Pilkada Lampung Mayoritas Petahana Tumbang, Ini Kata Akademisi Unila

- Pemilihan kepala daerah di Lampung telah selesai digelar pada 27 November 2024.
- Hasil survei menunjukkan mayoritas petahana kalah, menunjukkan kuasa masyarakat dalam memvonis pemimpin yang layak.
- Masyarakat menginginkan pemimpin baru yang membawa perubahan dan benar-benar meneruskan amanah rakyat.
Bandar Lampung, IDN Times - Pemilihan kepala daerah gubernur dan wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota serta bupati dan wakil bupati sudah selesai digelar Rabu, (27/11/2024). Sembari menunggu hasil resmi dari penyelenggara Pilkada Komisi Pemilihan Umum (KPU), para calon pemimpin dan masyarakat sudah diberi gambaran hasil perolehan suara dari berbagai lembaga survei.
Di Lampung, mayoritas perolehan suara petahana kalah telak dari para kontestan baru Pilkada tahun ini. Merujuk hasil tersebut menurut Akademisi Hukum Tatanegara Universitas Lampung, Yusdiyanto, menjadi bukti masyarakat memiliki kuasa dalam memvonis siapa yang layak untuk melanjutkan menjadi pemimpin daerah.
“Itu artinya demokrasi ini kuasanya ada di masyarakat. Jadi masyarakat yang menentukan bahwa orang tersebut pantas dilanjutkan atau tidak. Kenapa para petahana kurang menghasilkan suara, karena rakyat punya kuasa," kata Yusdiyanto kepada IDN Times, Kamis, (28/11/2024).
1. Masyarakat menginginkan pemimpin benar-benar meneruskan amanah rakyat

Menurut Yusdiyanto, masyarakat juga mempertimbangkan dari program yang dilakukan petahana lima tahun belakangan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Kemudian, rakyat juga khawatir, jika petahana kembali memimpin kondisinya tidak akan berubah. Atas dasar itu, masyarakat menginginkan pemimpin yang membawa angin segar dan benar-benar meneruskan amanah rakyat.
“Ini menjadi catatan bagi pendatang baru yang sudah dipilih rakyat, harus segera mewujudkan visi misi dan memberikan bukti nyata yang dijanjikan. Karena pada akhirnya masyarakat akan secara langsung memberikan penilaian di saat demokrasi itu berjalan,” ujarnya.
2. Bisa jadi masyarakat trauma dengan kepemimpinan petahana

Menurutnya, fenomena petahana tumbang ini juga terjadi di tahun -tahun sebelumnya, sehingga menjadi bukti masyarakat sudah trauma dengan calon petahana. Itu karena eksprektasi dengan apa yang dilakukan berbanding terbalik.
“Ini merupakan semacam penilaian yang langsung dilakukan masyarakat dan dari aspek hukum ini juga bentuk pertanggung jawaban dari petahan pada masyarakat,” tuturnya.
Yusdianto menyampaikan, pilihan masyarakat pada kontestan Pilkada baru ini bisa jadi karena kampanye dilakukan sukses meyakinkan masyarakat akan ada hari esok yang lebih baik.
“Jadi itu sebuah tampilan yang dikemas sedemikan rupa untuk menarik perhatian masyarakat,” ujarnya.
3. Para pemimpin terpilih jangan jumawa, segera rumuskan program dijanjikan

Yusdianto berharap, partisipasi masyarakat tidak hanya berhenti pada proses pemungutan suara saja, melainkan terus mengawal dan menjaga situasi hingga proses penghitungan suara dilakukan penyelenggara Pilkada KPU dan Bawaslu.
“Harapannya KPU dan bawaslu bisa profesional dan menjaga reputasi, marwah serta martabatnya sebagai penyelenggara. Sehingga, tidak ada semacam penggelembungan suara atau pelanggaran hukum untuk memanipulasi suara rakyat. Mari semua rakyat terus mengawal, bukan sekadar memberikan suara tapi bagaimana mengawal suara itu,” pintanya.
Yusdianto juga berpesan agar tidak lagi melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi mensinergikan dan mendukung siapa pun yang berdiri menjadi pemimpin daerah. Sehingga, proses Pilkada tersebut bisa membawa kemajuan dan membawa harapan dari apa yang sudah dimandatkan masyarakat.
“Para pemimpin terpilih jangan jumawa, segera rumuskan program yang betul mencirikan kebutuhan masyarakat,” tandasnya.



















