ilustrasi impor barang (pexels.com/Chanaka)
Berbeda dengan ekspor, Ahmadriswan menyebut nilai impor Lampung selama Januari-September 2026 justru menurun. BPS mencatat nilainya mencapai US$1.204,12 juta atau turun 25,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1.624,04 juta.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi impor migas yang merosot 93,06 persen atau berkurang US$727,28 juta. Namun, perkembangan impor nonmigas justru menunjukkan arah berbeda. Nilainya mencapai US$1.149,90 juta atau meningkat 36,48 persen dibandingkan Januari-September 2025.
Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, impor barang konsumsi mengalami lonjakan paling tinggi sebesar 711,2 persen. Impor barang modal juga meningkat 5,01 persen, sedangkan impor bahan baku atau penolong turun 39,39 persen.
Dari sisi komoditas, golongan ikan, krustasea, dan moluska mencatatkan peningkatan impor tertinggi sebesar 196,96 persen. Selain itu, impor mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya naik 102,27 persen.
Sementara berdasarkan negara asal, Amerika Serikat menjadi pemasok barang impor terbesar Lampung dengan nilai US$198,44 juta. Berikutnya Jerman sebesar US$159,92 juta dan Australia sebesar US$159,80 juta.
Adapun pada September 2026, nilai impor Lampung mencapai US$128,99 juta atau meningkat 9,99 persen dibandingkan September 2025. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan impor migas dan nonmigas.
Ahmadriswan mengatakan, penurunan impor secara kumulatif terutama terjadi karena berkurangnya impor migas. Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan impor nonmigas yang justru mengalami peningkatan selama periode yang sama.