Sayuran Donasi Terbuang, Anak Panti di Lampung Diajak Bikin Mi Bergizi

- Panti Asuhan Darul Amanah kerap menerima donasi kangkung, bayam, dan sawi yang tak habis dimakan karena anak-anak lebih menyukai mi instan, sehingga sebagian sayuran layu dan terbuang.
- Tim dosen Teknologi Industri Pertanian Itera melatih anak-anak dan pengurus panti mengolah sayuran menjadi mi basah, untuk menambah serat, vitamin, antioksidan, serta membuat makanan lebih menarik.
- Peserta mempraktikkan pembuatan hingga pengemasan mi menggunakan plastik food grade dan heat sealer; keterampilan ini diharapkan menjadi bekal anak-anak serta peluang pengembangan usaha panti.
Lampung Selatan, IDN Times - Sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi menjadi salah satu donasi yang diterima Panti Asuhan Sosial Anak Darul Amanah, Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. Namun, sayuran tersebut tidak selalu habis dikonsumsi karena sebagian anak lebih menyukai mi instan.
Sehingga, ada sayuran yang layu sebelum sempat dimanfaatkan. Persoalan itu kemudian menjadi alasan tim dosen Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Institut Teknologi Sumatera (Itera), menggelar pelatihan. Melalui program bertajuk “Pemberdayaan Anak Panti Asuhan Darul Amanah melalui Inovasi Mi Bergizi Berbasis Sayuran”.
Anak-anak dan pengurus panti diajak mengolah sayuran menjadi mi basah bergizi.
1. Mi jadi cara memanfaatkan sayuran yang tidak habis

Ilustrasi anak makan mie (freepik.com/freepik) Tim PkM yang diketuai Amalia Afifah memanfaatkan kangkung, bayam, dan sawi sebagai bahan tambahan dalam adonan mi basah. Cara ini dipilih karena mi menjadi makanan yang lebih disukai anak-anak dibandingkan sayuran dalam bentuk aslinya.
"Anak-anak menyukai mi sehingga kami mengombinasikan preferensi tersebut dengan kebutuhan gizi melalui penambahan sayuran ke dalam adonan mi basah,” ujarnya.
Menurut Amalia, penambahan sayuran membuat mi memiliki warna yang lebih menarik sekaligus menambah kandungan serat, vitamin, dan antioksidan. Program yang didanai melalui Skema Kelompok Keilmuan Itera 2026 tersebut sekaligus menjadi upaya memanfaatkan donasi sayuran agar tidak berakhir terbuang.
2. Anak-anak praktik langsung membuat mi

ilustrasi mi instan (pexels.com/MART PRODUCTION) Amalia menjelaskan, selama pelatihan, peserta mengikuti proses pembuatan mi dari awal hingga siap direbus. Mereka mempraktikkan blanching atau pemanasan singkat sayuran, membuat ekstrak sayur, mencampurkan bahan hingga adonan menjadi kalis, mencetak mi, kemudian merebusnya.
"Setiap tahapan diperkenalkan dengan teknik sederhana dan tetap memperhatikan kebersihan selama proses produksi. Jadi, peserta tidak hanya melihat demonstrasi, tetapi ikut mencoba langsung bagaimana sayuran dapat diolah menjadi produk mi basah," jelasnya
3. Belajar mengemas, bisa jadi bekal usaha panti

ilustrasi mie (pexels.com/Mateusz Feliksik) Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan keterampilan pengemasan. Peserta diperkenalkan pada penggunaan plastik food grade dan heat sealer yang dapat membantu memperpanjang daya simpan mi sekaligus meningkatkan nilai jual produk.
Pengurus Panti Asuhan Darul Amanah, Suzana, menyambut baik pelatihan tersebut. Menurutnya, keterampilan mengolah dan mengemas mi dapat menjadi bekal bagi anak-anak sekaligus membuka peluang pengembangan usaha panti.Ia berharap, keterampilan tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari life skill anak-anak dan berpotensi menjadi usaha panti.





















