Comscore Tracker

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid 

Sumbang 2 medali emas PON, 1 medali perunggu SEA Games

Bandar Lampung, IDN Times - Bergelimang medali tidak menjadikan kehidupan turut bergelimang materi. Kalimat tersebut dirasa lekat dengan nasib terkini Heri Susanto, mantan atlet cabang olahraga (cabor) gulat Provinsi Lampung.

Pria berusia 48 tahun itu merupakan salah satu atlet gulat amat disegani era 90-an. Bagaimana tidak, sederet prestasi telah direngkuh mulai dari kancah nasional hingga internasional. Namun itu semua tinggal cerita dan kenangan semata, pasalnya Heri kini memiliki kehidupan sederhana dan memilih lebih banyak menghabiskan waktu mengurus masjid atau marbot Masjid Darul Ukhuwah di kompleks Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR), Kota Bandar Lampung.

Saat dikunjungi IDN Times di Masjid Darul Ukhuwah, Jumat (20/5/2022), Heri dengan perawakan tubuh besar tampak jelas sebagai mantan atlet gulat tersebut tampak asyik mempersiapkan masjid untuk menyambut para jemaah hendak melaksanakan salat Jumat.

Lalu bagaimana kisah dan prestasi Heri semasa menjadi atlet gulat Lampung? Seperti apa kehidupan saat ini? Berikut IDN Times bagikan sepenggal cerita Heri Susanto.

1. Penyumbang medali emas bagi Lampung di PON 1996

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid Ilustrasi medali PON Papua (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Sadar memiliki postur tubuh besar, Heri mengatakan mulai mengenal dan menekuni cabor gulat sejak 1980'an akhir atau tepatnya kala menduduki bangku SMA. Waktu itu, ia merupakan sosok anak tumbuh besar di lingkungan kehidupan biasa dan sederhana di Kota Medan, Sumatra Utara.

"Mulai gulat dari zaman sekolah di Medan. Tahun 93 saya sebenarnya sudah ikut PON membawa daerah Medan dan 94 sudah ikut kejuaraan Asia, sampai akhirnya saya memutuskan merantau ke Lampung di 95'an," imbuhnya.

Perantauan ke tanah Bumi Ruwa Jurai kala itu mendapat apresiasi pemerintah daerah dan langsung dipercaya untuk membela Lampung pada cabor gulat untuk kelas berat 120 Kg di ajang PON XIV diselenggarakan 1996 di Jakarta.

"Alhamdulillah PON pertama saya dengan Lampung di Jakarta langsung dapat medali emas dan langsung terpilih Kerjunas persiapan SEA Games Jakarta pada 1997, dengan menyumbangkan medali perunggu karena semifinal kalah dengan Vietnam," sambung Heri.

2. Sempat putuskan pensiun dini

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid Dok.IDN Times/istimewa

Prestasi gemilang Heri bersama Provinsi Lampung diakui masih terus berlanjut, pada ajang PON XV 2000 diadakan di Surabaya, Jawa Timur. Kala itu, ia kembali sukses menyumbangkan medali emas dalam kategori gaya grigo untuk kelas berat 120 Kg.

Di era tersebut, Heri mengenang altet gulat Lampung amat disegani di kancah nasional. Bagaimana tidak, pada masing-masing kategori dihuni sederet atlet berprestasi diproyeksikan mendulang medali emas. Mereka adalah Boyki Samosir (kelas kecil), Andreas Yulianto (kelas sedang), dan Heri Susanto (kelas berat).

Namun siapa sangka, usai memberi sumbangsih medali emas di PON XV Jatim, Heri mengaku mengalami kegundahan hari dan dirundung rasa jenuh cukup hebat, hingga akhirnya memutuskan untuk pensiun pada usia dini yaitu, 24 tahun.

"Sebenarnya berhenti karena bosan sama aktivitas itu-itu saja, sampai akhirnya kembali dapat tawaran ikut pra PON di Papua 2007. Saya bersedia karena memang satu-satunya kepulauan besar belum dikunjungi dan PON Katim 2008 dapat perunggu sekaligus PON terakhir saya sebelum benar-benar pensiun, sudah tua itu," kelakarnya.

