Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Hasil Pantauan Terbaru BPBD Lampung

Bandar Lampung
Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Hasil Pantauan Terbaru BPBD Lampung
Ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/Yosh Ginsu)
  • Gunung Anak Krakatau erupsi pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB, terekam amplitudo maksimum 47 mm selama 17 detik; sebaran debu vulkanik tidak terdeteksi.
  • BPBD mencatat tiga gempa Hybrid/Fase Banyak dan satu tremor menerus. Masyarakat diminta menjauhi kawah serta mengikuti informasi resmi PVMBG dan BPBD.
  • BMKG menegaskan air laut surut tidak otomatis terkait erupsi atau tsunami; publik diminta mewaspadai konten tanpa lokasi, tanggal, dan data resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Kamis, 10 September 2026 pagi. Berdasarkan informasi Magma Indonesia, erupsi terjadi pukul 09.10 WIB dan terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm serta durasi 17 detik.

Sementara itu, analisis citra RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB menunjukkan sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi. Pada waktu pemantauan BPBD Provinsi Lampung pukul 00.00-06.00 WIB, gunung tertutup kabut O-III sehingga asap kawah tidak teramati.

  1. 1. Aktivitas kegempaan masih tercatat

    Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Dalam periode pemantauan BPBD Provinsi Lampung pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat tiga kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 11-14 mm dan durasi 4-7 detik. Selain itu, terjadi satu kali Tremor Menerus dengan amplitudo 2-7 mm, dominan 3 mm.

    Kondisi cuaca saat pemantauan dilaporkan berawan dengan angin lemah bertiup ke arah barat laut. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mendekati kawah atau zona yang berpotensi berbahaya, serta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan BPBD.

  2. 2. Isu air laut surut pascaerupsi Anak Krakatau

    Ilustrasi berita hoax (unsplash.com/hartonocreativestudio)
    Ilustrasi berita hoax (unsplash.com/hartonocreativestudio)

    Sementara itu di media sosial beredar informasi di media sosial yang mengaitkan air laut mendadak surut dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Informasi tersebut bahkan disertai narasi bombastis seperti “Detik-detik mencekam... Air laut surut total...” tanpa bukti konkret dan data resmi.

    BMKG mengimbau, masyarakat perlu mencermati informasi semacam ini, terutama jika foto atau video digunakan tidak mencantumkan lokasi dan tanggal yang jelas. Kondisi tersebut membuat materi dapat digunakan kembali kapan saja demi engagement.

    Air laut yang terlihat surut setelah erupsi Anak Krakatau juga tidak serta-merta menunjukkan keduanya saling berkaitan. Masyarakat diimbau tidak langsung panik atau mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial.

  3. 3. Kenali perbedaan pasang surut dan tsunami

    ilustrasi air laut surut (pexels.cm/Pok Rie)
    ilustrasi air laut surut (pexels.cm/Pok Rie)

    Berdasarkan penjelasan BMKG, air laut surut merupakan bagian dari siklus alami yang terjadi secara bulanan dan dipengaruhi posisi Bulan, Bumi, serta Matahari. Saat ketiganya membentuk sudut 90 derajat atau disebut Neap Tide, terjadi pasang surut dengan kisaran terkecil.

    Kondisi tersebut bukan tanda pasti tsunami atau erupsi. Berbeda dengan surut akibat tsunami yang terjadi sangat cepat setelah gempa besar terasa dan biasanya diikuti kenaikan gelombang yang signifikan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More