SPBU Satu Harga Napas Baru Petani Lumbok Seminung, dari Perjalanan 35 Km ke Liwa Menjadi 500 Meter

SPBU Satu Harga Lumbok Seminung memangkas akses BBM warga dari perjalanan hingga 35 kilometer ke Liwa menjadi lebih dekat, mendukung mobilitas petani, pengemudi, dan pengangkutan hasil bumi.
Harga resmi Pertalite Rp10 ribu per liter membantu warga menghemat dibanding bensin eceran Rp12–14 ribu, meski stok Pertalite kadang kosong selama dua hingga tiga hari.
SPBU yang beroperasi sejak Agustus 2022 juga membuka pekerjaan lokal, melayani BBM bersubsidi dengan barcode, serta menjadi satu dari enam SPBU Satu Harga di Lampung Barat.
Lampung Barat, IDN Times - Pagi belum sepenuhnya membuka mata ketika Heri Mulyadi mulai menapaki hari. Di atas sepeda motornya, petani alpukat dan kakao asal Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat itu berkendara menyusuri jalan menuju kebun, tempat harapan tumbuh di antara pepohonan dan tanah yang ia rawat dengan kesabaran.
Dahulu, perjalanan berkendara motor ke kebun bukan satu-satunya urusan yang harus ia pikirkan. Ada pula hal lain yaitu bahan bakar yang kerap menyita waktu dan tenaga. Ketika tangki motornya mulai menipis, Heri hanya punya dua pilihan, membeli Pertalite eceran dengan harga yang belum tentu bersahabat, atau menempuh perjalanan 35 Kilometer (Km) atau sekitar satu setengah jam menuju SPBU di Kota Liwa.
Kini, keadaan itu perlahan berubah. Kehadiran SPBU Satu Harga 26.348.13 yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya membawa kelegaan tersendiri bagi Heri. “Tak perlu lagi tempuh satu setengah jam dari rumah ke Liwa isi bensin. Sekarang jarak (SPBU Satu Harga) cuma 500 meter dari rumah,” jelasnya saat diwawancarai IDN Times, Kamis (17/9/2026).
Hadirnya SPBU Satu harga menurut Heri, selain untuk transportasi mengantar hasil bumi, bahan bakar juga digunakan untuk perawatan kebun. “Saya pakai untuk alat steam perawatan kebun alpukat dan cokelat butuh BBM juga,” katanya.
Selain lokasi SPBU Satu Harga jaraknya dekat dengan tempat tinggal, Heri mengatakan ia bisa menghemat hingga Rp50 ribu per satu kali isi bahan bakar Pertalite. “Efisien ini dalam artian, kalau beli (bensin) eceran rata-rata 13 ribu atau 14 ribu per liter lebih mahal dari harga resmi 10 ribu per liter. Kalau isi bensin di Liwa, selain waktu, juga keluar uang untuk biaya lainnya,” ujarnya.
Hadirnya SPBU Satu Harga di Pekon Suka Maju, pria berusia 40 tahun ini kini rata-rata mengisi BBM Pertalite tiga liter. Terkadang, saat Pertalite tidak tersedia, ia membeli Pertamax. “Kalau ditanya kendala BBM Satu Harga di sini, dalam sebulan mesti ada dua sampai tiga hari stok (Pertalite) kosong, gak masalah juga isi Pertamax,” kata Heri.
Membantu Mengurangi Beban Perjalanan Pengemudi

Pengemudi Bus Damri sedang mengisi bahan bakar di SPBU Satu Harga 26.348.13 berlokasi di Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing). Pendapat senada disampaikan Pendi, warga Pekon Lombok Timur, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat. Ia senang SPBU Satu Harga beroperasi di kecamatan setempat jaraknya dekat dari rumahnya.
Sebelum SPBU tersebut beroperasi, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam menggunakan mobil menuju Liwa untuk membeli bahan bakar. Kini, jarak dari rumahnya menuju SPBU hanya sekitar 15 menit.
Sebelum ada SPBU, Pendi mengaku membeli bensin eceran dengan harga Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per liter. Adanya SPBU Satu Harga, ia memperkirakan kini hemat setidaknya Rp4 ribu per liter.
“Beli Pertalite untuk mobil rata-rata saya sekitar 10 liter bisa sampai tiga hari, hemat biaya isi BBM diperkirakan 30 ribu. Tapi kalau perjalanan jauh antar hasil bumi, isi hingga penuh. Untuk membeli Pertalite di SPBU sini juga sama, pakai aplikasi dengan sistem barcode,” jelas petani sayur ini.
Pendi tak menampik, keberadaan SPBU Satu Harga sangat membantu masyarakat karena pasokan BBM relatif tersedia. Kalaupun stok kosong, menurut dia, biasanya hanya berlangsung sekitar dua hari.
