Robustera Buatan Mahasiswa Itera Pangkas Pengeringan Kopi Cuma 2 Jam

- Mahasiswa Itera mengembangkan Robustera untuk Kelompok Tani Sinarbanten di Lampung Utara, memangkas pengeringan kopi robusta yang biasanya 7–14 hari menjadi sekitar dua jam.
- Alat pengering hibrida ini memanfaatkan briket dari limbah kopi dan energi surya untuk menjalankan blower, monitoring, serta heater, dengan suhu otomatis dijaga di bawah 50 derajat Celsius.
- Uji coba 15 kilogram kopi menurunkan kadar air dari 30,5 persen menjadi 10 persen memakai 20 briket; Robustera juga berpotensi mengeringkan pinang, kakao, dan padi.
Bandar Lampung, IDN Times - Proses pengeringan kopi robusta biasanya membutuhkan waktu hingga dua minggu kini bisa dipangkas menjadi hitungan jam. Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui Robustera, alat pengering kopi memanfaatkan limbah kopi dan energi surya.
Robustera diterapkan bersama Kelompok Tani Sinarbanten di Desa Gunung Sadar, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara. Teknologi ini dirancang untuk membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap cuaca sekaligus meningkatkan efisiensi pengeringan kopi robusta Lampung.
1. Dari 2 minggu jadi 2 jam, Robustera pangkas waktu pengeringan kopi

Ilustrasi biji kopi (pexels.com/@marek-kupiec) Pengeringan kopi selama ini masih bergantung pada kondisi cuaca. Menggunakan metode konvensional, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 7–14 hari hingga kadar air kopi sesuai standar.
Ketua tim, Egi Setiawan, mengatakan kondisi itu menjadi salah satu latar belakang pengembangan Robustera. Alat tersebut memanfaatkan sekam, kulit cangkang, dan kulit ari kopi sebagai bahan bakar biomassa yang diolah menjadi briket.
Menurutnya, pemanfaatan limbah kopi tersebut tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap cuaca, tetapi juga menekan asap yang berpotensi memengaruhi kualitas kopi.
2. Gabungkan biomassa dan energi surya

proses pengolahan biji kopi di Bali Pulina (instagram.com/balipulina) Egi menjelaskan, Robustera menggunakan sistem pengering hibrida yang menggabungkan biomassa dengan energi surya. Panel surya digunakan untuk mengoperasikan blower, sistem monitoring, dan heater sebagai pemanas tambahan.
"Saat alat dinyalakan, heater memanaskan filamen selama sekitar 90 detik. Blower kemudian bekerja otomatis untuk memperbesar bara sekaligus menyalurkan panas ke ruang pengering," jelasnya.
Menurut Egi, sistem monitoring mengatur suhu selama proses berlangsung. Ketika suhu melebihi 50 derajat Celsius, kecepatan blower diturunkan agar suhu tetap terkendali.
Hasil pengujian menunjukkan Robustera mampu mengeringkan 15 kilogram kopi dari kadar air 30,5 persen menjadi 10 persen dalam sekitar dua jam dengan menggunakan 20 briket biomassa.
3. Tak hanya kopi, Robustera berpotensi untuk komoditas lain

ilustrasi biji kopi (pexels.com/Juan Pablo Serrano) Mitra desa, Candra Darussman, mengatakan Robustera membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas pengolahan kopi. Proses yang sebelumnya dapat berlangsung hingga dua minggu kini dapat diselesaikan dalam beberapa jam.
Teknologi tersebut juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan komoditas lain, seperti pinang, kakao, dan padi. Tim yang dibina dosen Fadli Hastito dari Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi ini beranggotakan Egi Setiawan sebagai ketua, Julius Lionel Gustalvo, Muhammad Rizki Saputra, Rahmat Ramadhan, dan Yolanda Novelin.
Program ini sebelumnya melalui seleksi internal Itera, kemudian lolos seleksi nasional dan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Setelah diterapkan kepada mitra, Robustera akan mengikuti Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2) sebelum diajukan ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026.



















