Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sumur Kumbang, Mata Air dari Tancapan Tongkat Pusaka Ratusan Tahun

Kab. Lampung Selatan
Sumur Kumbang, Mata Air dari Tancapan Tongkat Pusaka Ratusan Tahun
Desa Sumur Kumbang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan dikenal sebagai salah satu kawasan masih memegang teguh tradisi leluhur. (Dok. Pemkab Lamsel).
Intinya Sih
  • Desa Sumur Kumbang di lereng Gunung Rajabasa menjaga tradisi Ruwat Bumi sebagai wujud syukur dan penghormatan terhadap leluhur, melibatkan seluruh lapisan masyarakat secara turun-temurun.
  • Sumur Kumbang dipercaya muncul dari tancapan tongkat pusaka Syekh Mansyur pada abad ke-18, dengan mata air yang tak pernah kering dan tongkat pusaka masih dirawat hingga kini.
  • Pemkab Lampung Selatan menelusuri sejarah Sumur Kumbang jelang Ruwat Bumi 31 Juli 2026 untuk memperkuat pelestarian budaya serta mengenalkan nilai sejarah dan spiritual situs tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Desa Sumur Kumbang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan dikenal sebagai salah satu kawasan masih memegang teguh tradisi leluhur. Setiap tahun, masyarakat yang bermukim di bawah lereng Gunung Rajabasa secara turun-temurun menyelenggarakan upacara adat Ruwat Bumi sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap pesan para leluhur.

Tradisi tersebut melibatkan seluruh masyarakat, mulai dari tokoh adat, sesepuh, hingga generasi muda. Keberlangsungannya menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Desa Sumur Kumbang.

Di balik rimbunnya kawasan Gunung Rajabasa, tersimpan situs bersejarah berupa mata air dikenal sebagai Sumur Kumbang. Mata air itu dipercaya muncul dari sela batu akibat tancapan tongkat pusaka yang telah berusia ratusan tahun.

1. Asal usul Sumur Kumbang

ilustrasi sumur(unsplash.com/Kristina Kutleša)
ilustrasi sumur(unsplash.com/Kristina Kutleša)

Sesepuh Desa Sumur Kumbang, kerap disapa Abah Santika, menuturkan, asal-usul Sumur Kumbang diperkirakan bermula sekitar tahun 1745. Menurut cerita yang diwariskan secara lisan, kemunculan mata air tersebut berkaitan dengan perjalanan tokoh adat Syekh Mansyur bersama cucunya.

Dikisahkan, Syekh Mansyur sempat melarang cucunya ikut bepergian karena khawatir kehausan di tengah perjalanan. Namun, sang cucu tetap bersikeras ikut. Benar saja, di tengah perjalanan cucunya menangis karena kehausan.

Melihat hal itu, Syekh Mansyur kemudian menancapkan tongkat pusakanya ke sebuah batu besar. Saat tongkat tersebut dicabut, seketika memancar air jernih yang terus mengalir.

"Disepak-sepak tongkatnya, keluar air. Dicabut, mengalir airnya. Lalu diminum airnya oleh cucunya," tutur Abah Santika.

2. Batu tempat keluarnya mata air tersebut masih berdiri kokoh hingga kini

ilustrasi batu besar (pexels.com/ César)
ilustrasi batu besar (pexels.com/ César)

Menurut Abah Santika, batu tempat keluarnya mata air tersebut masih berdiri kokoh hingga kini. Nama Sumur Kumbang dipercaya berasal dari keberadaan batang bunga atau "kembang" yang dahulu tumbuh di sekitar sumber mata air tersebut dan kemudian dikenal masyarakat sebagai Sumur Kumbang.

Keunikan lain dari situs tersebut adalah debit airnya yang tetap stabil sepanjang tahun. Bahkan tidak pernah mengering saat musim kemarau panjang melanda kawasan Gunung Rajabasa.

Selain menyimpan legenda mengenai asal-usul mata air, Sumur Kumbang juga memiliki peninggalan bersejarah berupa Tongkat Pusaka yang saat ini masih dirawat oleh Abah Santika sebagai bagian dari warisan leluhur yang terus dilestarikan.

Tongkat kayu yang diperkirakan telah berusia lebih dari dua abad itu ternyata memiliki rongga yang di dalamnya tersimpan sebilah keris pusaka atau tongkat unggul yang masih terpelihara dengan baik.

3. Situs Sumur Kumbang juga memiliki nilai sejarah perkembangan wilayah permukiman

ilustrasi permukiman warga di sekitar gunung (pexels.com/ Tom Fisk)
ilustrasi permukiman warga di sekitar gunung (pexels.com/ Tom Fisk)

Situs Sumur Kumbang juga memiliki nilai sejarah dalam perkembangan wilayah permukiman. Berdasarkan penuturan masyarakat adat, pada tahun 1820 pernah terjadi penyerahan hak pengelolaan wilayah dari pemimpin bergelar Syahbandar Lampung kepada tokoh lokal bernama Jaya yang bergelar Saling.

Peristiwa tersebut menjadi simbol terciptanya kerukunan dan tata kelola wilayah yang damai di kawasan sekitar Sumur Kumbang. Sejak saat itu, masyarakat memegang teguh amanat adat untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut.

Terdapat pantangan yang diwariskan secara turun-temurun agar tidak merusak atau mengganggu kemaslahatan lahan tanpa izin keturunan pemangku adat. Amanat tersebut diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap pesan para leluhur sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam.

Karena nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang melekat pada situs tersebut, pemeliharaan Sumur Kumbang beserta Tongkat Pusaka diwariskan secara turun-temurun melalui garis keturunan laki-laki keluarga pemangku adat. Tradisi itu terus dijaga sebagai bagian dari ikhtiar melestarikan warisan budaya masyarakat di lereng Gunung Rajabasa.

4. Ruwat Bumi Desa Sumur Kumbang 31 Juli 2026

ilustrasi kalender (pexels.com/LeelooTheFirst)
ilustrasi kalender (pexels.com/LeelooTheFirst)

Pelaksanaan tradisi Ruwat Bumi Desa Sumur Kumbang dijadwalkan berlangsung 31 Juli 2026 mendatang. Untuk itu, jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menelusuri jejak sejarah Sumur Kumbang sebagai bagian dari persiapan

Penelusuran sejarah dilakukan melalui kunjungan langsung ke situs Sumur Kumbang di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Selasa (21/7/2026). Kegiatan dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Darmawan, didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, bersama jajaran perangkat daerah terkait.

Melalui penelusuran sejarah ini, Pemkab Lampung Selatan berharap pelaksanaan Ruwat Bumi 2026 tidak hanya menjadi agenda adat tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat pelestarian sejarah lokal serta memperkenalkan kekayaan budaya Lampung Selatan kepada masyarakat yang lebih luas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More