Selain itu, hadirnya SPBU Satu Harga di Lumbok Seminung membuat antusias masyarakat mengisi bahan bakar meningkat lantaran sebelumnya membeli bahan bakar secara eceran. Meskipun ada suatu kondisi antrean kendaraan di SPBU mengisi bahan bakar, tapi masih dalam batas wajar. Apalagi, harga BBM di SPBU tersebut sama dengan harga di Liwa.
Ia menambahkan, sebelum SPBU beroperasi, masyarakat tidak hanya menghadapi harga bensin eceran yang lebih mahal, tetapi juga persoalan kualitas bahan bakar. Pendi mengaku pernah menemukan bensin yang diduga oplosan atau bercampur minyak mentah yang dijual oleh pengecer ketika Pertalite sulit diperoleh.
Cerita lainnya terkait SPBU Satu Harga di wilayah Lumbok Seminung disampaikan M Mabriadi, pengemudi bus DAMRI rute Liwa–Lombok. Ia bercerita, sebelum SPBU Satu Harga beroperasi sekitar setahun lalu, harus mengisi BBM di Liwa ketika pasokan BBM bus menipis. Kondisi itu membuatnya harus menghadapi antrean kendaraan yang panjang, bahkan bisa mencapai dua jam.
Kini, kehadiran SPBU Satu Harga menjadi angin segar bagi Mabriandi. Ia tak selalu harus bergantung pada SPBU di Liwa untuk mengisi bahan bakar. Meski ketersediaan stok di SPBU setempat terkadang belum menentu, keberadaannya setidaknya memberi pilihan lebih dekat dan membantu mengurangi waktu yang terbuang di perjalanan.
Mabriandi mengatakan, mengisi BBM di SPBU Lumbok Seminung sekitar dua kali dalam sepekan, bergantung pada ketersediaan stok. Dalam sekali pengisian, ia biasanya mengeluarkan uang sekitar Rp250 ribu untuk memperoleh kurang lebih 30 liter bahan bakar.
Menurut Mabriandi, keberadaan SPBU Satu Harga membantu mengurangi beban perjalanan pengemudi, terutama karena mereka tidak selalu harus menuju Liwa untuk mendapatkan bahan bakar. Ia menilai fasilitas tersebut turut membantu mengurangi waktu yang terbuang akibat antrean saat mengisi BBM di Kota Liwa.
Hadirnya SPBU Satu Harga Berperan Penting Menunjang Aktivitas Masyarakat

Suasana SPBU Satu Harga 26.348.13 berlokasi di Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing). Keberadaan SPBU Satu Harga 26.348.13 Lumbok Seminung di Kabupaten Lampung Barat menjadi salah satu pilihan warga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Sebelum SPBU ini beroperasi pada Agustus 2022, masyarakat setempat umumnya membeli BBM eceran di kios-kios atau pergi ke Liwa jika membutuhkan bahan bakar dalam jumlah tertentu.
Beni Saputra, pengelola SPBU Lumbok Seminung, mengatakan jarak SPBU tersebut dengan SPBU lain di wilayah Liwa sekitar 35 kilometer. Kondisi itu membuat keberadaan SPBU Satu Harga berperan penting dalam menunjang aktivitas masyarakat, terutama warga Lumbok Seminung dan Sukau. “Dulu kebanyakan warga membeli BBM di kios-kios. Kalau ada keperluan, biasanya pergi ke Liwa,” ujar Beni.
Menurutnya, harga Pertalite yang dijual di kios-kios sebelumnya berkisar Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per liter. Sementara di SPBU Lumbok Seminung, Pertalite dijual sesuai harga yang berlaku, yakni Rp10 ribu per liter sedangkan Biosolar Rp6.800. Selisih harga tersebut membantu warga mendapatkan BBM dengan biaya lebih terjangkau dan berkualitas.
Beni mengatakan, mayoritas warga Kecamatan Lumbok Seminung mata pencarian sebagai petani dan pedagang. Untuk itu, SPBU ini tidak hanya melayani pengendara sepeda motor dan mobil pribadi, tetapi juga kendaraan angkutan barang yang membutuhkan solar untuk mengangkut hasil bumi.
Dari sisi penyaluran, rata-rata konsumsi harian di SPBU Lumbok Seminung mencapai sekitar 2.500 liter Pertalite, 700 liter Pertamax, dan 500 liter Biosolar. Namun, jumlah itu dapat berubah mengikuti tingkat keramaian dan kebutuhan konsumen. Aktivitas pasar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan pembelian BBM.
