Smart BRT Itera Meluncur, Uji Coba Transportasi Cerdas di Lampung

- Itera meluncurkan Smart BRT Trans Lampung sebagai transportasi cerdas pertama di provinsi tersebut, beroperasi dari Kota Baru hingga Mal Boemi Kedaton untuk mengurangi kemacetan dan mendukung mobilitas modern.
- Smart BRT difungsikan ganda sebagai sarana transportasi umum dan media pembelajaran mahasiswa dalam pengembangan teknologi transportasi, perencanaan wilayah, serta sistem pemantauan real-time berbasis e-money.
- Program ini diapresiasi pemerintah daerah karena mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi massal dengan tarif Rp5 ribu, energi ramah lingkungan, dan integrasi layanan digital.
Lampung Sslatan, IDN Times – Institut Teknologi Sumatera (Itera) resmi meluncurkan Smart Bus Rapid Transit (BRT) Trans Lampung, Selasa (28/4/2026).
Rektor Itera, I Nyoman Pugeg Aryantha, mengatakan moda transportasi massal ini mulai beroperasi dengan rute Kota Baru hingga Mal Boemi Kedaton.
"Peluncuran ini menjadi langkah awal pengembangan transportasi modern berbasis teknologi di Provinsi Lampung. Sekaligus menjawab persoalan kemacetan akibat tingginya penggunaan kendaraan pribadi," katanya.
1. Bukan sekadar transportasi, tapi sarana pembelajaran

Pugeg menyebut, Smart BRT tidak hanya difungsikan sebagai angkutan umum, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa.
Menurutnya, sistem ini akan dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu transportasi, perencanaan wilayah, hingga teknologi berbasis pemantauan real-time.
“Ini kami jadikan model pembelajaran. Mahasiswa bisa terlibat langsung dalam pengembangan sistem transportasi masa depan,” ujarnya.
2. Pembayaran nontunai

Pugeg mengatakan, dari total 10 unit bus yang telah disiapkan, saat ini baru tiga unit dioperasikan sebagai tahap awal.
“Ini masih tahap awal, dari 10 bus yang ada baru tiga yang kita operasikan. Nanti akan kita kembangkan bertahap,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan pembayaran akan dilakukan menggunakan e-money. "Pembayaran menggunakan e-money (tap). Transportasi ini juga dirancang mendukung isu keberlanjutan dengan penggunaan energi ramah lingkungan serta integrasi dengan transportasi internal kampus," tambahnya.
3. Dorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi massal

Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Hukum dan Politik, Yanyan Ruchyansyah, menilai kehadiran Smart BRT menjadi bagian dari transformasi besar sistem transportasi di Lampung.
Ia menegaskan, pertumbuhan kendaraan pribadi yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan telah memicu kemacetan, polusi udara, hingga inefisiensi energi.
“Kalau transportasi lancar, ekonomi bergerak dan produktivitas meningkat. Sebaliknya, kemacetan justru menambah biaya dan membuang waktu masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi teknologi seperti sistem pelacakan dan pembayaran digital dalam meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.
4. Tarif Rp5 ribu, dinilai sudah memenuhi standar transportasi publik

Kepala BPTD Kelas II Lampung, Jonter Sitohang, mengapresiasi langkah Itera yang menjadi kampus pertama di Indonesia mengembangkan BRT secara mandiri.
Ia menjelaskan, transportasi umum idealnya memiliki tiga indikator utama, yakni keandalan, jangkauan luas, dan tarif terjangkau.
“Untuk tarif 5 ribu ini sudah sangat terjangkau. Tinggal bagaimana ke depan frekuensi dan rutenya diperluas,” katanya.
Ia berharap, Smart BRT dapat meningkatkan mobilitas civitas akademika sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

















