Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi kehilangan jati diri (magnific.com/jcomp)
  • Sulit melepas orang yang tak memilih kita sering dipicu investasi waktu, energi, harapan, dan rencana, sehingga usaha masa lalu terasa harus membuahkan hasil.

  • Harapan bahwa ia akan berubah, ditambah perhatian yang datang tidak konsisten, dapat membuat seseorang terus menunggu meski tidak ada kepastian komitmen.

  • Ketakutan akan kesepian dan anggapan bahwa kehilangan berarti kehilangan kesempatan dicintai membuat keterikatan bertahan, padahal hubungan sehat membutuhkan kejelasan dan usaha dua pihak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa takut kehilangan seseorang, padahal hubungan kalian sendiri tidak pernah benar-benar jelas? Dia datang ketika membutuhkan teman bicara, memberikan perhatian sesekali, tetapi tidak pernah menunjukkan kepastian tentang perasaannya.

Anehnya, kamu tetap berharap hubungan tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. Situasi seperti ini sering membuat seseorang terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional.

Di satu sisi, ada keinginan untuk bertahan karena sudah terlanjur nyaman. Namun, di sisi lain, muncul kesadaran bahwa perhatian dan perasaan yang diberikan tidak selalu mendapatkan balasan setara.

Kenapa kita begitu takut kehilangan orang yang bahkan belum tentu memilih kita? Ternyata, ada beberapa alasan psikologis yang bisa menjelaskan perasaan tersebut.

1. Sudah terlanjur menginvestasikan banyak perasaan

Ilustrasi kehilangan (unsplash.com/Anthony Tran)

Ketika menyukai seseorang, kita biasanya tidak hanya memberikan perhatian. Ada waktu, energi, harapan, bahkan rencana masa depan yang tanpa sadar ikut kita investasikan.

Semakin lama hubungan berlangsung, semakin sulit pula rasanya untuk melepaskan. Kita mulai berpikir bahwa semua usaha yang sudah dilakukan seharusnya menghasilkan sesuatu.

Padahal, hubungan bukan transaksi yang menjamin perasaan seseorang akan kembali dengan jumlah yang sama. Kondisi ini berkaitan dengan sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan seseorang mempertahankan sesuatu karena sudah telanjur menginvestasikan banyak waktu, tenaga, atau sumber daya di dalamnya.

Akibatnya, kita lebih sibuk memikirkan apa yang sudah diberikan daripada mempertimbangkan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.

2. Berharap dia akan berubah suatu hari nanti

ilustrasi kehilangan motivasi (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu alasan seseorang sulit melepaskan hubungan yang tidak pasti adalah harapan keadaan akan berubah.

Hari ini dia mungkin terlihat tidak peduli. Besok, dia bisa tiba-tiba memberikan perhatian yang membuat kita kembali merasa istimewa. Perubahan kecil tersebut kemudian dianggap sebagai tanda bahwa sebenarnya dia juga memiliki perasaan yang sama.

Kita mulai membayangkan kemungkinan hubungan menjadi lebih serius jika bersabar sedikit lebih lama. Padahal, perhatian sesekali tidak selalu menunjukkan komitmen.

Seseorang bisa menikmati kedekatan tanpa memiliki keinginan untuk membawa hubungan tersebut ke tahap berikutnya. Terus menunggu seseorang berubah juga bisa membuat kita mengabaikan kenyataan tentang bagaimana dia memperlakukan kita saat ini.

3. Takut merasa kesepian setelah kehilangan

ilustrasi kehilangan semangat (freepik.com/zinkevych)

Terkadang, yang membuat kita takut kehilangan seseorang bukan hanya perasaan cinta, melainkan ketakutan menghadapi kesendirian. Kehadirannya mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Ada seseorang yang biasanya dihubungi ketika bangun tidur, diajak bertukar cerita, atau dicari ketika sedang menghadapi masalah. Meskipun hubungan tersebut tidak memberikan kepastian, setidaknya keberadaannya membuat kita merasa tidak sendirian.

Ketika membayangkan dia pergi, muncul kekhawatiran tentang bagaimana menjalani hari tanpa kebiasaan tersebut. Akhirnya, kita memilih bertahan dalam hubungan yang tidak jelas karena merasa kehilangan seseorang jauh lebih menakutkan daripada terus berada dalam ketidakpastian.

Padahal, kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Ada kalanya mengambil jarak justru memberikan kesempatan untuk kembali mengenal kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri.

4. Terbiasa mendapatkan perhatian yang tidak konsisten

Ilustrasi kehilangan (Pexels.com/ Ivan Samkov)

Pernah mengalami seseorang yang terkadang sangat perhatian, tetapi di lain waktu justru menghilang tanpa penjelasan? Perilaku seperti ini bisa membuat kita terus menunggu momen ketika dia kembali memberikan perhatian.

Ketika pesan dibalas atau ajakan bertemu akhirnya diterima, muncul perasaan senang yang begitu besar. Dalam psikologi, pola pemberian penghargaan yang tidak terduga dikenal sebagai intermittent reinforcement atau penguatan berselang.

Pola ini dapat membuat seseorang terus mengulangi perilaku tertentu karena tidak pernah tahu kapan akan mendapatkan respons menyenangkan. Dalam hubungan, perhatian yang datang sesekali bisa membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri.

Bukan karena hubungan tersebut selalu membahagiakan, melainkan karena ketidakpastian membuatnya terus berharap. Itulah mengapa konsistensi penting dalam membangun hubungan yang sehat. Perhatian seharusnya tidak membuat seseorang terus menebak-nebak apakah dirinya masih dianggap penting.

5. Menganggap kehilangan dia berarti kehilangan kesempatan dicintai

ilustrasi kehilangan rasa (pexels.com/Trinity Kubassek)

Ketika sudah terlalu berharap kepada seseorang, kita terkadang mulai menganggap dia sebagai satu-satunya orang yang bisa memberikan kebahagiaan. Pikiran seperti ini membuat kemungkinan kehilangan terasa jauh lebih menyakitkan.

Kita takut tidak akan menemukan orang lain yang bisa membuat kita merasa nyaman atau memahami diri kita. Padahal, seseorang yang tidak memberikan kepastian bukan berarti satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan hubungan yang bahagia.

Bisa jadi, ketakutan tersebut muncul karena kita terlalu mengaitkan harga diri dengan bagaimana seseorang memperlakukan kita. Jika dia tidak memilih kita, bukan berarti kita kurang menarik, tidak cukup baik, atau tidak layak dicintai.

Keputusan seseorang untuk menjalin hubungan juga dipengaruhi oleh kesiapan, kebutuhan, dan pilihan pribadinya.

Belajar melepaskan bukan berarti kalah dalam memperjuangkan cinta. Terkadang, itu merupakan cara untuk berhenti menempatkan kebahagiaan di tangan orang yang tidak memiliki keinginan sama.

Takut kehilangan seseorang yang tidak pasti memilih kita merupakan perasaan yang bisa dialami siapa saja. Ada keterikatan emosional, harapan, kebiasaan, dan ketakutan menghadapi perubahan yang membuat proses melepaskan terasa sulit.

Namun, perlu dipahami hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang terus mempertanyakan posisinya. Perasaan sayang memang membutuhkan proses, tetapi komitmen juga membutuhkan kejelasan dan usaha dari kedua belah pihak.

Jangan sampai terlalu sibuk mempertahankan seseorang hingga lupa mempertahankan kebahagiaan diri sendiri. Sebab, dicintai bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk menemani hari-hari, tetapi juga tentang merasa dihargai, dipilih, dan tidak terus-menerus dibuat ragu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article