Beni menyebut, pasokan BBM sejauh ini berjalan lancar. Pengiriman dari Depot Baturaja dilakukan setiap dua hingga tiga hari sekali untuk menjaga ketersediaan stok bagi konsumen. “Pasokan lancar. Ramai juga, tetapi sejauh ini tetap lancar dan tidak ada antrean panjang,” katanya.
Selain itu menurut Beni, jam operasional SPBU disesuaikan dengan aktivitas masyarakat. Pada Senin hingga Kamis, SPBU buka pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Sementara Jumat, Sabtu, dan Minggu, jam operasional diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB karena biasanya lebih ramai pada akhir pekan.
Untuk pembelian BBM bersubsidi, konsumen yang memenuhi ketentuan juga diwajibkan menggunakan barcode sesuai aturan yang berlaku. Melalui layanan tersebut, SPBU Lumbok Seminung berupaya memenuhi kebutuhan BBM warga sekaligus mendukung mobilitas masyarakat dan angkutan hasil bumi di wilayah Lampung Barat.
Warga Lokal Bekerja sebagai Operator SPBU

Operator SPBU Satu Harga 26.348.13 berlokasi di Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat melayani pengisian bahan bakar minyak pengendara, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing). Bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari, keberadaan SPBU ini membuat akses BBM menjadi lebih dekat. Perubahan itu turut dirasakan Adeli Mustafiro, operator yang setiap hari melayani warga mengisi bahan bakar.
Adeli mengatakan, masyarakat menyambut baik kehadiran SPBU tersebut. Ia juga senang bisa ikut melayani warga yang kini memiliki pilihan lebih dekat untuk membeli BBM.
Apalagi, Adeli merupakan warga lokal sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. Hadirnya SPBU Satu Harga itu, kini ia dapat bekerja sebagai operator meski hanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Ditambah lagi, jarak rumah ke tempat kerja cukup dekat, hanya sekitar lima menit ke lokasi SPBU.
Sejak mulai bekerja sebagai operator 2025, Adeli melayani berbagai konsumen, mulai dari pengendara sepeda motor hingga pengguna mobil. Menurutnya, pembelian Pertalite oleh pengendara sepeda motor bisa mencapai 10 liter, tergantung kebutuhan masing-masing.
Dalam kesehariannya, Adeli bekerja hingga pukul 18.00 WIB dari Senin sampai Kamis. Dari balik layanan pengisian BBM, ia menyaksikan bagaimana kehadiran SPBU Satu Harga menjadi kemudahan baru bagi masyarakat Lumbok Seminung, terutama dalam mendapatkan bahan bakar yang sebelumnya harus dicari lebih jauh.
Enam SPBU Satu Harga Beroperasi di Kabupaten Lampung Barat

Operator SPBU Satu Harga 26.348.13 berlokasi di Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat melayani pengisian bahan bakar minyak pengendara, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing). Muhammad Alwan Azhari, Sales Branch Manager III Fuel Pertamina Patra Niaga Lampung menjelaskan, SPBU Satu Harga merupakan program khusus dari pemerintah. Misinya untuk menyeragamkan harga BBM subsidi Biosolar maupun Pertalite.
Di Provinsi Lampung, SPBU Satu Harga baru beroperasi di Kabupaten Lampung Barat. Jumlahnya enam SPBU di berbagai lokasi yakni, Kebun Tebu, Air Hitam, Pagar Dewa, Lumbok Seminung, Suoh, Gedung Surian. “Jadi ada yang lokasinya perbatasan dengan beberapa wilayah di Sumatera Selatan. Ada juga yang wilayah Lampung Barat tapi agak dalam ke arah Ulu Belu Tanggamus,” terangnya.
Dari segi fasilitas, SPBU Satu Harga di Lampung Barat rata-rata memiliki dua dispenser produk BBM Subsidi Pertalite dan Biosolar. “SPBU Satu Harga itu sebenarnya minimal satu dispenser dan satu produk. Jadi minimal mereka itu kita syaratkan untuk punya satu jenis produk saja, bisa Pertalite atau solar. Tapi kebetulan untuk di wilayah Lampung Barat ini, enam SPBU punya produk Pertalite dan Solar, bahkan ada juga menyediakan Pertamax sebagai produk non-subsidinya.
Terkait distribusi, Alwan mengatakan, menggunakan truk tangki reguler, tapi ukurannya disesuaikan dengan akses jalannya. Misalnya, ada mobil tangki ukuran kecil 5 kiloliter,8 kiloliter dan 16 kiloliter.
Selain distribusi, ia tak menampik, ada juga tantangan akses menuju lokasi SPBU Satu Harga. Ia mencontohkan, ada SPBU Satu harga akses kondisi jalan masih tanah. “Misal musim hujan, teman-teman dari awak mobil tangki itu harus menunggu informasi dari SPBU apakah jalannya itu masih bisa diakses atau sedang hujan berlumpur dan sebagainya. Oleh karena itu memang ini menjadi tantangan kami dalam menyalurkan BBM namun tetap dengan semangat agar BBM ini bisa sampai ke pelosok negeri,” paparnya.
