Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Politik Uang Dinilai Kurang Efektif, Pemilih Lampung Semakin Rasional

Politik Uang Dinilai Kurang Efektif, Pemilih Lampung Semakin Rasional
Indikator Politik Indonesia telah menghimpun data hitung cepat (quick count) Pemilihan Gubernur Lampung 2024. (IDN Times/Muhaimin Abdullah).
Intinya Sih
  • Politik uang kurang efektif di Lampung
  • Mayoritas pemilih menolak praktik politik uang
  • Pemilih lebih dipengaruhi oleh program dan kualitas kandidat
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandar Lampung IDN Times – Praktik politik uang dinilai sudah kurang efektif untuk digunakan kepada para pemilih yang ada di Lampung untuk meraup suara.

Hal tersebut disampaikan Senior Peneliti Indikator Politik Indonesia, Agus Trihartono. Ia menyebut, politik uang di provinsi ini memiliki efektifitas yang rendah.

"Dari empat amplop yang diberikan kepada pemilih, hanya satu yang efektif memengaruhi pilihan. Artinya, untuk mendapatkan satu suara, kandidat harus mengeluarkan empat amplop," katanya.

1. Demokrasi mulai tumbuh

Petugas membantu pemilih memasukkan surat suara ke kotak suara di TPS 01 Pejanggik, Rabu (27/11/2024). (IDN Times/Muhammad Nasir)
Petugas membantu pemilih memasukkan surat suara ke kotak suara di TPS 01 Pejanggik, Rabu (27/11/2024). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Meskipun begitu, hasil survei menunjukkan masih ada 39,5 persen pemilih di Lampung yang menganggap politik uang sebagai hal wajar. Namun, mayoritas, yaitu 55,8 persen, menilai praktik tersebut tidak wajar dan tidak dapat diterima.

"Secara umum, 6 dari 10 pemilih di Lampung menolak politik uang, menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya demokrasi yang bersih mulai tumbuh," tambah Agus.

2. Pemilih cenderung ikut kata hati

Calon Gubernur Lampung nomor urut 02, Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (27/11/2024). (IDN Times/Martin L Tobing).
Calon Gubernur Lampung nomor urut 02, Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (27/11/2024). (IDN Times/Martin L Tobing).

Agus menyatakan, dari pemilih yang menerima politik uang tersebut, ada sebanyak 56 persen di antaranya tetap memilih berdasarkan hati nurani.

"Banyak pemilih yang menerima uang, tetapi tidak mengubah pilihan mereka. Ini membuktikan bahwa politik uang semakin tidak relevan di Lampung," ujarnya.

3. Pemilih bisa lebih rasional

ilustrasi larangan penambahan uang atau riba (sumber: freepik.com/brgfx)
ilustrasi larangan penambahan uang atau riba (sumber: freepik.com/brgfx)

Agus menilai, efektifitas politik uang di Lampung terus menurun, seiring meningkatnya rasionalitas pemilih. Ia optimis ke depan praktik ini akan semakin ditinggalkan.

"Pemilih di Lampung semakin cerdas. Keputusan mereka lebih dipengaruhi oleh program dan kualitas kandidat, bukan uang. Tidak menutup kemungkinan kedepan akan lebih rasional," ucapnya.

Ia menuturkan, meskipun praktik politik uang masih ada, tampaknya mulai kehilangan tempat di tengah masyarakat Lampung semakin sadar akan pentingnya pemilu jujur dan adil.

Share Article
Topics
Editorial Team
Muhaimin Abdullah
Martin Tobing
Muhaimin Abdullah
EditorMuhaimin Abdullah

Latest News Lampung

See More