PWI: Dikritik Publik Berita ‘Ngawur’, Jurnalis Belum Kuasai Jurnalistik

Pesawaran, IDN Times – Kinerja jurnalis dikritik masyarakat karena menyampaikan berita “ngawur” dari segi penulisan ataupun dari segi substansi. Kemungkinan besar jurnalis tersebut belum memahami dan menguasai dasar-dasar jurnalistik.
Untuk itu, dasar-dasar jurnalistik jangan pernah disepelekan jurnalis. Justru menjadi pedoman utama.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Bidang Pembelaan PWI Lampung, Juniardi, saat menjadi pembicara Diklat Jurnalistik, KWRI Pesawaran.
1. Tak sekadar menulis berita tapi pahami aturan jurnalistik

Juniardi mengatakan, seorang jurnalis wajib memahami dan menguasai dasar-dasar jurnalistik agar dapat menjalankan aktivitas jurnalistik dengan tepat. Jurnalis profesional tidak sekadar bisa menulis berita, tetapi juga memahami serta menaati aturan yang berlaku di dunia jurnalistik, terutama Kode Etik Jurnalistik.
Menurutnya, definisi, makna, atau pengertian jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudut pandang yaitu secara harfiah, konseptual atau teoretis, dan fraktis. Secara harfiah, jurnalistik artinya kewartawanan atau kepenulisan.
“Kata dasarnya “jurnal” artinya laporan atau catatan. Asal-muasal kata jurnalistik dari bahasa Yunani Kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak," kata mantan Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung ini dalam pernyataan tertulis, Selasa (17/8/2021).
2. Secara konseptual dari tiga sudut pandang

Juniardi menyatakan, secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, mulai dari proses, teknik, dan ilmu. Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).
Sebagai teknik, jurnalistik adalah keahlian atau keterampilan menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature). Termasuk keahlian pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.
Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. "Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri," kata alumni Magister Hukum Unila ini.
Ia menambahkan, sebagai ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi. Itu ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.
3. Tiga hal utama dasar jurnalistik

Terkait dasar-dasar jurnalistik, Juniardi menyatakan meliputi tiga hal. Pertama wawasan, yaitu dasar-dasar teori jurnalistik dalam hal pengetahuan
Ia menyatakan, kata kunci dalam dasar-dasar jurnalistik antara lain pengertian jurnalistik, asal-usul kata jurnalistik, sejarah jurnalistik, produk jurnalistik (berita, artikel opini, featured, termasuk foto jurnalistik dan video jurnalistik). Selain itu, narasumber atau sumber berita, jenis-jenis berita, jenis-jenis feature, jenis-jenis artikel opini (editorial, pojok, karikatur), manajemen redaksi, struktur organisasi media, jenis-jenis media, angle berita, delik pers.
Kedua, keahlian, yakni keterampilan penulisan berita yang merupakan produk utama jurnalistik sekaligus karya utama wartawan. Keahlian juga mencakup teknik pencarian berita atau teknik reportase (wawancara, riset data, observasi atau pengamatan langsung ke tempat kejadian), dan penggunaan bahasa jurnalistik (bahasa pers/bahasa media) dalam menulis berita.
Ketiga adalah etika. Dasar Jurnalistik dalam hal sikap secara normatif diatur dalam UU No. 40/1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Pemberitaan Media Siber untuk wartawan dan media Online, serta etika jurnalistik secara umum sebagaimana tercantum di Elemen Jurnalisme.
4. Soroti kelayakan sebuah peristiwa diberitakan

Juniardi menyatakan, harus dipahami jurnalis adalah produk utama jurnalistik adalah berita. Karena aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature.
"Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa," ujar Pemimpin Redaksi Sinarlampung.co ini.
Ia juga menyoroti kelayakan sebuah peristiwa diberitakan atau tidak, diukur dengan parameter nilai berita (News Values), yaitu aktual, faktual, penting, dan menarik. “Selain itu, fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H menggunakan bahasa jurnalistik spesifik, kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif yaitu jelas, langsung ke pokok masalah, dan mudah dipahami orang awam,” papar Juniardi.



















