Abu Vulkanik GAK Terhirup? Ini Tandanya Harus Segera ke UGD

- Paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat mengiritasi pernapasan, mata, dan kulit karena mengandung partikel mineral serta silika yang tajam.
- Batuk dan tenggorokan tidak nyaman perlu dipantau; sesak napas atau ujung jari kebiruan setelah paparan abu menjadi tanda untuk segera ke fasilitas kesehatan atau UGD.
- Warga disarankan memakai respirator KF94 atau KN95 dan kacamata tertutup saat di luar; mata kemasukan abu jangan dikucek, bilas dengan air mengalir atau artificial tears.
Bandar Lampung, IDN Times - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Abu vulkanik terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, hingga kulit.
Dokter Umum sekaligus Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD Abdul Moeloek, dr Annisa Mardhyah mengatakan, abu vulkanik memiliki partikel mineral dan silika yang secara fisik dapat bersifat tajam. Jika masuk ke saluran pernapasan dalam jumlah banyak, partikel tersebut dapat memicu berbagai keluhan kesehatan.
"Abu vulkanik ini kalau terhirup banyak lewat pernapasan akan menimbulkan infeksi saluran pernapasan atas," ujarnya dimintai keterangan, Jumat (11/9/2026).
1. Batuk hingga sesak napas perlu diwaspadai

Dokter Umum sekaligus Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD Abdul Moeloek, dr Annisa Mardhyah. (Dok. RSUD Abdul Moeloek). Annisa melanjutkan, gejala awal dapat muncul akibat paparan abu vulkanik antara lain batuk dan nyeri atau rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Namun, masyarakat perlu lebih waspada apabila keluhan berkembang menjadi sesak napas dan ujung jari tangan atau kaki nampak kebiruan.
Lebih lanjut kondisi tersebut menjadi tanda, bahwa paparan abu mulai berdampak lebih serius terhadap sistem pernapasan, sehingga diminta segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat atau UGD.
"Kami imbau masyarakat tidak menunggu kondisi semakin parah apabila sudah mengalami kesulitan bernapas, terutama setelah terpapar abu vulkanik dalam jumlah banyak," ucapnya.
2. Mata merah dan panas jangan dikucek

Penampakan mikroskopis abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dok. BPBD Lampung). Selain saluran pernapasan, abu vulkanik juga disebut dapat mengiritasi mata. Partikel abu masuk ke mata dapat menyebabkan mata menjadi merah, terasa panas, atau tidak nyaman.
Sehingga masyarakat turut diingatkan untuk tidak mengucek mata ketika terkena abu vulkanik, sebab, tindakan tersebut berpotensi memperparah iritasi akibat partikel yang menempel pada permukaan mata.
"Kalau debu itu masuk ke mata, jangan langsung dikucek. Sebaiknya ditetesi tetes mata artificial tears atau air mata buatan, atau bisa menggunakan air yang mengalir," kata Annisa.
3. Gunakan masker respirator saat beraktivitas di luar

Warga Pulau Sabesi menerima bantuan masker dari petugas Puskesmas. (IDN Times/Istimewa). Annisa melanjutkan, langkah utama untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik adalah menggunakan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel.
Ia menyarankan masyarakat menggunakan masker respirator seperti KF94 atau KN95. Sementara bagi orang yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan, penggunaan masker dengan perlindungan lebih baik dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhannya.
"Jangan memakai masker kain karena berbeda fungsinya. Maskernya juga jangan dibasahi, kalau dibasahi malah menyebabkan lembap dan bisa ada bakterinya," jelasnya.
4. Kacamata tertutup bisa kurangi paparan

Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna) Tak hanya itu, Annisa juga menyerankan, masyarakat mengenakan alat perlindungan pada pada bagian mata, terutama bagi masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas di area terbuka atau luar ruangan.
"Kalau berkendara, pakai kacamata yang tertutup lebih bagus, ini bisa mengurangi kemungkinan abu vulkanik masuk dan mengiritasi mata," imbuh dia.

