Baca Juga: Intip Trik Sukses Ngonten Ala Tiktokers Lampung Iam Guntara

3. Memilih hidup sederhana dan mendekatkan diri pada urusan akhirat

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid Heri Susanto, mantan atlet cabang olahraga (cabor) gulat bagi Provinsi Lampung kini memilih sibuk mengurus masjid. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Setelah memutuskan pensiun untuk memberikan kesempatan regenerasi kepada atlet gulat Lampung lainnya, Heri mulai menyibukkan diri sehari-hari sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Bandar Lampung dan kini lebih mendekatkan diri kepada urusan akhirat sekaligus mengurus Masjid Darul Ukhuwah.

"Sehari-hari gini saja pakaian seadanya, makan juga biasa-biasa saja. Pagi biasa ngantor di Dinas Perhubungan Bandar Lampung, sepulangnya sampai malam aktivitas banyak dihabiskan di masjid ini. Saya juga sekarang tinggal dan bermalam di sini," imbuh dia.

Menurutnya, pemerintah daerah cukup serius memperhatikan mantan-mantan atlet veteran berprestasi. Sebagai contoh, dirinya telah mengantongi SK PNS pasca mendulang emas di PON 1997 dan serupa dengan rekan lain yaitu, Andreas Yulianto, mantan pegawai Dispora Bandar Lampung.

"Dari dulu sudah lumayan bagus lah (perhatian pemerintah daerah). Ya walaupun jumlah bonus tidak seperti sekarang yang nilainya fantastis. Saya ingat, waktu dapat emas itu dikasih pak Poedjono (mantan Gubernur Lampung) 10 juta," sambung dia.

4. Pesan sang jawara bagi atlet dan pelatih gulat Lampung

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid Gelanggang latihan para atlet di Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Dengan segala perhatian dan dukungan pemerintah daerah saat ini, Heri pun berharap agar para atlet-atlet Lampung, khususnya atlet gulat mampu kembali meraih dan mengharumkan nama Provinsi Lampung seperti terjadi di masa kejayaannya dan rekan-rekan.

Di mata sang jawara, atlet Lampung zaman sekarang kurang memiliki mentalitas juara dan lebih perhitungan dalam urusan latihan. Maka tak heran, cabor gulat Lampung kini justru dianggap sebelah mata oleh sejumlah daerah di tanah air.

"Jangan sedikit-sedikit soal materi, ingat materi pasti ada kalau kamu berprestasi. Kalau zaman kami itu, istilahnya siap mati kalau sudah turun ke gelanggang," ucap mantan peraih 2 medali emas PON tersebut.

Selain itu, Heri pun berpesan kepada para pelatih gulat Provinsi Lampung untuk tulus bekerja dan bisa memperjuangkan hak-hak atlet. "Intinya, satukan hati saja. Keras kepada atlet itu harus. Bela dan utamakan kepentingan atlet, bukan pengurus," lanjutnya.

5. KONI Lampung terus dorong kesejahteraan atlet veteran berprestasi

Kisah Heri Susanto, Dulu Jawara Gulat Lampung Kini Marbot Masjid Ketua Harian KONI Lampung, Hannibal. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Ketua Harian KONI Lampung, Hanibal mengamini, pemerintah daerah sudah cukup baik memperhatikan kehidupan atlet-atlet veteran berprestasi bagi Provinsi Lampung.

Selain itu, pihaknya juga akan terus mendorong pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi mantan atlet mendapatkan kesejahteraan dalam menjalani hidup.

"Kami cuma bisa mendorong saja, tapi untuk keputusan pengangkatan seperti PNS itu ranahnya pemerintah pusat. Beberapa sudah kita angkat, ya Heri itu dan beberapa lainnya jadi contoh," tandas dia.

Baca Juga: Kiat Ampuh Cegah Hepatitis Akut ala Orang Tua Bandar Lampung

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya