Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siaga El Nino Godzilla, Lampung Waspada Ancaman Pangan dan Kesehatan
ilustrasi sawah kering yang menunjukkan dampak perubahan iklim di negara berkembang (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)
  • Pemprov Lampung meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi El Nino Godzilla 2026 yang diprediksi berdampak besar pada sektor pertanian, perkebunan, dan ekonomi daerah.
  • Pemerintah daerah memperkuat koordinasi dengan BMKG dan BBWS untuk mitigasi kekeringan, menjaga stabilitas produksi pangan, serta ketahanan ekonomi masyarakat.
  • Wakil Gubernur menyoroti ancaman kesehatan dan lingkungan seperti ISPA, krisis air bersih, serta Karhutla, sambil mendorong percepatan masa tanam dan penguatan cadangan pangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino ekstrem atau disebut “El Nino Godzilla” diprediksi berdampak besar terhadap produksi pangan dan perekonomian daerah.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menekankan, Lampung harus bersiap menghadapi fenomena cuaca diperkirakan terjadi mulai Mei hingga September 2026 tersebut. Kondisi ini diperkirakan berdampak luas terutama pada sektor pertanian, perkebunan, dan hortikultura.

“Fenomena El Nino ini akan sangat mempengaruhi produksi pangan kita. Karena itu, kita harus kompak, bersinergi, dan berkolaborasi dalam melakukan langkah mitigasi sejak dini,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

1. Dampak luas, dari gagal panen hingga ekonomi daerah

Rapat Koordinasi Mitigasi El Nino di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung. (Dok. Pemprov Lampung).

Berdasarkan data BMKG, Mirza menyebutkan, sebagian besar wilayah Lampung akan mulai memasuki musim kemarau sejak Mei, dengan puncak pada Juli hingga September. Curah hujan rendah berpotensi memicu kekeringan di berbagai daerah.

Menurutnya, Lampung sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional memiliki peran strategis, terutama dalam komoditas padi, jagung, dan singkong.

“Bukan hanya kepada masyarakat Lampung, ini juga menjadi tanggung jawab kita terhadap masyarakat luar yang selama ini menikmati hasil panen dari Lampung,” katanya.

Lebih lanjut ia mencontohkan, jika produksi jagung menurun, maka akan berdampak pada kenaikan harga pakan ternak yang berujung pada naiknya harga ayam dan telur. “Pertumbuhan ekonomi Lampung sangat ditopang oleh tiga komoditas utama. Jika produksi dan harga terganggu, maka pertumbuhan ekonomi juga akan ikut menurun,” lanjut dia.

2. Pemprov perkuat koordinasi dan langkah mitigasi

Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Pyae Phyo Aung)

Mirza melanjutkan, Pemprov Lampung hingga kini terus intens berkoordinasi dengan BMKG dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), untuk memperkuat langkah antisipasi bersama pemerintah daerah dan stakeholder lainnya.

Maka dari itu, ia menekankan keterlibatan seluruh kepala daerah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas produksi pangan dan ketahanan ekonomi masyarakat.

“Kehadiran saya dan wakil gubernur menandakan ini menjadi perhatian serius. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menjaga hajat hidup orang banyak,” tegasnya.

3. Ancaman juga sasar ke kesehatan dan lingkungan

Rapat Koordinasi Mitigasi El Nino di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung. (Dok. Pemprov Lampung).

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela menambahkan, fenomena El Nino Godzilla juga berdampak pada sektor kesehatan dan lingkungan.

Menurutnya, Lampung sebelumnya berhasil meningkatkan produksi padi dari 2,73 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2024 menjadi 3,25 juta ton GKG pada 2025. Capaian ini harus dijaga di tengah ancaman kekeringan.

“Ini capaian yang harus kita jaga, apalagi Lampung adalah salah satu lumbung pangan nasional,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan potensi meningkatnya kasus ISPA, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat kondisi cuaca kering. “Kesiapsiagaan Karhutla juga harus ditingkatkan melalui pemantauan hotspot, patroli rutin, serta respons cepat di wilayah rawan. Dalam kondisi tertentu, rekayasa cuaca juga perlu dipertimbangkan,” ucapnya.

4. Dorong percepatan masa tanam

Masa tanam kedua dimulai di Kecamatan Mijen Kota Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Sejalan dengan serangkaian upaya mitigasi tersebut, Jihan menambahkan, Pemprov Lampung juga mendorong percepatan masa tanam sebelum musim kemarau, serta penguatan cadangan pangan daerah.

“Langkah tindak lanjut harus segera dilakukan secara jelas, mulai dari penetapan status siaga, koordinasi rutin antar OPD, hingga integrasi sistem peringatan dini berbasis data sampai ke tingkat daerah,” imbuh Wagub.

Editorial Team