Alwan menambahkan, respons masyarakat terkait SPBU Satu Harga sangat terbantu. Itu karena lokasinya di pelosok daerah. Kondisi itu berbeda sebelum ada SPBU Satu Harga, masyarakat ingin mengakses ke SPBU reguler itu butuh waktu satu hingga dua jam perjalanan..
“Oleh karena itu dengan BBM satu harga ini tujuan kita untuk mendekatkan bahan bakar ini ke masyarakat sehingga nanti masyarakat daerah 3T Terdepan, Terluar, Tertinggal pun tetap mendapatkan akses BBM yang sama seperti masyarakat yang ada di daerah perkotaan atau daerah yang ramai,” kata dia.
Dari sisi kuota penyaluran, Alwan menjelaskan, ditetapkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) selaku regulator dari BBM di Indonesia. Kuota saat ini bervariasi. Solar 100 hingga 200 Kiloliter per tahun. Sedangkan Pertalite 1.000 kiloliter per tahun. “Kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas ini kemudian kami salurkan secara proporsional agar tetap mencukupi kebutuhan di lokasi masing-masin di Lampung Barat,” urainya.
Lebih lanjut disampaikan Alwan, regulasi pengisian BBM subsidi di SPBU Satu Harga sama dengan SPBU reguler. Pemilik kendaraan wajib menunjukkan barcode digunakan untuk memverifikasi data kendaraan dan pemiliknya saat membeli BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar. Kuota pengisian Biosolar per satu mobil roda empat maksimal 60 liter per hari. Sedangkan tipe angkutan barang ada 80 liter, dan tipe truk 200. Sedangkan Pertalite maksimal 120 liter per hari.
Usulan Pemerintah Daerah Poin Penting Pembangunan SPBU Satu Harga di wilayah 3T

Suasana SPBU Satu Harga 26.348.13 berlokasi di Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing). SPBU Satu Harga saat ini baru beroperasi di Kabupaten Lampung Barat. Ke depan, ada rencana program serupa bakal diterapkan di Mesuji dan Tulang Bawang. Menurut Alwan, usulan pemerintah daerah menjadi poin penting pembangunan SPBU Satu Harga khususnya di daerah kategori 3T.
“Jadi Pertamina ini menerima penugasan apabila memang ada usulan dari pemerintah daerah terkait lokasi potensial untuk BBM Satu Harga. Itu bisa diusulkan melalui kementerian ESDM, kemudian nanti kementerian ESDM akan menugaskan Pertamina untuk melakukan pembangunan SPBU,” jelasnya.
Terkait pengelolaan menurut Alwan, SPBU Satu Harga dikelola pihak swasta. Tapi itu berdasarkan surat rekomendasi pemerintah daerah. Surat rekomendasi pemerintah daerah itu selanjutnya ditujukan ke Kementerian ESDM. Apabila disetujui, kementerian tersebut meneritkan surat keputusan yang menyatakan kecamatan di suatu wilayah bisa dibangun BBM Satu Harga.
“Setelah ada (SK) itu, mitra bisa mengajukan via web kemitraan Patraniaga untuk melengkapi berkas-berkas persyaratan seperti dokumen perusahaan. Kemudian ada rekening tabungan, dan data-data lain yang bisa kita akses di situs kemitraan.patraniaga.com,” jelas Alwan.
Dari segi cakupan wilayah, Alwan menyatakan idealnya satu SPBU Satu Harga area kerja mengcakup satu kecamatan masuk kategori wilayah 3T. Dari sisi penggunaan teknologi, operasional SPBU Satu Harga sedikit berbeda dengan SPBU reguler. Itu karena, ada kondisi SPBU Satu Harga itu lokasinya masuk wilayah 3T sinyal telekomunikasi kurang stabil. Di sisi lain, transaksi BBM subsidi Pertalite maupun Solar ini membutuhkan scan QR barcode.
“Jadi butuh sinyal yang kuat. Oleh karena itu di BBM satu harga ini,ada beberapa yang sistemnya itu kita sedikit bedakan. Jika scan barcode itu masih ada kendala, mereka (petugas SPBU) diperbolehkan untuk melakukan pencatatan secara manual dengan format yang sudah kita sediakan dan diupload secara berkala, bisa per hari atau per minggu ke database kami. Cara itu agar penyaluran BBM Subsidi tepat sasaran ke konsumen yang membutuhkan,” jelas Alwan.
























