Status GAK Siaga, BPBD Lampung Pastikan Penyeberangan Bakauheni Aman

- Status Gunung Anak Krakatau naik ke Level III (Siaga), namun BPBD Lampung memastikan jalur penyeberangan Bakauheni–Merak tetap aman dan beroperasi normal.
- Dalam beberapa waktu terakhir terjadi gempa Magnitudo 4,0–5,6 di sekitar Selat Sunda, tetapi belum ada rekomendasi penutupan jalur pelayaran dari pihak berwenang.
- Masyarakat diminta menjauhi radius 3–5 km dari kawah aktif GAK serta memantau informasi resmi BPBD dan PVMBG untuk mendapatkan update akurat.
Bandar Lampung, IDN Times - Status Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkat dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama terkait keamanan jalur penyeberangan Bakauheni-Merak di Selat Sunda. Masyarakat diminta tidak panik, karena aktivitas penyeberangan hingga kini masih berlangsung normal dan dinyatakan aman.
Analis Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza mengatakan, peningkatan status Gunung Anak Krakatau telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) setelah terjadi peningkatan aktivitas erupsi.
"Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Meski demikian, berdasarkan rekomendasi PVMBG, jalur penyeberangan Merak-Bakauheni maupun Bakauheni-Merak tetap aman dan masih dapat digunakan seperti biasa," ujarnya dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
1. Sempat terjadi gampa Magnitudo 4.0 hingga 5.6

Faresha menyampaikan, dalam beberapa waktu terakhir wilayah Selat Sunda juga beberapa kali diguncang gempa bumi dengan magnitudo di atas 4.0. Di antaranya gempa berkekuatan Magnitudo 4,2 di wilayah Lampung Selatan pada 2 Juli.
Kemudian Magnitudo 5,1 berpusat di Selat Sunda pada hari yang sama, serta Magnitudo 5,6 pada 8 Juli yang berpusat di Selat Sunda dan mengarah ke wilayah Banten.
"Sejumlah gempa ini bahkan sempat dirasakan masyarakat di beberapa daerah di Lampung. Meski begitu, hingga kini belum ada rekomendasi penutupan jalur pelayaran di Selat Sunda akibat aktivitas vulkanik maupun kegempaan tersebut," ucapnya.
2. Hindari Gunung Anak Krakatau dalam radius 3-5 kilometer

Faresha turut mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi rekomendasi PVMBG, yakni tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer hingga 5 kilometer dari kawah aktif karena berpotensi membahayakan keselamatan.
Selain itu, masyarakat diminta terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber informasi resmi, seperti Magma Indonesia, Badan Geologi Kementerian ESDM, maupun kanal informasi BPBD Provinsi Lampung.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Pantau perkembangan melalui kanal resmi agar memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," ucapnya.
3. Ajak masyarakat pantau informasi resmi

Faresha menambahkan, BPBD Provinsi Lampung juga terus menyebarluaskan pembaruan informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui media sosial dan kanal WhatsApp resmi.
"Kami imbau agar masyarakat dapat memperoleh perkembangan terbaru secara cepat, untuk sama-sama meningkatkan kewaspadaan," imbuhnya.




















