BI Lampung: Inflasi Diperkirakan Tetap Terjaga hingga Akhir 2024

- Inflasi IHK di Provinsi Lampung September 2024 sebesar 0,05 persen (mtm), lebih rendah dari Agustus 2024 yang mencapai 0,07 persen (mtm).
- Realisasi inflasi IHK di Provinsi Lampung September 2024 adalah 2,16 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya namun masih lebih tinggi dari inflasi nasional.
- Peningkatan harga komoditas seperti biaya akademi perguruan tinggi, bawang merah, dan beras menjadi penyebab inflasi, sementara cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras mengalami deflasi.
Bandar Lampung, IDN Times - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memprakirakan inflasi indeks harga konsumen (IHK) di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) sampai akhir 2024.
IHK di Provinsi Lampung September 2024 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,05 persen (mtm). Itu lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2024 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,07 persen (mtm).
Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan capaian nasional tercatat deflasi sebesar 0,12 persen (mtm). Namun lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata tingkat perkembangan IHK di Provinsi Lampung pada September 3 tahun terakhir tercatat inflasi sebesar 0,57 persen (mtm).
"Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan bahwa inflasi IHK di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) sampai dengan akhir tahun 2024," ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Junanto Herdiawan dalam keterangan tertulis, Senin (7/10/2024).
1. Catatan inflasi dipicu beberapa komoditas alami peningkatan harga

Berdasarkan catatan inflasi tersebut, Junanto melanjutkan, secara tahunan IHK di Provinsi Lampung September 2024 mengalami inflasi 2,16 persen (yoy). Itu lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,33 persen (yoy), namun masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 1,84 persen (yoy).
Bila dilihat dari sumbernya, inflasi disebabkan oleh beberapa komoditas mengalami peningkatan harga seperti biaya akademi perguruan tinggi, bawang merah, beras, biaya sewa rumah dan nasi dengan lauk dengan andil masing-masing sebesar 0,26 persen; 0,06 persen; 0,03 persen; 0,03 persen; dan 0,02 persen.
Penyebabnya, peningkatan biaya akademi perguruan tinggi disebabkan oleh penyesuaian biaya pendidikan seiring masuknya periode akademik baru di lembaga pendidikan tinggi, harga bawang merah meningkat disebabkan oleh terbatasnya pasokan pascaberakhirnya periode panen di Brebes. Sejalan dengan itu, harga beras juga mengalami peningkatan pascaberakhirnya periode panen raya padi dan tidak optimalnya produksi padi akibat rendahnya curah hujan pada periode panen gadu.
"Untuk biaya kontrak rumah tercatat meningkat sejalan dengan hasil SHPR Bank Indonesia yang mencatat peningkatan harga sewa properti segmen ritel dan hotel. Sementara itu, peningkatnya harga nasi dengan lauk sejalan dengan peningkatan harga beras akibat pasokan semakin melambat," terangnya.
2. Ada sejumlah komoditas alami deflasi

Junanto melanjutkan, inflasi lebih tinggi September 2024 tertahan oleh sejumlah komoditas mengalami deflasi, terutama cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat dan bensin dengan andil masing-masing sebesar -0,17 persen; -0,07 persen; -0,06 persen; -0,04 persen, dan -0,03 persen.
Disebutkan, penurunan harga aneka cabai disebabkan meningkatnya pasokan sejalan dengan masuknya musim panen di sentra produksi Jawa Timur, penurunan harga telur ayam ras dipicu pasokan melimpah pada periode low demand, penurunan harga tomat turut disebabkan oleh terjaganya pasokan pada periode panen.
"Sementara itu, penurunan harga bensin disebabkan oleh penyesuaian harga BBM non subsidi, yaitu penurunan harga Pertamax per 1 Oktober 2024 seiring dengan penurunan harga minyak dunia," imbuhnya.
3. Pentingnya mitigasi risiko

Sejalan dengan catatan inflasi ini, Junanto menyebutkan, perlu upaya mitigasi risiko-risiko mulai dari Inflasi Inti (CI) berupa berlanjutnya kenaikan harga emas Provinsi Lampung seiring meningkatnya harga emas dunia. Sementara itu dari sisi Inflasi Volatile Food (VF), kenaikan harga beras seiring dengan berakhirnya periode panen raya dan kenaikan harga minyak goreng sejalan dengan relaksasi HET MinyaKita.
Selanjutnya risiko dari Inflasi Administered Price (AP) yang perlu mendapat perhatian di antaranya yaitu, kenaikan harga aneka rokok sejalan dengan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2024 sebesar 10 persen dan rokok elektrik sebesar 15 persen.
"Meninjau perkembangan inflasi bulan berjalan dan mempertimbangkan risiko inflasi ke depan, Bank Indonesia dan TPID akan terus berupaya menjaga stabilitas harga," ujarnya.
4. Siapkan strategi 4K

Dalam upaya menjaga stabilitas harga tersebut, Junanto membeberkan, pihaknya telah menyiapkan strategi 4K yakni, keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
"Realiasasi strategi 4K ini di antaranya, melakukan operasi pasar beras SPHP secara kontinyu hingga harga kembali turun sampai dengan HET, hingga melakukan rapat koordinasi rutin mingguan di setiap kabupaten/kota dalam rangka menjaga awareness instansi terkait dinamika harga dan pasokan terkini," tandasnya.



















