuk memastikan kondisi terkini di lapangan.

    Pemprov Lampung juga berkoordinasi bersama BNPB untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah terdampak. Pelaksanaan OMC telah dilakukan sebanyak 2 sorti kemarin hari dan dilanjutkan hari ini.

    "Apabila kondisi masih membutuhkan penanganan, kegiatan OMC akan diperpanjang hingga 12 September 2026," kata Aswarodi.

  3. 3. Masker didistribusikan ke masyarakat terdampak

    IMG_20260908_171308.jpg
    Bank Syariah Indonesia (BSI) Area Lampung membagikan masker gratis kepada masyarakat. (Dok. BSI).

    Aswarodi menjelaskan, selain OMC, pemerintah melakukan sejumlah langkah untuk menangani dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemerintah mendistribusikan masker kepada masyarakat terdampak dan berpotensi terdampak.

    Penyiraman juga dilakukan di sejumlah wilayah untuk mengurangi paparan abu. Di sektor kesehatan, pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan Tim Krisis Kesehatan Dinkes dalam memberikan pelayanan kesehatan.

    Selain itu, pemerintah juga melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap abu vulkanik. Pusdalops BPBD melakukan pemantauan dan diseminasi informasi setiap enam jam. Di tingkat daerah, BPBD kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah masing-masing.

    "Pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor terkait kesehatan, transportasi, lingkungan, dan keselamatan masyarakat. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan unsur terkait," papar Aswarodi.

  4. 4. Warga diminta tak beraktivitas dalam radius 3 Kilometer

    IMG-20260908-WA0025.jpg
    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di kantor Pusdalops BPBD Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Aswarodi menyatakan, pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

    Warga juga diminta menggunakan masker saat berada di luar ruangan. Aktivitas yang tidak mendesak di luar ruangan juga diminta untuk dibatasi.

    Apabila terjadi paparan abu, masyarakat diminta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau iritasi mata dan kulit diminta segera menuju fasilitas kesehatan. Selain itu, masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More