ilustrasi kehilangan rasa (pexels.com/Trinity Kubassek)
Ketika sudah terlalu berharap kepada seseorang, kita terkadang mulai menganggap dia sebagai satu-satunya orang yang bisa memberikan kebahagiaan. Pikiran seperti ini membuat kemungkinan kehilangan terasa jauh lebih menyakitkan.
Kita takut tidak akan menemukan orang lain yang bisa membuat kita merasa nyaman atau memahami diri kita. Padahal, seseorang yang tidak memberikan kepastian bukan berarti satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan hubungan yang bahagia.
Bisa jadi, ketakutan tersebut muncul karena kita terlalu mengaitkan harga diri dengan bagaimana seseorang memperlakukan kita. Jika dia tidak memilih kita, bukan berarti kita kurang menarik, tidak cukup baik, atau tidak layak dicintai.
Keputusan seseorang untuk menjalin hubungan juga dipengaruhi oleh kesiapan, kebutuhan, dan pilihan pribadinya.
Belajar melepaskan bukan berarti kalah dalam memperjuangkan cinta. Terkadang, itu merupakan cara untuk berhenti menempatkan kebahagiaan di tangan orang yang tidak memiliki keinginan sama.
Takut kehilangan seseorang yang tidak pasti memilih kita merupakan perasaan yang bisa dialami siapa saja. Ada keterikatan emosional, harapan, kebiasaan, dan ketakutan menghadapi perubahan yang membuat proses melepaskan terasa sulit.
Namun, perlu dipahami hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang terus mempertanyakan posisinya. Perasaan sayang memang membutuhkan proses, tetapi komitmen juga membutuhkan kejelasan dan usaha dari kedua belah pihak.
Jangan sampai terlalu sibuk mempertahankan seseorang hingga lupa mempertahankan kebahagiaan diri sendiri. Sebab, dicintai bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk menemani hari-hari, tetapi juga tentang merasa dihargai, dipilih, dan tidak terus-menerus dibuat ragu.